MUI duga penyerangan oleh provokasi

Terbaru  17 Februari 2011 - 12:50 GMT
Polisi menjaga rumah Ahmadiyah di Pandeglang

Penyerangan massa ke rumah Ahmadiyah di Pandeglang menelan korban sedikitnya tiga tewas

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menduga penyerangan dengan motif sentimen agama dalam dua pekan terakhir disebabkan oleh provokasi.

Ketua Bidang Fatwa MUI, Ma'ruf Amin menolak anggapan terjadi radikalisasi penganut Islam yang menyebabkan muncul kasus penyerangan akhir-akhir ini.

Ma'ruf menduga penyerangan itu justru terjadi akibat provokasi.

"Kita terus menerus melakukan deradikalisasi tetapi ketika ada provokasi-provokasi yang memanaskan mereka, menyudutkan mereka, kemudian mereka menjadi radikal, yang tidak radikal menjadi radikal, katanya

"Seperti yang mengatakan Ahmadiyah itu hak asasi manusia, itu kebebasan nah masyarakat menjadi marah," katanya.

Polisi tak kecolongan

Pandangan semacam ini sudah beberapa kali mendapat kecaman karena dianggap justru meninggikan suhu perseteruan antar aliran penganut agama di Indonesia.

Kecaman juga dialamatkan pada kepolisian karena dianggap berkali-kali gagal mencegah aksi kekerasan terjadi.

Deputi Operasi Mabes Polri Irjen Soenarko DA usai bertemu MUI membantah anggapan polisi kecolongan, tetapi mengakui polisi mestinya memperketat deteksi dini kawasan-kawasan rawan bentrokan.

"Kita terus menerus melakukan deradikalisasi tetapi ketika ada provokasi-provokasi yang memanaskan mereka, menyudutkan mereka, kemudian mereka menjadi radikal, yang tidak radikal menjadi radikal"

Ma'ruf Amin

"Apa yang menjadi peran kepala satuan kewilayahan, mensikapi fenomena yang ada serta kepekaan dalam membaca kondisi di bawah permukaan harus lebih ditingkatkan kembali, supaya program deteksi, penangkalan bisa berhasil untuk mendukung langkah-langkah pencegahan," katanya.

Sementara itu Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Kontras, Aris Azhar, memperingatkan rentetan penyerangan masih mungkin berlanjut.

Azhar menyebut beberapa wilayah yang rawan potensi konflik sentimen agama yang biasanya ditinggali kelompok minoritas tertentu.

"Dengan situasi ini kehidupan beberapa kelompok minoritas merasa tidak nyaman karena kalau mereka keluar dari daerah dalam tanda kutip aman mereka mendapat perlakuan tidak menyenangkan atau di daerah mereka harus dijaga tentara secara berlebihan," kata Azhar.

Dalam kasus serangan terhadap warga Ahmadiyah Cikeusik, Polisi telah menetapkan delapan orang tersangka, sementara 25 tersangka ditetapkan untuk kasus perusakan bangunan dan pembakaran gereja di Temanggung.

Sedangkan dalam kasus penyerangan ponpes Al Ma'hadul Islam, Pasuruan, polisi telah menahan dan memeriksa 12 orang. Sejumlah pihak kini membentuk tim pencari fakta dalam kasus penyerangan ini, selain MUI dan Komnas HAM, DPR juga mengirim perwakilannya ke lokasi penyerangan.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.