Indonesia 'berminat membeli pesawat tempur Inggris'

Terbaru  10 Maret 2011 - 13:07 GMT
Pesawat multi-tempur Eurofighter Typhoon

The Times melaporkan Indonesia berminat membeli 24 unit pesawat tempur Eurofighter Typhoon

Surat kabar Inggris The Times melaporkan Indonesia secara informal melobi Inggris mengenai kemungkinan membeli sampai 24 unit pesawat jet multi-tempur Eurofighter Typhoon.

Penjualan itu, bila terlaksana, akan bernilai sekitar £5 miliar atau hampir Rp71 triliun.

Secara terpisah, perusahaan peralatan militer Inggris BAE Systems menawarkan untuk meremajakan pesawat-pesawat jet Hawk yang sudah dimiliki Indonesia.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Brigjen I Wayan Midhio, membenarkan bahwa memang ada pembicaraan mengenai peremajaan pesawat Hawk, namun membantah ada rencana pembelian pesawat multi-tempur Eurofighter Typhoon.

"TNI AU sedang membahas mengenai Eurocopter, helikopter Eropa. Tetapi masih dievaluasi untuk dibahas di tingkat TNI AU, belum dibahas di kementrian (pertahanan)," kata Wayan Midhio.

Beragam jenis

Indonesia berminat membeli pesawat tempur Inggris

Indonesia dilaporkan berminat membeli 24 pesawat jet multi-tempur Eurofighter Typhoon dari Inggris. Peneliti CSIS Evan Laksamana berbicara kepada Emilda Rosen.

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Tukar format AV

Saat ini Indonesia memiliki beragam jenis pesawat tempur, diantaranya pesawat Hawk buatan Inggris, F-16 buatan Amerika dan pesawat Sukhoi buatan Rusia.

Peneliti CSIS urusan pertahanan Evan Laksamana mengatakan, keragaman ini merupakan upaya diversifikasi pemerintah terhadap peralatan pertahanan, karena Indonesia beberapa kali dikenakan embargo pembelian peralatan dari negara-negara Barat seperti Amerika dan Inggris.

Pemerintah Inggris di bawah Partai Buruh pada tahun 1999 melarang penjualan peralatan pertahanan atas dugaan pesawat-pesawat pengebom buatan Inggris digunakan untuk mengebom warga sipil di Timor Timur, Papua dan Aceh.

Pada tahun yang sama Kongres Amerika menerapkan pelarangan penjualan senjata kepada Indonesia atas alasan serupa, yang baru dicabut pada tahun 2005.

Namun Evan Laksamana melihat, upaya diversifikasi pembelian senjata yang tidak dibarengi rencana jangka panjang akan menjadi masalah di kemudian hari.

"Dari segi sistemnya, dari segi maintenance, dari segi biaya yang harus dikeluarkan untuk melatih orang-orang yang sama. Dalam situasi darurat misalnya, belum tentu orang yang sudah dilatih untuk menerbangkan Sukhoi bisa menerbangkan Typhoon. Jadi biaya yang dikeluarkan akan lebih banyak," kata Evan.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.