'Potensi kerugian Indonesia' Rp13 triliun

Terbaru  25 Juni 2011 - 21:41 WIB
Protes di Jakarta untuk menentang pemancungan Ruyati

Protes di Jakarta menentang pemancungan Ruyati di Arab Saudi

Indonesia berpotensi merugi 6 miliar riyal atau sekitar Rp13 triliun per tahun akibat pemberlakukan moratorium TKI ke Arab Saudi mulai 1 Agustus, kata asosiasi perusahaan tenaga kerja Arab Saudi.

Kepala Komite Perekrutan Tenaga Kerja Nasional Arab Saudi (SANARCOM) Saad Al-Baddah, seperti dikutip media Arab, mengatakan dampak kerugian akan dirasakan oleh jutaan keluarga di Indonesia.

"Sekitar 1,5 juta keluarga di Indonesia akan kehilangan sumber pendapatan sebagai akibat keputusan ini," kata Al-Baddah.

Dia menyebut penghentian sementara pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Saudi merupakan urusan dalam negeri Indonesia dan Saudi mempunyai banyak sumber tenaga kerja rumah tangga meski dia tidak menyebut negara-negara yang dimaksud.

Moratorium pengiriman TKI ke Saudi ditempuh menyusul pemancungan seorang tenaga kerja, Ruyati, di Mekah, Sabtu lalu (18/6).

Menanggapi pernyataan Saad Al-Baddah, Konsul Indonesia untuk Perlindungan WNI KJRI Jeddah, Didi Wahyudi, menegaskan nyawa tenaga kerja Indonesia tidak bisa dihargai dengan apa pun.

"Saya tidak tahu apakah itu rugi atau untung tetapi nyawa tidak ada nilanya. Harga diri juga tidak ada nilainya," kata Didi Wahyudi kepada BBC Indonesia.

Gaji tidak dibayar

Memang, lanjutnya, masalah potensi kerugian ini banyak dibicarakan di media Arab Saudi yang disuarakan oleh perusahaan perekrutan.

"Mereka mengatakan Indonesia rugi sendiri, padahal mereka (SANARCOM) yang rugi karena mereka berdagang dengan cara itu," tuturnya.

"Sekarang ini kasus-kasus (gaji TKI tidak dibayar oleh majikan) yang kita pegang setahun lebih dari 1.000 kasus"

Didi Wahyudi

Potensi kerugian terdiri dari komponen pembayaran uang rekrutmen kepada perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia untuk setiap pengiriman TKI ke Saudi dan juga komponen gaji yang diterima TKI.

Tetapi sejauh ini pembayaran gaji tenaga kerja, terutama penata laksana rumah tangga, tidak selalu mulus.

"Kalau di atas kertas ya, kalau setiap TKI mengirim ke Indonesia tentunya akan ada yang namanya itu.

"Sekarang ini kasus-kasus (gaji TKI tidak dibayar oleh majikan) yang kita pegang setahun lebih dari 1.000 kasus, di mana setiap orang tidak kurang dari lima bulan bahkan ada yang di atas 10 tahun. Apakah itu devisa Indonesia," tanya Didi.

Saudi klaim Indonesia akan rugi besar

Wawancara Rohmatin Bonasir dengan konsul Indonesia untuk perlindungan WNI, KJRI Jeddah, Didi Wahyudi, tentang klaim Komite Perekrutan Tenaga Kerja Arab Saudi bahwa Indonesia akan merugi Rp13 triliun per tahun karena menghentikan pengiriman TKI ke sana.

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Putar dengan media player alternatif

Meski asosiasi perusahaan tenaga kerja Arab Saudi mengaku tidak kesulitan mencari sumber alternatif untuk penata laksana tangga, pada umumnya warga biasa Arab Saudi menyesalkan penghentian pengiriman TKI.

"Karena bagaimanapun juga, tenaga kerja Indonesia khususnya yang house maid (penata laksana rumah tangga) itu sangat dipercaya di sini dengan bekerja sepenuh hati, sepenuh tenaga," tuturnya.

Jumlah tenaga kerja yang bekerja di Arab Saudi secara resmi diperkirakan mencapai 1 juta orang, 90% diantaranya bekerja sebagai penata laksana rumah tangga.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.