Terbaru  28 Oktober 2010 - 12:14 GMT

Islam jalan tengah ala Azyumardi

Azyumardi Azra mengatakan pilihannya menganut 'Islam Jalan Tengah'', bermanfaat untuk membuka dialog Islam dan Barat

Menyebut sebagai penganut 'Islam jalan tengah', pemikir Islam Azyumardi Azra mencoba memerankan sebagai jembatan penghubung antara dunia Islam dan Barat.

Profesor Doktor Azyumardi Azra MA, 55 tahun, menganggap pilihannya 'berdiri di tengah' itu sangat strategis, karena membuatnya bisa diterima oleh dunia Barat dan Islam.

"Posisi di tengah itu membuat saya dipercaya oleh mayoritas baik di dalam masyarakat Muslim atau Barat," kata Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini kepada BBC Indonesia.

Sejak tahun 2006 lalu, ahli sejarah Islam ini dipercaya menjadi Ketua-Bersama United Kingdom (UK)-Indonesia Islamic Advisory Council (Dewan Penasihat Islam Inggris-Indonesia).

Melalui forum inilah, lelaki kelahiran Lubuk Alung, Sumatera Barat, 1955 ini banyak melakukan dan menghadiri forum dialog yang bertujuan membangun pemahaman antar agama dan kebudayaan.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Dia juga acap diundang forum serupa di negara-negara di kawasan Timur Tengah.

"Dan saya selalu menjelaskan bahwa sesungguhnya tak ada permusuhan antara dunia Barat dan Islam," katanya, saat ditemui di ruangan kerjanya.

Atas kontribusinya dalam itulah, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini menerima penghargaan dari Pemerintah Inggris, akhir September lalu.

Gelar kehormatan The Commander of the Order of the British Empire diterima Azyumardi, 55 tahun, melalui Duta Besar Inggris untuk Indonesia.

Azyu -- demikian sapaannya -- adalah orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. Dia juga disebut orang pertama yang bukan berasal dari negara jajahan Inggris, atau negara Persemakmuran.

"Tentu saja, ini tak hanya kehormatan besar buat saya, tetapi juga bagi Umat Islam dan Bangsa Indonesia," ungkapnya.

Islam Jalan Tengah

Kepada BBC, penulis buku Islam Nusantara (2002) dan Islam Subtantif (2000) ini mengaku memposisikan dirinya "di tengah-tengah" di antara berbagai pengkutuban pemikiran dan gerakan Islam dewasa ini.

Dia menyatakan dirinya sebagai penganut 'Islam jalan tengah' untuk menjawab tuduhan kelompok-kelompok Islam lain yang menuduhnya sebagai pro Barat atau sebaliknya yaitu konservatif.

Diakuinya tidak mudah menyandang predikat "di tengah-tengah".

"Serba susah, karena kita tak berpihak pada katakanlah yang fundamentalisme liberal dan atau sebaliknya fundamentalisme literal," tegasnya, serius.

Dan saya selalu menjelaskan bahwa sesungguhnya tak ada permusuhan antara dunia Barat dan Islam

Azyumardi Azra

"Saya berada di tengah-tengah, mengambil jalan tengah sebagaimana yang dianjurkan oleh Al-quran," katanya lagi.

Dan posisi seperti ini, menurutnya, sekarang dibutuhkan untuk "kebutuhan mendesak" dialog antara dunia Islam dan Barat, yang belakangan disebutnya "cukup mengkhawatirkan".

Pengalaman pribadinya ketika bisa diterima intelektual Barat dan koleganya di Timur Tengah, disebutnya sebagai bukti nyata.

"Jadi setelah membangun kepercayaan ini, saya bisa diterima dan berdialog, sehingga pada saatnya saya bisa mengkritik mereka," ungkap ayah empat anak ini.

Episode Panjang

Dalam dialog dengan pihak Barat, Azyumardi selalu menekankan bahwa "tidak ada permusuhan antara dunia Barat dan Islam".

Menurutnya, sejarah menunjukkan hubungan Barat dan Islam lebih banyak diwarnai apa yang disebutnya sebagai "saling mengakomodasi dan hidup damai".

"Bahkan peradaban Barat yang ada sekarang, itu terkait pula dari kontribusi yang diberikan oleh ilmuwan Muslim pada waktu kejayaan Islam di Andalusia dan Baghdad," ungkapnya memberi contoh.

Memang diakuinya ada benturan-benturan dalam sejarah. "Biasalah kepentingan politik, kekuasaan dan kebendaan, yang menghasilkan Perang Salib dan lain-lain".

Tapi menurutnya benturan ini masuk kategori "episode yang pendek".

Kepada Heyder Affan, Azyumardi Azra menjelaskan visinya tentang dialog Islam dan Barat

"Episode yang panjang adalah justru terjadinya saling akomodasi, dan hidup secara damai, khususnya di Eropa," katanya lagi.

"Dan bahwa ada orang-orang ekstrim di dalam Islam, saya kira tidak akan menghapuskan kenyataan keterkaitan hubungan yang erat di antara peradaban Barat dan Islam," tambahnya.

Untuk itulah, Azyumardi menyarankan agar episode panjang itu lebih ditonjolkan dalam materi dialog antara peradaban dewasa ini.

