Popularitas SBY turun, PD tolak hasil survei LSI

Terbaru  26 Juni 2011 - 20:36 WIB
Presidien SBY dan PM Naoto Kan

Presidien Susilo Bambang Yudhoyono bertemu dan PM Jepang Naoto Kan

Popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhyonyo menurun, demikian hasil jajak pendapat LSI (Lingkaran Survei Indonesia).

Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Sunarto Ciptoharjono, mengatakan di depan jumpa pers tentang hasil jajak pendapat tersebut bahwa Presiden SBY bisa senasib dengan mantan presiden Megawati Soekarnoputri.

"Jika tak ada big bang, SBY akan mengalami nasib yang sama seperti Megawati di 2004, yang tak lagi punya pesona untuk mengangkat popularitas partainya sendiri, ataupun putra atau putri mahkotanya di tahun 2014," kata Sunarto.

Dia menambahkan, SBY bisa menghindarkan kemerosotan lebih lanjut tingkat popularitasnya jika dia bisa menunjukkan capaian besar dalam sisa-sisa masa jabatannya.

Akan tetapi, Wasekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, mengatakan kepada media bahwa hasil survei LSI yang menunjukkan penurunan popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai "pernyataan politik" dari seorang lawan.

Menurut politisi Demokrat ini, LSI tidak merumuskan pertanyaan yang relevan dalam jajak pendapat itu.

Dia misalnya menunjuk pengaitan nama SBY dengan kasus Muhammad Nazaruddin, mantan bendahara umum PD yang tersangkut kasup korupsi.

"Jika tak ada big bang, SBY akan mengalami nasib yang sama seperti Megawati di 2004, yang tak lagi punya pesona untuk mengsangkat popularitas partainya sendiri, ataupun putra atau putri mahkotanya di tahun 2014."

Sunarto Ciptoharjono, LSI

Nazaruddin masih berada di Singapura dengan alasan sakit. Dia dipanggil KPK untuk diperiksa oleh badan antikorupsi ini.

Drastis

Hasil survei yang dilakukan antara 1 sampai 7 Juni 2011 dengan 1.200 responden itu menunjukkan popularitas SBY turun dari 56,7% pada bulan Januari 2011 ke posisi 47,2% pada bulan ini atau sama dengan 9,5%.

Inilah untuk pertama kali popularitas SBY merosot ke bawah 50% sejak dia memenangkan pemilihan presiden 2009.

Menurut Sunarto, ada sejumlah faktor penting yang menyebabkan populasitas SBY turun antara lain kasus-kasus korupsi yang masih belum tuntas penyelesaiannya.

Dia mengambil contoh kasus Bank Century, kasus Ahmadiyah, tidak kekerasan termasuk juga kasus mantan bendahara umum PD, Muhammad Nazaruddin.

Cara SBY menanggapi sorotan dari masyarakat terhadap dirinya, juga menjadi penyebab popularitasnya turun. Menurut Sunarto, SBY terlalu reaktif dalam menyikapi kasus yang melibatkan nama dirirnya.

Namun di lain pihak, kata Sunarto, SBY lambat bereaksi. Dia mencontohkan reaksi cepat terhadap isu SMS yang terkait masalah Nazaruddin, sementara terhadap berita hukum pancung Ruyati reaksinya jauh lebih lambat.

Pegang rahasia

Demo anti-PDdemokrat

Para pengunjuk rasa berpakaian biru Demokrat di depan kantor KPK, mencela Nazaruddin

Faktor lain yang disebut ikut merusak popularitas SBY adalah kasus Nazaruddin sendiri.

Survei menunjukkan bahwa SBY tidak berdaya menghadapi masalah internal partainya. Contoh yang paling besar, menurut Sunarto, adalah penolakan Nazaruddin untuk memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus korupsi.

"Nazaruddin memegang kotak pandoras," ujar Sunarto menambahkan.

Sejak kasus Nazaruddin terbongkar dan banyak diberitakan oleh media massa, banyak kalangan yang meragukan keseriusan SBY memberantas korupsi di Indonesia.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.