Salwa, difabel asal Solo, pelukis keluarga Wapres AS

salwa Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Kemampuannya melukis, telah membawanya melakoni sebuah pengalaman yang jarang bisa dilakukan masyarakat umum.

Salwa, begitu sapaannya, adalah remaja difabel yang tidak memiliki lengan. Ia difabel sejak lahir atau biasa disebut cacat bawaan. Dalam bahasa medisnya, kelainan kongenital.

Di balik kondisi fisiknya, Muhamad Salwa Aristotel - begitulah nama lengkapnya - memiliki talenta melukis. Bahkan kemampuannya melukis, telah membawanya melakoni sebuah pengalaman yang jarang bisa dilakukan masyarakat umum.

Ia memiliki kesempatan untuk menggambar sketsa wajah keluarga Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence saat melakukan kunjungan kerja ke Istana Merdeka, Jakarta pada bulan April 2017 silam. Lukisan itu digarapnya menggunakan kedua kakinya.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Salwa menunjukkan lukisan potret dirinya.

Salwa saat ini sedang menanti hasil Ujian Nasional SMP. Salwa sendiri merupakan siswa kelas IX SMP LB D Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Solo. Persentuhannya dengan dunia melukis dilakoninya sejak dua tahun lalu. Ia mengaku menemukan gelora hati dalam dunia seni melukis.

"Saat kelas dua (SMP) itu, ada guru lukis yang memintaku untuk ikut kelas melukis. Gurunya namanya Mas Jaka Triwiyana, mahasiswa ISI Solo. Ketika ditanyai apa mau melukis, saya ya langsung bilang mau. Padahal saya sama sekali belum pernah melukis, " ujar Salwa kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq, untuk BBC Indonesia, Kamis malam (18/5).

Dua tahun ikut kelas melukis, membuat dia lihai mencoret-coret kanvas dengan cat air. Saat itu favoritnya adalah menggambar pemandangan. Saat awal-awal melukis, Salwa sama sekali tidak mengalami kendala.

"Meskipun saya melukis menggunakan kaki tetapi enggak ada kendala berarti, paling ya catnya nyemprot ke kanvas, " kata Salwa, kelahiran 17 September 2001 di Kudus, Jawa Tengah.

Semangat tinggi

Guru lukis Salwa, Jaka Triwiyana mengakui bahwa muridnya ini memiliki semangat tinggi, terutama jika berhubungan dengan seni. Saat pertama menawari Salwa ikut kelas melukis, remaja yang juga pandai berenang ini langsung menerima tawarannya.

"Yang saya salut dengan Salwa adalah semangatnya tinggi. Kalau sudah muncul semangat, anak itu memiliki kemauan yang keras. Soal semangat untuk berkesenian itu tinggi, jadi saya semangat mengajari Salwa, " ujar Jaka.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Salwa bermain keyboard didampingi gurunya.

Awalnya kemampuannya melukis hanya diketahui oleh teman-teman sekolahnya. Tetapi peristiwa kunjungan kerja ibu negara Iriana Joko Widodo dan istri Wapres, Mufidah Jusuf Kalla di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Februari lalu menjadi awal langkah Salwa untuk menunjukkan eksplorasi seni lukisnya. Kala itu dipamerkan lukisan karya anak-anak SLB Negeri Solo.

Dalam kunjungan kerja Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) itu, Iriana Jokowi dan Mufidah Kalla membeli karya anak-anak difabel itu. Lukisan yang dibeli menggambarkan wajah istri Presiden dan Wakil Presiden RI.

Pada saat itu, Iriana Jokowi juga meminta kepada guru SLB Negeri untuk dicarikan empat pelukis difabel yang akan dibawa ke Istana Bogor. Keempat pelukis difabel direncanakan untuk melukis istri tamu negara dalam KTT IORA.

"Saat itu Ibu Iriana bilang Istana membutuhkan empat bocah difabel yang pintar melukis. Pihak Jawa Tengah suruh mencarikan, akhirnya ketemu empat difabel, di antaranya tiga anak tuna rungu dan satu tuna daksa. Yang tuna daksa itu saya, " jelas Salwa.

Melukis Wapres AS

Keempat bocah difabel ini mendapat jatah sendiri-sendiri dalam melukis tamu negara dalam Spouse Program KTT IORA 2017 pada Maret lalu. Kebetulan Salwa mendapatkan jatah melukis istri Wapres, Tanzania.

"Seneng banget bisa melukis tamu negara, enggak banyak yang punya kesempatan seperti ini. Keluarga sendiri kaget pas saya mengabarkan kalau diminta melukis tamu negara di Istana," jelas dia.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Di sela-sela aktivitasnya melukis, Salwa menyempatkan bermain dengan telepon genggamnya.

Sebulan berselang, Salwa dihubungi oleh perwakilan Istana Negara. Ia diminta untuk melukis wajah tamu negara, kali ini adalah keluarga Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS), Mike Pence. Dalam foto yang dikirimkan pihak protokoler istana melalui layanan pesan instan WhatsApp, Salwa harus melukis keluarg Mike Pence yang terdiri dari istri dan tiga anaknya.

"Persiapannya cukup mepet karena baru dikasih tahun H-7 untuk melukis lima wajah keluarga Wakil Presien AS. Selain lukisan yang sudah jadi, saya juga harus menggambar sketsa wajah mereka yang setengah jadi untuk dirampungkan saat kunjungan Wapres AS," ujar dia.

