Indonesia tak khawatir dengan larangan ekspor sapi

Terbaru  9 Juni 2011 - 14:36 WIB
Sapi

Australia melarang ekspor sapi ke Indonesia selama enam bulan.

Menteri Pertanian, Suswono, menegaskan Indonesia tidak menghadapi masalah akibat larangan ekspor sapi dari Australia.

"Penghentian itu haknya Australia. Kita punya kepentingan dan momentum yang bagus untuk melihat produk dalam negeri. Ini saat yang baik untuk memanfaatkan momentum ini guna mengambil sapi-sapi lokal," kata Suswono saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR, Kamis 9 Juni 2011.

Dalam kesempatan itu -seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia Sri Lestari- Menteri Pertanian juga menegaskan bahwa Indonesia tidak khawatir dengan keputusan Australia walau mempertanyakan keputusan yang diambil terlalu cepat.

"Australia terlalu cepat mengambil keputusan karena belum investigasi. Menteri Pertanian Australia sudah telepon dan dan akan melakukan investigasi bersama pekan depan. Pemerintah Australia mengambil keputusan karena ada tekanan dari media dan masyarakat."

Kepada BBC Indonesia, Rabu (08/06), Suswono menjelaskan belum bisa diketahui secara pasti persentase dari sapi Australia terhadap kebutuhan di Indonesia karena Indonesia saat ini sedang melakukan sensus sapi.

Namun ditegaskan bahwa stok sapi bagi kebutuhan dalam negeri cukup untuk tiga hingga empat bulan ke depan.

"Jika ada kekurangan maka alternatifnya bukan dari Australia tapi dari Selandia Baru atau negara lain yang memenuhi persyaratan Indonesia. Dan jika tidak cukup juga maka bisa impor daging dan itu tidak harus dari Australia," tutur Suswono dalam wawancara dengan BBC Indonesia.

Indonesia merencanakan pengurangan ekspor ternak secara bertahap dengan sasaran swasembada pada tahun 2014.

Kekhawatiran di Australia

"Australia terlalu cepat mengambil keputusan karena belum investigasi. Menteri Pertanian Australia sudah telepon dan dan akan melakukan investigasi bersama pekan depan"

Suswono

Pemerintah Australia menghentikan ekspor ternak hidup ke Indonesia mulai Rabu 8 Juni untuk sementara waktu selama enam bulan.

Keputusan itu diambil menyusul penyelidikan lembaga penyiaran ABC yang memperlihatkan sapi-sapi asal Australia disembelih secara kejam di beberapa rumah potong hewan di Indonesia.

Rekaman video ABC itu menimbulkan kemarahan di kalangan masyarakat yang menjadi tekanan bagi pemerintah untuk menghentikan sementara ekspor sapi.

Australia mengekspor 700.000 ternak setiap tahunnya dan sebagian besar dengan tujuan Indonesia.

Nilai perdagagan ekspor sapi hidup ke Indonesia diperkirakan sekitar Rp3 triliun per tahunnya.

Beberapa peternak Australia khawatir jika larangan ekspor bisa berdampak pada peternakan di kawasan pedesaan.

Film dokumentasi yang diproduksi ABC itu juga menyebabkan turunnya penjualan daging sapi hingga 15% di Australia.

Bagaimanapun Luke Bowen dari Asosiasi Peternak Northern Territory mengatakan bisa menerima keputusan pemerintahnya walau menyebabkan kerugian ekonomi.

Kemudahan kredit

Sementara itu Ketua Perhimpunan Peternak Sapi-Kerbau Indonesia, Teguh Budiyana, mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa peternak lokal siap memenuhi kebutuhan daging dalam negeri untuk jangka waktu enam bulan kedepan.

Bagaimanapun untuk lebih lama dari itu, mereka masih belum siap.

"Untuk long term tetap perlu dukungan (dari pemerintah) karena kenyataannya 35% kebutuhan daging kan masih haru diimpor dan 50% dari kebutuhan daging itu dalam bentuk sapi hidup. Jadi kita ambil saja angka 500.000 ekor tadi yang harus disubstitusi dengan sapi lokal selain juga daging bekunya tentu saja," ujar Teguh.

Teguh menambahkan pemerintah perlu memberi kemudahan kredit kepada peternak rakyat agar bisa mengembangkan usahanya.

"Rakyat masih mengalami kesulitan untuk mengkakses kredit tersebut," kata Teguh.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.