Pelaku serangan bom St Petersburg, 'terkait Al-Qaeda,' bukan ISIS

Rusia, St Petersburg Hak atas foto AFP
Image caption Bom diledakkan di antara dua stasiun kereta bawah tanah di St Petersburg.

Satu kelompok kecil yang mengaku memiliki kaitan dengan Al-Qaeda menyatakan mereka yang melakukan serangan mematikan di St Petersburg, Senin (03/04) lalu.

Batalion Imam Shamil mengatakan serangan di kota terbesar kedua di Rusia tersebut dilakukan atas perintah pemimpin Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri.

Pernyataan mereka beredar di kalangan pendukung Al-Qaeda lewat aplikasi pesan Telegram.

Serangan di jaringan kereta bawah tanah di St Petersburg menewaskan 16 orang termasuk pengebom bunuh dirinya. Sebelumnya muncul dugaan bahwa kelompok terkait ISIS berada di belakang serangan itu.

Pihak berwenang Rusia mengatakan Akbarzhon Jalilov, warga Rusia yang lahir di Kirgistan, meledakkan bom di antara dua stasiun kereta bawah tanah.

Lewat pernyataannya, Batalion Imam Shamil menyebutkan pengeboman merupakan balas dendam atas tindakan militer Rusia di negara-negara Muslim, seperti Suriah dan Libia, serta di kawasan Muslim di Chechnya dan Kaukasus Utara.

Hak atas foto Getty/Alexander Aksakov
Image caption Warga menghormati korban serangan bom di sudut kenangan di stasuin Tekhnologichesky Institute.

Serangan lain sedang direncanakan, tambah pernyataan yang belum bisa dikukuhkan keasliannya.

Pernyataan itu antara lain beredar di situs berida yang digunakan para jihadis di Afrika, seperti Agence Nouakchott Info, namun tidak muncul dalam situs resmi Al-Qaeda.

Pihak berwenang Rusia masih belum memberikan tanggapan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Abror Azimov dituduh sebagai perencana serangan namun menyatakan tidak 'menyadari yang dilakukannya'.

Para pengamat mengatakan nama kelompok merujuk pada Imam Shamil, pemimpin gerakan anti-Rusia di Kaukasus pada abad ke-19 lalu.

Sepuluh orang sudah ditangkap terkait dengan serangan bom tersebut.

Pekan lalu, salah seorang tersangka, Abror Azimov -yang disebut berasal dari Kirgistan- membantah berada di belakang serangan dengan mengatakan dia hanya 'mengikuti instruksi' dan tidak 'menyadari yang dilakukannya'.

Pernyataanya muncul setelah pengacaranya mengatakan kepada media Rusia bahwa dia 'mengakui sepenuhnya' berada di belakang pengeboman.

Topik terkait

Berita terkait