Apa peran Johannes Marliem yang tewas di AS, dalam kasus korupsi e-KTP?

Johannes Marliem Hak atas foto Johannesmarliem.com
Image caption Johannes Marliem (kanan) saat bertemu Barack Obama, Presiden AS.

Johannes Marliem, yang dikabarkan tewas di Amerika Serikat, pernah mengaku memiliki rekaman yang dapat menjerat pelaku lain dalam kasus e-KTP.

"Saksi (Johannes Marliem) diduga mengetahui pengaturan korupsi di proyek ini (e-KTP)," kata Juru bicara KPK, Febri Diansyah kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/08).

Kepada Koran Tempo, awal Juli lalu, Johannes Marliem mengaku menyimpan rekaman seluruh isi pembicaraan dengan beberapa orang yang disebutnya "terlibat sejak pembahasan proyek e_KTP".

KPK telah meminta keterangan Johannes sebanyak dua kali di Singapura dan Amerika Serikat, sehingga kabar tewasnya yang bersangkutan tidak akan mempengaruhi penyidikan kasus tersebut.

"Proses penyidikan terus berjalan," kata Febri Diansyah. Lagipula, lanjutnya, KPK tidak akan mengandalkan kesaksian Marliem semata untuk menjerat sejumlah orang yang telah menjadi tersangka.

Sampai Sabtu (12/08) petang, belum ada konfirmasi dari aparat hukum di Amerika Serikat dan otoritas terkait di Indonesia.

Image caption Johannes Marliem, yang dikabarkan tewas di Amerika Serikat, pernah mengaku memiliki rekaman yang dapat menjerat pelaku lain dalam kasus e-KTP.

Kepada sejumlah media secara terpisah, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Budi Bowoleksono, belum dapat memberikan konfirmasi tentang kabar kematian Johannes Marliem.

Pihaknya masih mendalami apakah Johannes bunuh diri atau dibunuh, antara lain tentang status kewarganegaraan yang bersangkutan, kata Budi Bowoleksono, Jumat (11/08).

Di tempat terpisah, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pihaknya akan mengecek kebenaran kabar tersebut.

"Soal Johannes, saya akan cek dulu ke Dubes (RI di AS)," kata Menlu Retno kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/08).

Hak atas foto Reuters
Image caption Andi Narogong disebutkan bekerja sama dengan Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto (tersangka kasus e-KTP, dan kini Ketua DPR) pada 2011 untuk menggolkan proyek tersebut.

Namun demikian, menurut Direktur Jenderal Imigrasi Ronny F Sompie, kepada Detikcom, Johannes Marliem pernah menggunakan paspor Indonesia saat melakukan perjalanan ke Tokyo Jepang, Agustus tahun lalu.

KPK melalui juru bicaranya, Febri Diansyah juga mengaku belum mendapatkan informasi rinci tentang kabar kematian Marliem. "Kami belum dapat info rinci karena ini terjadi di Amerika," kata Febri.

Informasi kematian Johannes Marliem beredar sejak Jumat (11/08) siang, dengan dikaitkan dengan tewasnya seorang pria di sebuah rumah di Los Angeles, California, AS.

Sejumlah media di AS memberitakan peristiwa tersebut, tetapi tidak jelas apa penyebab kematian pria tersebut, apakah bunuh diri atau tertembak.

Apa peran Johannes Marliem?

Dalam kasus e-KTP, seperti dilaporkan Tempo, namanya disebut sebanyak 25 kali oleh jaksa penuntut KPK dalam sidang-sidang perkara tersebut.

Hak atas foto Elshinta.com
Image caption Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan penyidikan kasus e-KTP akan berjalan terus.

Pada persidangan dua pejabat Kemendagri, Irwan dan Sugiharto, nama Marliem sering diungkap para saksi sebagai pengusaha. Bersama Andi Agustinus alias Andi Narogong (kini terpidana kasus e-KTP), Mariem turut mengatur proyek e-KTP.

Andi Narogong disebutkan bekerja sama dengan Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto (tersangka kasus e-KTP, dan kini Ketua DPR) pada 2011, untuk menggolkan proyek tersebut.

Baik Andi maupun Setya membantah terlibat perkara ini. Setya juga mengklaim tidak mengenal Narogong dan Marliem.

Seperti dilaporkan Tempo, seperti terungkap dalam persidangan, Johannes Marliem disebutkan aktif menghadiri pertemuan membahas proyek e-KTP sejak awal. Namun demikian, dia belum pernah dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan.

Hak atas foto AFP/Getty
Image caption KPK menemukan indikasi bahwa dugaan penyelewengan proyek e-KTP terjadi pula dalam pembahasan anggaran yang melibatkan sejumlah anggota DPR RI periode 2009-2014.

Mariem membantah keterangan para saksi yang menyebut dirinya terlibat dalam kasus e-KTP. Dia juga membantah bahwa dirinya telah menyetor uang kepada para tersangka.

Dia juga membantah meninggalkan Indonesia saat proyek e-KTP berakhir. Dia mengaku telah lama menetap di AS sejak proyek ini belum dimulai.

Sejumlah laporan menyebutkan, Johannes Marliem adalah Direktur Biomorf Lone LLC Amerika Serikat. Perusahaan inilah -menurut KPK- mengelola automated finger print identification system (AFIS) merk L-1 pada proyek e-KTP.

Kasus dugaan korupsi e-KTP telah menyeret sejumlah politikus di DPR, termasuk Ketua DPR Setya Novanto. KPK telah mennyatakan Setya sebagai tersangka dalam kasus ini.

Setya Novanto menurut jaksa KPK telah menerima fee dalam proyek ini senilai Rp574,2 miliar. Setya sendiri telah membantah segala tuduhan terhadap dirinya.

Berita terkait