Indonesia tetap ikuti FTA-China

Image caption Daya saing industri Cina membuat pengusaha lokal khawatir

Pemerintah Indonesia menegaskan tetap memenuhi komitmen terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan Cina mulai 1 Januari 2010.

Diluar sejumlah tekanan terhadap sektor industri tertentu, keikutsertaan dalam FTA ASEAN-China ini menurut Sekretaris Jendral Departemen Perindustrian Agus Tjahajana sesungguhnya tidak perlu dikhawatirkan karena perjanjian terbuka untuk penundaan atau memodifikasi ulang.

Pemerintah menjanjikan ada perhatian serius terhadap keluhan sejumlah kalangan industri, tetapi tetap dalam koridor FTA.

Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar dalam pertemuan mempersiapkan pemberlakuan FTA pekan lalu di Jakarta menyatakan Indonesia akan melayangkan surat resmi kepada Cina untuk menyampaikan ada beberapa subsektor usaha yang terkena dampak negatif perjanjian perdagangan bebas tersebut.

Namun Indonesia tetap akan mengikuti komitmen awal memberlakukan perjanjian ini.

Koordinasi pemerintah

"Departemen Perdagangan akan berkoordinasi dengan Departemen Perindustrian dan Departemen Keuangan untuk melihat rincian masukan dari kalangan industri," janji Mahendra Siregar.

Deputi IV Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan Menko Perekonomian Edy Putra Irawady menyebutkan, dari sekitar 2.500 subsektor industri yang diikutsertakan dalam FTA ASEAN- China, sebanyak 303 subsektor masih dalam proses penyelesaian.

Indonesia akan menyampaikan permintaan modifikasi perjanjian khusus untuk 303 subsektor tersebut.