Sensitifitas budaya

Dalam wawancara sekitar satu jam itu, mantan wartawan Panji Masyarakat (1979-1985) ini menyinggung pula kehadiran para politisi sayap kanan -seperti sosok Geert Willders di Belanda- di sejumlah negara Eropa.

Azyu menduga kehadiran sosok Geert Willders tidak terlepas dari krisis ekonomi yang melanda negara-negara Barat, yang berdampak pada meningginya angka pengangguran.

"Masalah ini yang membuat para pendatang menjadi sasaran tuduhan merampas pekerjaan. Dan kebetulan, imigran itu adalah Muslim," ujarnya menganalisa.

"Ini dijadikan agenda-agenda untuk meraih dukungan politik dari partai-partai sayap kanan".

Disamping itu, Azyu mengakui, ada sebab-sebab lain yang bersumber dari kelompok Muslim sendiri.

"Ada orang-orang Islam di negeri Eropa, mencari nafkah di sana, tapi tidak memiliki sensitifitas kultural," katanya tegas.

Warga Muslim di dunia Barat harus memiliki sensitifitas kultural

"Misalnya mengenakan pakaian tertutup seratus persen, yang pakai burqa, yang mencerminkan sikap tidak sensitif terhadap lingkungannya," katanya memberi contoh.

Azyu yang dikenal sebagai penulis produktif ini -sedikitnya 18 buku telah dia lahirkan- kemudian menyarankan agar orang Muslim di Eropa lebih bisa menunjukkan sensitifitas budaya.

"Saya juga menghimbau kepada mainstream masyarakat Eropa yang umumnya damai dan toleran untuk bicara, dan tidak menyerah dan membiarkan masyarakat Eropa secara keseluruhan dibajak oleh seperti orang-orang seperti Geert Wilders," paparnya.

Tempat Ibadah

Doktor lulusan Columbia University, Amerika Serikat, ini juga mengkritik apa yang disebutnya sikap sebagian umat beragama yang "berlomba-lomba membangun tempat ibadah".

Ini menanggapi kasus penentangan pembangunan gereja serta menjamurnya praktek minta uang di jalan-jalan untuk pembangunan masjid

"Sekarang ini umat beragama seperti berlomba-lomba mendirikan rumah ibadah, bahkan umat Islam suka kumpulkan celengan, menganggu lalu lintas," ungkap Azyumardi.

Posisi yang kurang-lebih sama, menurutnya, juga dilakukan sebagian umat Kristiani dalam membangun tempat ibadah.

"Sebaiknya mereka juga menghindari agresifisme membangun tempat ibadah khususnya di tempat mayoritas Islam," tandas anggota Komite Nasional Sejarah Indonesia ini.

Ini juga berlaku bagi umat Islam -yang jumlahnya sedikit- yang ingin mendirikan tempat ibadah di wilayah yang mayoritas penduduknya non Islam.

Berlomba-lomba membangun tempat ibadah, melibatkan warga Islam dan Kristen

Namun demikian, terkait kasus kekerasan yang menyertai perkara pembangunan tempat ibadah, Azyumardi meminta penegakan hukum, ditegakkan.

"Jadi kalau ada yang nggak suka, harus dicegah oleh aparat keamanan untuk tidak main hukum sendiri, harus ditempuh cara-cara damai," katanya lagi.

Gila Bola

Selain membincangkan soal ide rehabilitasi Pancasila serta kekhasan Islam di Indonesia, Azyumardi mengungkap "kegilaannya" terhadap dunia sepakbola.

Selama ini, Azyu yang dulu pernah bermain di posisi back (belakang) dalam sepakbola amatir, dikenal sebagai kolumnis sepakbola di sebuah harian nasional.

Ulasannya yang terakhir dimuat saat Piala Dunia 2010 lalu

Jadi, apa yang membuat Anda tertarik sepakbola?

"Ya, karena sepakbola itu, permainan yang paling demokratis," katanya, seraya tertawa.

Bahkan pada saat tertentu dia berubah menjadi 'partisan' ketika harus mendukung tim sepakbola kesayangannya.

"Saya dari dulu fans MU (Manchester United)," ungkapnya, membuka rahasia.

Sebagai penggila bola, Azyu mengaku selain tertarik kepada "permainan bagus" juga "hasil akhir".

Itulah sebabnya dia bisa kecewa ketika klub kesayangannya gagal tampil bagus dan kalah.

Situasi 'kalah' seperti ini terkadang menginspirasinya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

"Jadi saya sering secara filosofis, melihat sepakbola itu adalah mirror of life."

"Jadi kita harus berusaha secara maksimal, tapi pada akhirnya hasil akhirnya bukan kita yang menentukan. Banyak faktor yang membuat kita gagal."

Karena itulah, menurut Azyu masih dengan mimik serius, ketika gagal janganlah putus asa.

"Begitulah dalam sepakbola, juga dalam kehidupan sehari-hari," tandasnya.

"Jadi itulah filsafat sepakbola saya: a soccer is a mirror of life, sepakbola sebagai cermin kehidupan," katanya lagi.

Tetapi, seperti apa kegilaan Anda terhadap sepakbola?

"Kalau soal gila bola, saya bisa menonton dinihari, jam 1 atau 2, tapi tidur lebih cepat, tidur lebih duluan, dibayar dulu tidurnya. Tidur jam 8 dan bangun jam 2 (dini hari)," katanya, seraya menutup wawancara yang berlangsung saat Jakarta diguyur hujan lebat.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.