Terbaru  8 Februari 2011 - 07:26 GMT

Tak puas vonis pengadilan, rusuh juga di Temanggung

Aparat polisi

Polisi dianggap gagal mengantisipasi pengamanan persidangan

Sekelompok massa menyerbu bangunan PN Temanggung setelah majelis hakim membacakan vonis yang menghukum terdakwa kasus penistaan agama dengan lima tahun penjara.

Massa melempari polisi yang memakai perlengkapan anti huru-hara dan berjaga didalam gerbang pengadilan, dengan batu.

"Kami sedang identifikasi siapa pelaku, karena yang melakukan adalah massa,"kata AKB Pol Djihartono, juru bicara Polda Jawa Tengah dari Temanggung.

Dijartono menaksir pelaku datang dari dalam dan luar Temanggung, dengan jumlah sekitar 1300 orang.

M Mukhlis yang tinggal didekat kantor PN Temanggung mengatakan tak tahu siapa yang turut serta dalam kelompok orang yang merusak bangunan tersebut.

"Anak-anak saya masih kecil-kecil tadi cuma lihat sebentar-sebantar saja keluar. Anak-anak juga takut mendengar banyak tembakan peringatan," kata Mukhlis dengan suara pelan.

Menurut polisi situasi mulai memanas sekitar pukul 1000 pagi, dan bentrokan tak terelakkan.

"Sesudah ditembaki dengan gas air mata lalu massa bubar,"kata Mukhlis.

Massa kemudian beranjak meninggalkan PN Temanggung yang sebagian rusak akibat serbuan batu dan menuju kawasan pusat kota Temanggung.

Di Jalan Sudirman dan Jalan Suparman, massa membakar dan merusak dua bangunan gereja serta sebuah bangunan milik yayasan Katolik Kanisius.

Massa juga membakar sepeda motor, mobil, bahkan menurut Mukhlis, truk pengangkut personel milik polisi juga dibakar.

Belum muncul berita tentang jatuhnya korban jiwa.

Tidak puas

Adalah Antonius Bawengan, seorang warga Menado, Sulawesi Utara, yang diduga menyebarkan selebaran berisi tulisan yang menghina umat Islam saat menginap di Temanggung, pada awal Oktober 2003.

Bawengan kemudian ditahan dengan sangkaan penistaan agama sejak akhir Oktober 2010.

Namun hukuman lima tahun sesuai tuntutan jaksa yang dijatuhkan hakim Selasa (08/02) dianggap sekelompok orang tidak memuaskan dan berakibat pada pelemparan gedung pengadilan, pembakaran sejumlah kendaraan, bahkan gereja dan sekolah.

Para pelaku menjalankan aksi perusakan dengan meneriakkan kalimat takbir dan meski nampak ada antisipasi polisi, mereka tetap dapat menjalankan aksinya tanpa hambatan berarti.

Selasa siang situasi mulai mereda, namun polisi masih berjaga di sekitar lokasi pengadilan.

"Kami sedang menggelar dialog dengan perwakilan massa bersama wakil Pemda, Brimob dan unsur aparat lain,"tambah Djihartono.

Rusuh di Temanggung terjadi hanya berselang dua hari setelah kelompok Ahmadiyah di Pandeglang juga diserang sekitar seribu orang.

Tiga orang tewas dalam kejadian itu dan menyebabkan sekelompok pegiat HAM mengkritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dianggap gagal melindungi warga negaranya.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.