Sidang Ahok: giliran pendukung Ahok serukan tangkap Rizieq Shihab

Ahok Hak atas foto RESA ESNIR / AFP
Image caption Gubernur non aktif Jakarta, Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama, bersama para pengacaranya, menyimak pemeriksaan saksi, dua anggota polisi.

Sidang dugaan penistaan agama dengan terdakwa gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,dilanjutkan Selasa (17/1) dengan agenda memeriksa sejumlah saksi pelapor.

Setidaknya enam saksi pelapor akan dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian di Ragunan, Jakarta Selatan.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara juga menghadirkan dua anggota polisi, Bripka Agung Hermawan dan Briptu Ahmad Hamdani, terkait berita acara pemeriksaan (BAP) saksi Willyudin, yang dinilai mengandung kejanggalan data.

Dalam BAP tercantum bahwa Willyudin melaporkan kasus Ahok terjadi pada 6 September 2016 dengan tempat kejadian di Tegallega, Bogor. Sementara peristiwa yang dipermasalahkan, saat Ahok menyebut-nyebut Al Maidah 51, terjadi pada 27 September.

Di luar persidangan, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, ratusan pendukung dan penentang Ahok menggelar mimbar bebas, dipisahkan dalam jarak 500 meter oleh polisi.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Para pendukung Ahok menggelar mimbar bebas dalam suana santai dan riang.

Sebagian besar pendukung Ahok mengenakan baju kota-kotak merah hitam putih yang merupakan identitas pasangan Ahok-Djarot dalam pemilihan gubernur. Sebagian lagi mengenakan beragam busana daerah. Mereka berunjuk rasa dengan santai, diwarnai tari-tarian.

Namun tak urung, terdengar seruan "Tangkap Habib Rizieq," merujuk pada Rizieq Shihab, pendiri Front Pembela Islam (FPI) yang memimpin berbagai gerakan anti-Ahok selama ini.

Nidya, seorang pendukung Ahok menyatakan, ia datang menyatakan dukungan, "karena tak percaya Ahok melakukan penistaan," katanya kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Nidya, bersama para pendukung Ahok lainnya.

Nidya juga menyesalkan kampanye anti pemimpin non Muslim untuk Pilkada DKI yang dilancarkan kalangan tertentu.

"Nyatanya banyak pemimpin Muslim yang juga tak jujur, tidak berbuat banyaka untuk warga, dan tidak membawa keadilan. Nah, kalau ada pemimpin non Muslim yang berkarya nyata bagi rakyat, ya saya dukung terlepas dari agamanya," kata Nidya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Para pendukung Ahok mengibarkan merah putih dan beraksi dengan berbagai tarian.

Sementara para penentang Ahok, menggunakan mobil mimbar, kembali menyerukan penangkapan Ahok, dan mengulang tudingan bahwa Ahok telah melecehkan agama Islam.

Seorang orator berseru: "Kita ingin syariah ditegakkan! Dan kita akan memperjuangkannya sampai mati!"

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Para penentang Ahok, dengan mobil mimbar mereka.

Sebagian pengunjuk rasa anti Ahok juga membawa berbagai bendera dengan aksara-aksara Arab.

Seorang perempuan bercadar, Sisi Marissa mengaku sebagai cucu sastrawan Marxis Pramoedya Ananta Toer mengatakan, ia terlibat dalam aksi ini, karena: "Gubernur Ahok telah menista kitab suci kami, jalan hidup kami. Meminta maaf tidaklah cukup. Kami tak bisa menerima pemimpin non-Muslim karena mereka tak paham aya yang diperlukan orang Muslim," katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sisi Marissa, yang mengaku adalah cucu sastrawan Marxis Pramoedya Ananta Toer menyebut bahwa pemimpin non Muslim tak mengerti kebutuhan kaum Muslimin.

Seorang penentang Ahok lain, Munawar bin Djafar Sidik menyatakan tegas: "Jika nanti Ahok tidak dinyatakan bersalah, kami akan melakukan revolusi dan menggulingkan pemerintah presiden Jokowi," tandasnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Munawar, mengancam akan menggulingkan pemerintah jika Ahok tidak dinyatakan bersalah.

Jumlah pengunjuk rasa anti Ahok kali ini tidak sebanyak sidang-sidang sebelumnya. Bisa jadi ini terkait dengan peristiwa Senin (16/1) kemarin , ketika lebih dari seribu orang yang dipimpin tokoh FPI Rizzieq Shihab, yang juga memimpin aksi-aksi penentangan terhadap Ahok, melakukan unjuk rasa di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, terkait bentrokan FPI dengan ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) di Jawa Barat.

Topik terkait

Berita terkait