Politisi PKS Misbakhun diperiksa polisi

Protes penyelamatan bank Century
Image caption Unjuk rasa marak sehubungan dengan kasus Bank Century

Salah seorang inisiator penggunaan Hak Angket DPR untuk menyelidiki penyelamatan Bank Century, Misbakhun, memenuhi penggilan kepolisian menjadi saksi kasus surat utang atau Letter of Credit fiktif yang melibatkan mantan pemilik Bank Century Robert Tantular.

Juru bicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Edward Aritonang menegaskan kedatangan Misbakhun ke Mabes Polri hari ini adalah memenuhi panggilan sebagai saksi kasus kejahatan perbankan yang melibatkan Robert Tantular.

Namun, politisi PKS ini sebelumnya sudah ditetapkan menjadi tersangka untuk kasus surat utang palsu sebesar US$ 22,5 juta dolar Amerika. Dan khusus untuk ini kepolisian, kata Edward Aritonang, akan kembali memanggil Misbahkhun pekan depan.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

"Hari Senin beliau akan dipanggil juga sebagai tersangka, dalam kasus yang berbeda. Kalau sebagai saksi dalam kasus kejahatan perbankan. Kalau Senin sebagai tersangka dalam kaitan dengan terbitnya LC yang disebut-sebut LC fiktif atau LC dengan dokumen-dokumen fiktif," jelas Aritonang kepada para wartawan.

Didampingi anggota DPR

Misbakhun hari Rabu (21/04) diperiksa sebagai Direktur PT Selalang Prima Internasional yang menerima surat utang yang diduga fiktif dari Bank Century sebesar US$ 22,5 juta.

Perusahaan milik politisi PKS ini diduga mengajukan surat utang untuk keperluan impor gandum namun impor itu diduga tidak pernah terjadi.

Dana ini adalah bagian dari utang dagang sebesar US$ 178 juta untuk 10 debitor antara tahun 2007-2008.

Misbakhun datang ke Mabes Polri didampingi dua inisiator lain pansus angket Bank Century, Akbar Faizal dan Lily Wahid.

Ketika ditanyai wartawan soal pemanggilan dirinya, Misbakhun mengatakan datang untuk menghormati proses hukum yang harus dia jalani.

Sejumlah anggota DPR mengkritik langkah penegak hukum menjatuhkan status tersangka kepada Misbakhun padahal kasus pelanggaran dalam pemberian dana talangan kepada Bank Century belum diproses.

Modus LC fiktif

Letter of Credit adalah surat yang dikeluarkan oleh sebuah bank atas permintaan seseorang atau perusahaan yang ingin membeli barang dari luar negeri.

Surat ini menjelaskan kredibilitas perusahaan tersebut kepada penjual barang di luar negeri tersebut dengan mengatakan bahwa si pembeli memang memiliki dana untuk membayar pembeliannya.

Bank yang mengeluarkan LC bisa jadi menggunakan dana langsung perusahaan tersebut atau bisa juga mengeluarkan kredit untuk mendanai pembelian tersebut.

LC biasanya berisi janji bahwa bank akan membayar barang-barang pesanan perusahaan tersebut, misalnya 60 hari setelah dikirim atau 90 hari setelah dikirim oleh perusahaan penjual dan dengan memenuhi syarat-syarat yang disepakati.

Pembayaran itu biasanya dilakukan oleh bank yang mengeluarkan LC ke bank yang ditunjuk oleh penjual.

Bank dalam hal ini bertindak sebagai agen dari perusahaan pembeli barang dan untuk jasa ini, bank biasanya mengutip biaya beberapa persen dari jumlah uang yang harus dibayarkan.

Namun menurut Hariyanto -Ketua Dewan pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia yang kerap melakukan ekspor- LC sudah jarang digunakan sebagai metode pembayaran.

"LC itu biayanya mahal dan sulit ditebak dan bisa dipermainkan oleh bank-bank kalau ada perbedaan satu kata saja dalam dokumen, bank seringkali tidak mau mengeluarkan uang untuk membayar," kata Hariyanto.

Modus operandi dari pemalsuan Letter of Credit, menurut Hariyanto, sebenarnya hanya bisa dilakukan dengan keterlibatan bank.

"Misalnya bank tersebut memberikan kredit kepada sebuah perusahaan yang katanya akan mengimpor barang. Kemudian bank tersebut mengeluarkan LC, tapi ternyata impor dari perusahaan di luar negeri itu tidak ada, karena perusahaan itu memang tidak eksis. Namun uangnya sudah keluar," jelas Hariyanto.

Selain itu kecurangan bisa berupa dokumen-dokumen yang disediakan perusahaan pemohon LC kepada bank adalah palsu.

Berita terkait