Pasangan lesbian Aceh dipisah

Cincin kawin Hak atas foto bbc
Image caption Kasus dugaan pemalsuan identitas Ranto dilimpahkan ke kepolisian

Sepasang suami isteri sesama perempuan di Aceh dipaksa pisah dan tidak boleh bertemu lagi setelah sempat ditahan selama tiga hari karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

Pasangan Nuraini, 21 dan 'suaminya' Ranto atau Rohani, 35, sebelumnya tinggal satu rumah di Kabupaten Aceh Barat Daya tetapi Rabu kemarin (24/8) dikembalikan kepada keluarga masing-masing. Satpol PP kemudian akan mengawasi mereka.

"Mereka tidak boleh berjumpa lagi. Diharamkan oleh agama itu tidak boleh. Mereka akan dijaga keluarga masing-masing dengan pengawasan kami," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Aceh Barat Daya Mudassir kepada BBC Indonesia.

Namun, kata Mudassir, pihak berwenang kesulitan memproses kasus ini secara hukum karena pernikahan sejenis belum disentuh dalam Perda syariah Aceh atau qanun sehingga mereka hanya diberi nasehat dan peringatan kemudian dibebaskan.

Kasus ini mencuat setelah sepasang perempuan itu ditangkap warga Desa Gampong Blang Padang, Kabupaten Aceh Barat Daya, Minggu malam, karena diduga menjalin pernikahan ilegal. Mereka dikatakan menjalin hubungan layaknya suami isteri sejak lima bulan lalu.

Pemalsuan identitas

Menurut Mudassir, pasangan tersebut tidak mengaku siapa yang menikahkan mereka namun sejumlah laporan menyebutkan mereka dianjurkan menikah oleh seorang kepala dusun di Kabupaten Nagan Raya, dusun asal Ranto.

Mereka dianjurkan menikah karena kepala dusun dan warga keberatan mereka tinggal serumah tanpa menikah.

Ranto dilaporkan setuju menikah dan membantah dia telah memalsukan identitas karena sejak awal dibuat jenis kelamin di KTP tertera laki-laki.

Dia mengaku sejak kecil berpenampilan dan berkarakter layaknya seorang laki-laki.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Aceh Barat Daya Mudassir mengatakan kasus dugaan pemalsuan identitas ini sekarang dilimpahkan ke kepolisian tetapi belum ada pihak-pihak yang mengadukan persoalan itu sehingga mungkin sulit ditindaklanjuti.

Pemalsuan identitas dalam pernikahan sesama jenis juga pernah terjadi di Bekasi. Rahmat Sulistyo, alias Icha, mengaku sebagai perempuan dan menikah dengan Muhamad Umar.

Kasus mereka ditangani PN Bekasi.