Peringatan dini bagi pengembangan Bali

Pantai Kuta, Bali Hak atas foto AFP
Image caption Turis asing berjalan di antara sampah di Pantai Kuta, salah satu tujuan wisata utama di Bali.

Ketua Dewan Penasehat Bali Tourism Board, Bagus Suryadi, melihat kritik yang ditulis di Majalah Times sebagai sebuah peringatan dini.

Bagaimanapun Bagus Suryadi menegaskan tulisan Andrew Marshall -yang berjudul Holidays in Hell: Bali's Ongoing Woes- tidak bisa menjadi gambaran umum Bali karena lebih banyak terfokus di kawasan Kuta.

Akan halnya ada sejumlah masalah yang muncul di Bali belakangan ini, tidak ditampik oleh Bagus Suryadi.

"Terjadi ketimpangan infrastruktur, terjadi ketimpangan dalam percepatan pembanguan, terjadi jumlah migrasi yang besar. Daerah-daerah yang tidak kecipratan pariwisata cenderung semakin lenggang, dan daerah seperti Badung, Denpasar dan Gianyar -di mana parawisata booming- padat tidak karu-karuan."

"Sehingga masalah-masalah sosial itu muncul, katakanlah juga termasuk kriminalitas, kebersihan, dan kenyamanan."

Dan Bagus mengaku sebenarnya sudah lama melihat kenyataan tentang meningkatnya masalah-masalah sosial di Bali tersebut.

Sejumlah masalah

Dalam tulisannya, Andrew Marshall mengutip plesetan film Eat Love Pray -yang dibintangi Julia Roberts dan sebagian adegannya terjadi di Bali- menjadi Eat Love Duck.

Film Eat Love Pray -yang diangkat dari novel karya Elizabeth Gilbert- mengisahkan Julia Roberts yang melakukan perjalanan ke beberapa tempat bertema makan di Italia, berdoa di India, dan bercinta di Bali, dengan suasana yang damai dan eksotis.

Namun karena kriminalitas yang meningkat, Andrew Marshall mengutip plesetan Eat Love Duck, karena di Bali temanya adalah menunduk atau mengelak karena kriminalitas yang dianggap meningkat.

Dan kriminalitas bukan hanya satu-satunya masalah yang dihadapi, juga ada masalah kemacetan lalu lintas, dan sampah yang tidak dikelola dengan baik.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Masalah-masalah tersebut diakui oleh Made Wijaya, seorang warga Australia yang nama lahirnya Michael White dan sudah tinggal di Bali selama 30 tahun lebih.

"Jalannya macet. Beberapa kali sudah coba bikin jalan by pass kan tidak sukses. Selalu jalur hijaunya dimakan sama warung, sama segalanya. Tidak bisa ditata, kurang ditangani secara profesioonal."

Made Wijaya mengatakan sekarang ini perjalanan dari Bandara Ngurah Rai ke Sanur memerlukan waktu sekitar dua jam padahal dulu cukup sekitar dua puluh menit.

Pada satu sisi, Made mengatakan bahwa secara komersial bisa dikatakan bahwa pariwisata Bali berkembang pesat, namun dengan membawa kelemahan.

"Wisatawan sekarang cuma anggap Bali sebagai tempat murahan untuk eksotis, untuk pantai, untuk seks," tuturnya.

Padahal, menurut Made Wijaya, Bali seharusnya dipromosikan sebagai tujuan pariwisata budaya yang unik yang menjadi kebanggan Indonesia.

Otonomi khusus

Hak atas foto AFP
Image caption Sebuah Perda tentang sampah di Bali akan segera dikeluarkan.

Bagus Suryadi berpendapat bahwa selama ini masing-masing kabupaten memiliki kebijakan masing-masing sehingga sulit ditempuh koordinasi yang membuat percepatan pembangunan di Bali sangat bersifat kewilayahan.

Oleh karena itu Bali sebenarnya sudah meminta agar bisa diberi semacam otonomi khusus berhubung UU Otonomi Daerah yang ada selama ini membuat hubungan antara provinsi dan kabupaten kurang berjalan baik.

"Koordianasi gubernur dengan bupati itu lebih konkrit, lebih jelas sehingag gubernur bisa memgkordinasikan dengan kewenangan yang jelas oleh satu undang-undang," jelas Ketua Dewan Penasehat Bali Toursim Board itu kepada BBC Indonesia.

Bagus mengaku otonomi daerah selama ini sudah membuat para bupati merasakan independensi, maka jelas tidak mudah untuk menjadikan Bali sebagai daerah dengan otonomi khusus.

Selain itu pemberian otonomi khusus kepada Bali jelas membutuhkan keputusan politik di tingkat nasional, yang membuat prosesnya sulit.

Namun secara praktis segear akan dikeluarkan Perda tentang sampah di Bali, yang diharapkan bisa mengatasi masalah sampah karena akan ditangani secara lebih terkoordinir dan tuntas.

Berita terkait