Hamil tua, calon 'pengebom bunuh diri' Istana Presiden minta segera divonis

dian Hak atas foto AFP
Image caption Mabes Polri menduga Dian berniat menjadi 'pengantin' atau calon 'pelaku bom bunuh diri' dalam teror bom panci yang menargetkan Istana Kepresidenan.

Masih ingat sosok Dian Yulia Novita, calon 'pelaku bom bunuh diri' di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, yang dibekuk polisi di Bekasi, Jawa Barat, akhir Desember 2016 lalu?

Sedianya perempuan berusia 27 tahun ini akan mengikuti persidangan pembacaan tuntutan pada Rabu (16/08), tetapi ditunda karena "jaksa penuntut belum siap".

Dian Yulia Novita, seperti ditirukan pengacaranya, meminta agar persidangannya segera dituntaskan secepat mungkin.

"Kalau Dian melahirkan, tidak mungkin dia langsung menghadiri sidang," kata salah-seorang kuasa hukumnya dari Tim Pembela Muslim (TPM), Kamsi, kepada wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama' di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (16/08).

Hak atas foto AFP/MALIQI
Image caption Rumah kos Dian Yulia Novi, perempuan pertama terduga calon 'pengebom bunuh diri'.

Usia kandungan Dian telah memasuki delapan bulan dan diperkirakan dia akan melahirkan pada awal September nanti.

Lebih lanjut Kamsi mengharapkan, sidang Dian seharusnya dapat selesai pada akhir Agustus ini.

Apabila hingga 30 Agustus, majelis hakim belum menjatuhkan vonis, dia meminta persidangan ditunda dalam jangka waktu yang lama.

Hak atas foto Polri
Image caption Peledak dengan panci bertekanan yang ditemukan di Bekasi.

"Kalau Dian melahirkan, tidak mungkin dia langsung menghadiri sidang," tambahnya.Dian berharap sidang tuntutan tidak kembali mundur. Alasannya, pihaknya dan majelis hakim memerlukan waktu untuk membuat nota pembelaan dan putusan. Sidang sendiri ditunda pada Rabu (23/08) mendatang.

Hak atas foto Polda Metro Jaya
Image caption Sebelum terjerat kasus teror, Dian tercatat pernah bekerja di Taiwan pada 2013 hingga 2016 sebagai perawat lansia.

Dian ditangkap Densus Antiteror 88 di Bekasi, Jawa Barat, Desember 2016. Mabes Polri menduga Dian berniat menjadi 'pengantin' atau calon 'pelaku bom bunuh diri' dalam teror bom panci yang menargetkan Istana Kepresidenan. Polri menyebut Dian sebagai calon 'pengantin' perempuan pertama dalam sejarah tindak pidana terorisme di Indonesia. Ia diduga terhasut doktrin ISIS tentang teror di negara sendiri jika tidak dapat berangkat ke Suriah.Sebelum terjerat kasus teror, Dian tercatat pernah bekerja di Taiwan pada 2013 hingga 2016 sebagai pengasuh lansia.

Polri menyebut Dian merupakan bagian dari jaringan Bahrun Naim, terpidana kasus teror yang merancang serangan Thamrin, awal 2016.

Berita terkait