Australia 'bantu' petani rumput laut NTT yang merugi akibat tumpahan minyak

Petani rumput laut Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Lebih dari 13.000 petani rumput di NTT mengajukan gugatan terhadap perusahaan di Australia, PTTEP Australasia, yang mereka tuduh menyebabkan hilangnya mata pencaharian.

Pemerintah Australia berjanji untuk membantu para petani rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah menuntut ganti rugi dalam kasus tumpahan minyak di Laut Timor pada 2009.

Dalam kasus yang sudah masuk pengadilan ini, lebih dari 13.000 petani rumput mengajukan gugatan terhadap perusahaan di Australia, PTTEP Australasia, yang merupakan anak perusahaan minyak nasional Thailand.

Kasus ini dikenal dengan kasus tumpahan minyak kilang Montara di Laut Timor.

Komitmen pemerintah Australia disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, Julie Bishop, usai bertemu Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Pandjaitan, di Jakarta, hari Senin (06/03).

"Kami telah berdiskusi secara terbuka tentang hal ini dan walaupun ini sudah menjadi wilayah pengadilan, Kedutaan Australia akan terus bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk membantu apa saja yang bisa kami lakukan," kata Menteri Bishop.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Menko Luhut mengatakan dirinya berharap sebagai mitra yang baik, pihak Australia bisa membantu para korban di Indonesia Timur terutama di wialyah (kilang) Montara.

Menteri Luhut mengatakan, "Masalah ini juga kami bicarakan, saya berharap sebagai mitra yang baik, pihak Australia bisa membantu para korban di Indonesia Timur terutama di wialyah (kilang) Montara tersebut," ujar Luhut.Keterangan yang dikeluarkan kantor Menko Kemaritiman menyebutkan, pemerintah Indonesia tengah melakukan proses hukum agar PTTEP Australasia, sebagai kontraktor ladang migas Montara di Australia yang terbakar pada Agustus 2009, mau mambayar ganti rugi kepada masyarakat di wilayah Indonesia yang terkena dampaknya.

Kebakaran kilang tersebut mengakibatkan pencemaran lingkungan yang berdampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan penduduk di Laut Timor, Nusa Tenggara Timur, yang kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan petani rumput laut.

Para pengacara yang membela para petani rumput laut berupaya mendapatkan kompensasi atas hilangnya pendapatan para petani, akibat tumpahan minyak di perairan Pulau Rote sebesar A$200 juta atau sekitar Rp1,98 triliun.

"Uang (yang dituntut sebagai kompensasi) memang banyak, tapi ada begitu banyak petani rumput laut dan mereka untuk pertama kali punya usaha dengan penghasilan US$30.000 per tahun untuk petani rumput laut yang besar," kata Greg Phelps, pengacara para petani rumput laut.

PTTEP Australasia membantah tumpahan minyak tersebut mencapai perairan Indonesia.