Kelangsungan badak Sumatra 'tergantung pada seutas benang'

badak, badak Sumatra, Ipuh Hak atas foto TOM UHLMAN
Image caption Ipuh -sumber sampel genom untuk penelitian- tinggal di Kebun Binatang Cincinnati sejak tahun 1990-an. Dia mati empat tahun lalu.

Para ilmuwan di Amerika Serikat sudah berhasil mengurai genom dari badak Sumatra, salah satu mamalia yang paling terancam di dunia.

Cetak biru genetika badak Sumatra memperlihatkan penurunan populasinya sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak Zaman Es yang terakhir, menurut satu tim peneliti AS.

Penurunan populasi setelah Zaman Es terakhir itu makin diperburuk lagi oleh tekanan manusia.

Saat ini diperkirakan tak sampai 250 ekor badak Sumatra yang hidup di alam liar.

"Spesies ini sedang lama perjalanan menuju kemusnahan sejak waktu yang lama," kata Terri Roth, salah seorang peneliti dari Pusat Riset dan Konservasi Satwa Terancam di Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati.

Rangkaian data genom mengungkapkan bahwa masa Pleistocene "adalah perjalanan menurun yang cepat bagi populasi badak Sumatra', tambah peneliti utama, Prof. Herman Mays dari Universitas Marshall di West Virginia.

Pleistocene adalah periode geologis mulai dari sekitar 2.588.000 hingga 11.700 tahun lalu, yang mencakup Zaman Es terakhir.

Hak atas foto TOM UHLMAN
Image caption Ipuh menjadi bapak dari tiga anak, yang terbanyak di kalangan badak Sumatra.

Warisan genetika

Para peneliti menelusuri dan menganalisi genom utuh pertama milik badak Sumatra yang berasal dari sebuah sampel seekor badak jantan yang terkenal, bernama Ipuh, di Kebun Binatang Cincinnati.

Ipuh hidup di kebun binatang itu sejak tahun 1990-an namun mati empat tahun lalu pada usianya yang ke-33. Dia menjadi ayah dari tiga anak, yang terbanyak dibanding badak Sumatra lainnya, dan materi genetika-nya disimpan di sebuah bank gen.

Berdasarkan analisis atas DNA Ipuh, para ilmuwan bisa membuat model dari sejarah populasi badak Sumatra.

Diperkirakan bahwa populasi mereka mendekati 60.000 ekor sekitar 950.000 tahun lalu. Namun sekitar 12.000 tahun lalu -yang merupakan akhir dari masa Pleistocene- badak Sumatra kehilangan banyak habitat yang cocok buat mereka. Kondisi yang juga dialami oleh sejumlah mamalia besar lainnya.

Hak atas foto AFP
Image caption Ada masanya badak Sumatra menjelajahi kaki Himalaya, Cina selatan, maupun Kamboja dan Thailand.

Jembatan tanah yang menghubungkan Pulau Kalimantan (atau Borneo), Jawa, Sumatra, maupun Semenanjung Malaysia dan Benua Asia daratan pada Zaman Es kini menghilang di bawah laut.

Sekitar 9.000 tahun lalu, jumlah badak Sumatra meningkat secara dramatis karena tekanan cuaca.

"Populasinya menurun dan tidak memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Badak Sumatra tergantung pada seutas benang," jelas Prof Mays. "Kita perlu melakukan lebih banyak untuk menyelamatkannya."

Pada suatu masa dulu, badak Sumatra menjelajah dari kaki Pegunungan Himalaya di Bhutan dan India timur laut, hingga ke Cina selatan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietman, Semenanjung Malaysia, hingga Pulau Sumatra dan Kalimantan di Indonesia.

Hak atas foto AFP
Image caption Saat ini diperkirakan tak sampai 250 ekor badak Sumatra yang berada di alam liar.

Spesies ini kini utamanya terbatas hanya di Sumatra dan masuk dalam daftar 'Terancam Kritis' oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

IUCN mengatakan perburuan untuk cula-nya dan bahan-bahan medis lainnya membuat satwa tersebut berada di ambang kemusnahan.

Terdapat sekitar 20 badak Sumatra di tempat penampungan, sebagian besar di Indonesia dan Malaysia dan beberapa di Amerika Serikat.

Ratusan mamalia besar musnah setelah Zaman Es yang terakhir akibat perubahan iklim, hilangnya tempat tumbuh, dan perburuan manusia.

Genetika memberi kesempatan bagi penelitian untuk melihat ke masa lalu: hanya dengan satu rangkaian genom saja mereka sudah bisa membuat model perubahan jumlah populasi sejalan dengan waktu.

Metode ini amat berguna bagi DNA kuno atau untuk satwa yang amat langka dan sudah digunakan dalam penelitian tentang panda raksasa, passenger pigeon atau merpati liar di Amerika Utara, maupun mamut berbulu.

Topik terkait

Berita terkait