Peringatan Rusia setelah AS menembak jatuh pesawat Suriah

Suriah, AS, pesawat Hak atas foto Getty Images
Image caption Pesawat tempur F/A-18E Super Hornet (yang satu jenis dengan di foto) yang menembak jatuh pesawat Su-22 milik Suriah.

Rusia memperingatkan pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat di Suriah bahwa mereka pesawat-pesawat koalisi mungkin akan dijadikan sebagai sasaran.

Peringatan ini disampaikan setelah AS menembak jatuh pesawat Su-22 milik pemerintah Suriah. Menurut pasukan koalisi, pesawat tersebut sengaja ditembak jatuh lantaran mengebom para milisi dukungan AS dalam melawan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Provinsi Raqqa.

Pemerintah Rusia -yang merupakan sekutu utama Suriah- juga mengatakan menghentikan semua komunikasi dengan AS yang ditujukan untuk mencegah insiden antara kedua pihak.

Suriah mengatakan 'serangan mencolok itu' akan menimbulkan 'akibat yang berbahaya'.

Amerika Serikat mendukung kelompok perlawanan yang sedang berupaya mengusir militan dari kota Raqqa, yang secara de facto merupaka ibu kota 'kekhalifahan' sebagaimana diproklamirkan ISIS pada 2014.

Hak atas foto Reuters
Image caption AS mengatakan pesawat Suriah menjadikan pejuang SDF -yang bertarung melawan ISIS di Provinsi Raqqa- sebagai sasaran. (Foto: pejuang perempuan SDF, yang didukung AS)

Tidak sampai 'menembak'

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, "Setiap pesawat, termasuk pesawat terbang dan yang tidak berawak milik koalisi internasional yang beroperasi di Sungai Efrata akan dilacak oleh kekuatan antiudara di ruang angkasa serta di lapangan dan diperlakukan sebagai sasaran."

Namun Rusia tidak menyatakan secara gamblang bahwa mereka akan menembak jatuh pasukan koalisi.

Kantor berita Reuters mengutip seorang juru bicara militer AS yang mengatakan melakukan pemosisian ulang pesawat terbangnya di Suriah setelah insiden terbaru ini untuk menjamin keselamatan para awak.

Rusia juga membantah bahwa Amerika Serikat menggunakan saluran komunikasi sebelum pesawat termpur Su-22 tersebut ditembak jatuh dan oleh karena itu menghentikan memorandum kerja sama dengan koalisi untuk mencegah insiden dan menjamin keselamatan penerbangan.

Namun Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Joe Dunford, mengatakan pihaknya berupaya untuk menjalin kembali komunikasi untuk 'mencegah konflik' dengan Rusia dan menambahkan tetap menggunakannya 'selama beberapa jam terakhir'.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kawasan al-Sanaa di kota Raqqa merupakan salah satu medan pertempuran SDF dan ISIS.

Setelah menjatuhkan bom

Bukan pertama kali komunikasi kedua pihak diputus. Bulan April, jalur komunikasi langsung dihentikan setelah AS menembakkan 59 rudal jelajah Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat milik Suriah sebagai tanggapan atas serangan kimia Suriah ke kawasan yang dikuasai pemberontak di Provinsi Idlib.

Namun Washington dan Moskow sepakat untuk menjalin kembali komunikasi bulan lalu.

Dalam insiden terbaru ini, pesawat pengebom Su-22 ditembak oleh pesawat tempur F/A-18E Super Hornet setelah menjatuhkan bom di Provinsi Raqqa, Minggu (15/06) siang waktu setempat.

AS mendukung Pasukan Demokratik Suriah atau SDF -yang merupakan aliansi para pejuang Kurdi dan Arab- dalam melakoni serangan ke Raqqa.

Namun Rusia dan Suriah mengatakan Su-22 ditembak ketika sedang dalam misi melawan ISIS sekitar 40km di sebelah barat daya Raqqa.

Pilot warga Suriah -menurut pernyataan yang dikeluarkan Rusia- melompat ke luar di kawasan yang dikuasai ISIS dan 'nasibnya masih belum diketahui'

Topik terkait

Berita terkait