The most expensive Chinese porcelain

Cangkir Dinasti Ming, AFP Hak atas foto AFP
Image caption The small white cup is decorated with a rooster, hen and chicks.

Belajar bahasa Inggris melalui berita BBC tentang pembelian porselen Cina termahal dan undang-undang penyimpanan data di Eropa.

The most expensive Chinese porcelain in the world

A Shanghai based billionaire has set a new record for Chinese porcelain by paying $36m for a wine cup once owned by a Ming Dynasty emperor.

The purchaser, Liu Yiqian, is a self made financier and one of China's leading collectors.

The small white cup decorated with a rooster, hen and chicks is known to the art world as a chicken cup - and is one of China's most prized cultural relics.

Only sixteen of the cups, dating from the late fifteenth century, are known to have survived, and they rarely come to auction.

Porselen Cina termahal di dunia

Miliarder asal Shanghai mencatat rekor baru pembelian porselen Cina seharga US$36juta untuk satu buah cangkir anggur dari Dinasti Ming.

Pembeli bernama Liu Yiqian adalah seorang investor dan salah satu kolektor terkemuka di Cina.

Cangkir kecil berwarna putih bergambar ayam jantan dan betina, dan anak-anak ayam dikenal sebagai cangkir ayam dalam dunia seni dan adalah salah satu barang bersejarah Cina yang paling berharga.

Hanya 16 cangkir yang berasal dari akhir abad 15 yang tersisa dan jarang sekali masuk dalam lelang.

Customer data retention in Europe overturned

Hak atas foto AFP
Image caption Judges in Luxembourg said the legislation did not do enough to protect people's privacy.

Campaigners against state surveillance have welcomed a ruling by the European Court of Justice which overturns a law requiring European telecoms companies to keep customer data for up to two years.

The Data Retention Directive allowed governments to access the data gathered and stored by telecoms companies.

But judges in Luxembourg said the legislation did not do enough to protect people's privacy.

Penyimpanan data konsumen di Eropa ditolak

Para pegiat yang menentang pengawasan oleh negara menyambut keputusan Pengadilan Eropa yang menolak peraturan yang mengharuskan perusahaan telekomunikasi Eropa untuk menyimpan data-data konsumen hingga dua tahun.

Peraturan Penyimpanan Data mengizinkan pemerintah Eropa untuk mengakses data yang dikumpulkan dan disimpan oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi.

Tetapi para hakim di Luksemburg mengatakan bahwa peraturan undang-undang tidak cukup melindungi privasi masyarakat.

Berita terkait