Terbaru  5 Desember 2010 - 22:46 WIB

Ekonomi

Warga Merapi kesulitan bangkit

Kondisi desa dekat Merapi

Warga di sekitar Gunung Merapi perlu bibit tanaman dan pupuk

Ribuan warga Gunung Merapi di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta telah kembali dari pengungsian sejak status gunung diturunkan dari Awas ke Siaga Jumat silam (3/12).

Hingga Minggu sore (5/12) warga yang rumahnya terletak dekat dengan puncak Gunung Merapi berbondong-bondong meninggalkan pengungsian dan pulang dengan menaiki truk yang disediakan pemerintah atau pulang secara mandiri.

Namun sebagian besar warga mengalami kesulitan membangun kembali kehidupan karena rumah dan sumber penghidupan mereka luluh lantak.

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Putar dengan media player alternatif

Sebagian besar mendapati desa mereka luluh lantak seperti Desa Balerante, Kecamatan Dukun, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Desa ini terletak hanya empat kilometer dari puncak gunung dan bersebelahan dengan desa tempat tinggal Sukiman, seorang pemuka Desa Deles.

"Di Desa Balerante rumahnya sudah habis dan banyak ternak mati. Dari rumah saya ke arah atas kira-kira 300 meter, semua hutan sudah terbakar. Hampir 400 hektar yang terbakar, tadinya hutan pinus. Kemudian lahan-lahan penduduk kena pasir dan abu vulkanik dan juga pohon-pohon sudah mati karena kena awan panas," kata Sukiman kepada BBC Indonesia.

Pupuk

Muntahan material vulkanik akibat letusan dasyat Gunung Merapi tanggal 26 dan 30 Oktober lalu juga merusak sarana dan prasarana desa. Kerusakan ini antara lain bisa dilihat di desa-desa di lereng Merapi yang masuk wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah seperti disaksikan oleh Bayu Saptanugraha, anggota relawan Jalin Merapi 1 Magelang, yang berada sekitar 10 kilometer dari puncak Merapi.

Ini yang diperlukan karena bercocok tanam ya segera menanam kembali tetapi pupuknya dari mana? Kemudian logistik untuk makan sambil menunggu panen

Sukiman

"Dari hasil survei yang kita lakukan kemarin, sebagian desa masih tertutup oleh material dan pohon-pohon banyak yang tumbang. Pertanian bisa dikatakan 100% gagal tidak bisa dipanen, harus mengulang dari nol lagi," kata Bayu Saptanugraha.

Bagaimanapun, para warga ingin segera bangkit dan menekuni kembali mata pencaharian mereka sebagai petani dan peternak tetapi mereka pun memerlukan uluran tangan.

"Ini yang diperlukan karena bercocok tanam ya segera menanam kembali tetapi pupuknya dari mana? Kemudian logistik untuk makan sambil menunggu panen. Ini yang sangat dibutuhkan karena menunggu cukup lama dan tidak bisa mencari ekonomi kecuali pertanian," tutur Sukiman.

Padahal tanaman pertanian memerlukan waktu sebelum bisa di panen. Sukiman menaksir sayur mayur baru bisa dipanen dua hingga tiga bulan setelah masa tanam.

Oleh karena itu, pemerintah berencana memberikan bantuan antara lain dalam jatah hidup. Namun jatah hidup ini hanya diberikan kepada warga yang tinggal di hunian sementara, huntara. Artinya, hanya warga yang rumahnya sama sekali tidak layak huni.

"Jadup ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di huntara dan sudah ditetapkan besarannya Rp5.000 per jiwa per hari, ditambah bantuan beras sebagai kebutuhan pokok 0,4 kg per jiwa per hari. Kemudian sementara baru ditetapkan untuk satu bulan," kata Direktur Bantuan Sosial Bencana Alam, Kementerian Sosial, Andi Hanindito.

Selain itu, lanjutnya, warga yang tidak berhak mendapatkan jatah hidup akan dilibatkan dalam berbagai program padat karya. Adapun jenis program padat karya akan didiskusikan dengan masyarakat setempat .

Andi Hanindito menambahkan program bantuan bagi korban letusan Gunung Merapi khususnya yang ditangani kementerian sosial siap diluncurkan dan tinggal menunggu kesiapan pemerintah daerah.

Pada puncak bencana Gunung Merapi, jumlah pengungsi sempat mencapai sekitar 283.000 jiwa di seluruh provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.