Dalam 8 bulan, TKW Saudi dihentikan

Terbaru  16 Februari 2011 - 14:42 GMT
Raja Abdullah, penguasa Arab Saudi

Presiden SBY sempat diminta untuk bicara dengan penguasa Saudi, Raja Abdullah

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia mencanangkan target penghentian total pengiriman pembantu rumah tangga (PRT) perempuan ke Arab saudi, dalam waktu 6 smapai 8 bulan mendatang.

Indonesia, menurut juru bicara Kementrian tersebut, hanya akan mengirim pekerja sektor formal dan laki-laki.

Pengusaha jasa pengerah tenaga kerja menilai, rencana ini sekadar mengejar target kebijakan populis belaka.

Dalam catatan resmi Kementrian Tenaga Kerja, pengiriman tenaga kerja perempuan sebagai PRT sudah menurun 30% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebelum kasus penyiksaan Sumiati menjadi perhatian media.

Pemerintah mendapat kritik bertubi-tubi akibat tingginya berita penyiksaan terhadap TKW dan mendapat sejumlah tekanan agar menutup total kran PRT ke negara itu.

Imbauan inilah yang sekarang ini sedang dilakukan Kemenakertrans, kata juru bicaranya, Dita Sari.

Dita mengatakan pemberitaan yang sangat gencar tentang penyiksaan terhadap TKW di Arab Saudi dipakai sebagai momentum untuk memperketat syarat pengiriman TKI ke sana.

Sambil menunggu proses itu berhasil, pemerintah mengurangi perlahan-lahan pengiriman TKW ke Saudi.

"Itu dalam enam bulan, kalau memang diketatkan, kita bisa zero placement (berhenti mengirim-red), dikurangi secara drastis dan kalau bisa dijadikan TKI formal dan laki-laki," kata Dita.

"Selama ini kan yang dikirim ke Saudi adalah TKI informal dan perempuan pula."

Tak bisa langsung

"Kalau mau dihentikan, lalu mau dikemanakan para calon TKW itu? Karena paling tidak 35.000 orang TKW dikirimkan ke Timur Tengah tiap bulan."

Sisfery

Menurut Dita Sari, penghentian itu tidak bisa dilakukan secara mendadak karena pada saat ini ada ribuan orang calon TKW yang sedang diproses dan ribuan orang pula yang akan segera diberangkatkan.

"Kalau langsung ditutup sekarang maka akan kesulitan nanti di lapangan untuk memulangkan mereka. Tidak akan mulus pemulangan mereka karena pemerintah Saudi akan bereaksi. Jadi kita lakukan moratorium perlahan," ujar Dita.

Versi lain pengusaha pengerah jasa tenaga kerja menyebut, tingkat pengiriman TKI ke Arab Saudi melorot hingga 70 persen, karena minat tenaga kerja menurun drastis setelah berbagai pemberitaan negatif tentang nasib pekerja di sana.

Yang jelas kalangan pengerah tenaga kerja mengaku terjadi pengetatan syarat pengirim TKI antara lain dengan penetapan latihan kerja minimum 200 jam untuk calon TKI baru, serta uji kompetensi TKI sebelum berangkat.

Dengan tambahan berbagai syarat ini, rencana menutup pengiriman TKI ke Arab saudi dianggap tidak adil dan merugikan TKI, seperti dikatakan oleh pengusaha pengerah TKI yang juga ketua Gabungan Pengusaha dan Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia, Sisfery.

"Kalau mau dihentikan, lalu mau dikemanakan para calon TKW itu? Karena paling tidak 35.000 orang TKW dikirimkan ke Timur Tengah tiap bulan."

"Kalau dihitung efek gandanya, maka satu TKW berarti menghidupi enam orang. Lain lagi kalau mereka bisa mengirimkan uang lebih ke kampung dan membuat bisnis, itu malah lebih banyak lagi yang bisa diuntungkan," kata Sisfery.

"Jangan hanya memikirkan langkah populis saja," tambahnya.

Indonesia juga sempat menyetop pengiriman tenaga kerjanya ke Malaysia akibat banyaknya kasus penganiayaan, namun pemberangkatan ilegal ke negara jiran itu terus berlangsung.

Menurut catatan pemerintah, sekitar 3,2 juta WNI kini menjadi pekerja di negara asing, terbesar di Malaysia dan Arab Saudi.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.