Melukis keluarga Wapres AS diakui Salwa cukup sulit karena wajah yang dilukis tampak depan. Hal ini berbeda jika wajah yang dilukis terlihat dari samping. Akan tetapi dengan semangat dan kerja keras, akhirnya lukisan yang penuh tantangan itu bisa diselesaikan tepat waktu.

"Saat melukis keluarga Wapres AS yang sulit mensketsa wajah karena tampak muka wajahnya tampak depan. Kalau wajahnya tampak miring itu lebih gampang untuk dilukis," kata Salwa yang suka dengan lagu-lagu milik Adele ini.

'Saya deg-degan sekali'

Saat diundang di Istana Merdeka Salwa mengaku jantungya berdebar dan bercampur bahagia. Pasalnya, saat menyelesaikan lukisan tersebut disaksiksan langsung oleh Wapres AS beserta istri. Selain itu, Presiden Jokowi dan Iriana Jokowi juga ikut menghampirinya dan memegang hasil lukisnnya.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Salwa sedang bermain keyboar di sebuah acara di kota Solo, Jateng.

"Waktu itu saya deg-degan sekali karena Wapres AS yang saya ada di samping saya untuk menyaksikan hasil lukisanya. Saat itu Wapres AS berkata jika lukisannya bagus. Namun, beliau sempat berkomentar jika wajah lukisan anaknya yang laki-laki tidak seganteng dalam gambar lukisan itu," kata dia mengenang pengalaman itu.

Salwa pun mengungkapkan saat Wapres AS melihat hasil lukisannya itu merupakan hari istimewa bagi orang penting nomor dua di negara Paman Sam itu. Lantaran, pada tanggal itu bertepatan dengan tanggal peringatan saat Mark Pence diangkat menjadi Gubernur Negara Bagian Indiana. "Dia bilang jika hari itu hari yang istimewa karena pada tanggal yang sama diangkat menjadi gubernur," tuturnya.

Selain melukis keluarga Wapres AS, Salwa kini juga sedang mengerjakan lukisan Presiden Repubik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi dan Ibu Negara, Iriana Jokowi. Lukisan tersebut mulai dikerjakan Salwa sejak dua hari lalu. "Dua malam lalu mulai melukis foto Pak Jokowi dan Ibu Iriana. Nantinya lukisan itu akan saya pajang di dinding kamar saya," kata dia.

Melihat pengalamanya sebagai pelukis, Salwa sendiri merasa kadang bingung dengan kebiasaannya melukis dengan kaki. Jika secara 'normal', tentu saja sulit dilakukan. "Kalau dipikir-pikir memang kadang saya bingung sendiri kok saya bisa melukis dengan kaki," kata Salwa penuh bangga.

Bocah yang menggemari grup musik Slank ini juga memiliki bakat bermain musik. Ia bisa bermain bass dan keyboard. Justru bermain musik ini lebih dulu digelutinya sebelum melukis. Oleh guru musiknya, Sugiyan Noor, Salwa diminta masuk kelas musik.

"Ya, pengin aja bisa main musik. Saya juga main menggunakan dua kaki. Dan ternyata bisa," ucap Salwa yang pernah menjadi juara tiga FLS2N (khusus seni) difabel tingkat Provinsi Jawa Tengah, 2016.

Abaikan kondisi fisik

Kemauan Salwa untuk berprestasi memang tinggi. Ia mengabaikan kondisi fisiknya. Remaja kelahiran 17 September 2001 ini sejak kecil melakoni aktivitas seperti bocah lainnya, bermain dengan penuh kegembiraan. Untuk beraktifitas ia memfungsikan kedua kaki layaknya tangan.

Jika naik sepeda maka jari-jari kanannya masih bisa digunakan untuk mengerem. Pun jika bermain kelereng, karambol, jari kanannya yang menjadi tumpuan utama. "Kalau menulis, menggambar pake kaki. Makan, minum juga menggunakan kaki, " kata sulung dari dua bersaudara ini.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Bocah yang menggemari grup musik Slank ini juga memiliki bakat bermain musik. Ia bisa bermain bass dan keyboard.

Selepas balita, ia juga bersekolah layaknya bocah seusianya. Ia bersekolah di SD LB Purwasari, Kudus. Di sekolah luar biasa itu, ia tergolong siswa pandai. Ia kerap mewakili sekolah dalam lomba Mapel khususnya bidang IPA. "Sering mewakili sekolah, sampai tingkat kota. Biasanya berhenti di tingkat provinsi, " ucap putra pasangan Aminul Musyadad dan Kurniati ini.

Mengingat tingkat intelegensinya di atas rata-rata, guru di SD LB Purwasari memberikan masukan agar Salwa sekolah di YPAC Solo. Alasannya fasilitas di YPAC Solo lebih bagus sehingga bisa memfasilitasi Salwa mengembangkan talentanya.

"Sekolah di YPAC Solo sejak tahun 2013. Asrama juga di YPAC. Biasanya ibu jenguk, atau kalau nggak pas liburan saya pulang naik bus sendiri ke Kudus, " ujar Salwa yang ingin meneruskan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN) 8 Solo khusus bidang seni.

Berita terkait