Polisi buru penyerang jamaah Ahmadiyah

ahmadiyah Hak atas foto AP
Image caption Beberapa polisi memeriksa rumah yang rusak akibat penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah

Kepolisian Indonesia masih terus melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan jamaah Ahmadiyah di Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Aksi penyerangan yang berlangsung hari Minggu (6/11) kemarin itu diperkirakan melibatkan sekitar 1500 orang bersenjatakan batu, pedang dan tongkat.

Untuk mengungkap kasus ini Polisi telah mengumpulkan keterangan saksi untuk mengejar sejumlah pelaku dalam aksi serangan tersebut.

"Insya Allah dari keterangan saksi, kita bisa tahu siapa pelakunya," ujar Kepala Divisi Humas Markas Besar Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam seperti dikutip dari situs Tempointeraktif.

Serangan itu sendiri mengakibatkan tiga orang tewas dan lima orang lainnya mengalami luka-luka.

"Kami harap pelaku penyerangan segera menyerahkan diri kepada polisi," ujarnya.

Polisi menyatakan untuk keperluan penyelidikan kasus ini mereka telah memeriksa sekitar lima saksi dalam peristiwa penyerangan tersebut.

Pencabutan SKB

Sebelumnya Ketua Umum Jamaah Ahmadiyah Indonesia Zafrullah Ahmad Pontoh mengatakan para anggotanya telah menerima ancaman dan pada hari Minggu mereka berjaga-jaga.

"Kegiatan mereka itu berjaga-jaga sambil sholat. Kemudian mereka diserang lantas mereka membela diri," kata Zafrullah.

Pasca terjadinya peristiwa tersebut sejumlah pegiat kebebasan beragama di Jakarta mengeluarkan pernyataan yang mengutuk aksi penyerangan tersebut.

Dalam pernyataannya mereka juga meminta pemerintah melindungi keberadaan jamaah Ahmadiah.

Surat keputusan bersama tiga menteri yang mengatur tentang kegiatan Jamaah Ahmadiyah juga menurut mereka harus dicabut.

Mereka mengatakan SKB selama ini telah dipakai untuk membatasi kebebasan beragama yang ada di Indonesia.

Pada tahun 2008, pemerintah mengeluarkan surat keputusan bersama (SKB) yang ditandatangani menteri agama, dalam negeri, dan jaksa agung, untuk mengakhiri konflik.

Dalam SKB itu antara disebutkan pelarangan penafsiran suatu agama dan perintah bagi jamaah Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran agama Islam.

Disebutkan pula masyarakat tidak boleh melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut jemaah Ahmadiyah.