Sidang PK kasus Antasari Azhar

Antasari Azhar
Image caption Antasari Azhar mengklaim memiliki bukti baru kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain.

Antasari Azhar, terpidana kasus pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnain, hari Selasa (6/9) menyampaikan memori Peninjauan Kembali PK di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam memori PK, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia Heyder Affan, mantan Ketua KPK ini mengajukan beberapa bukti baru atau novum dalam perkara tersebut.

Dari bukti-bukti baru itu, menurut pengacara Antasari Azhar, Maqdir Ismail, "menunjukkan fakta bahwa Pak Antasari tidak terkait dalam perkara pembunuhan ini."

Di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta, Antasari dan para pengacaranya kemudian menyebut beberapa bukti baru itu, antara lain berupa 28 lembar foto tentang luka tembak pada tubuh korban, yang menurut mereka menunjukkan jenazah korban sudah dimanipulasi.

Bukti-bukti foto

"Foto-foto itu jelas menunjukkan ada dua luka paralel pada kepala sebelah kiri, dan kepala korban bagian kanan belakang," ungkap Maqdir Ismail, dalam membacakan memori PK setebal sekitar 200 halaman.

"Tetapi," lanjut Maqdir, "pada mobil korban, bekas tembakan itu satu di atas dan di bawah. Ini kan vertikal," jelasnya.

"Jadi tidak mungkin, menurut akal sehat kami, bekas tembakan vertikal itu akan terlihat paralel pada tubuh korban".

Disaksikan pengunjung sidang yang memenuhi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Antasari juga menunjukkan bukti-bukti baru lainnya, yaitu bukti hasil penyadapan KPK atas nomor telepon Nasrudin dan Antasari.

"Hasil penyadapan KPK, membuktikan bahwa klien kami tidak pernah mengirim SMS (berupa ancaman) kepada almarhum," jelas Maqdir.

Dari bukti-bukti baru inilah, Antasari meminta agar Mahkamah Agung membebaskan dirinya dari dakwaan bersalah melakukan tindakkan pembunuhan.

Hukuman 18 tahun penjara

Image caption Di hadapan wartawan, Antasari mengulangi keyakinannya tak terlibat perkara pembunuhan Nasrudin Zulkarnain.

Memori PK diajukan Antasari Azhar setelah MA menolak upaya kasasinya.

Terpidana pembunuhan Direktur Putra Rajawali, Banjaran Nasruddin Zulkarnaen, ini kemudian tetap dihukum 18 tahun penjara, seperti vonis Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam putusannya, majelis hakim PN Jaksel menganggap Antasari terbukti turut serta menganjurkan pembunuhan berencana terhadap Nasruddin.

Nasruddin ditembak setelah bermain golf di Padang Golf Modernland, Cikokol, Tangerang, sekitar pukul 14.00, Sabtu 14 Maret 2009.

Dia meninggal sekitar 22 jam kemudian dengan dua peluru bersarang di kepalanya.

Sejak awal Antasari menolak vonis ini dan menganggap persidangan atas dirinya penuh rekayasa.

"Lihat muka saya, lihat gerak saya, apakah saya seorang pembunuh," kata Antasari, mengulangi keyakinannya itu dalam jumpa pers, usai pembacaan memori PK, Selasa (06/09).

Terhadap memori PK yang diajukan Antasari, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan --yang menampung upaya PK ini- akan memberi kesempatan kepada jaksa penuntut untuk menanggapinya, pada Selasa (13/09) pekan depan.

Dan pada sidang lanjutannya, pihak Antasari diberi kesempatan untuk mengajukan saksi ahli, sebelum akhirnya PN Jaksel menyerahkan memori PK ini kepada Mahkamah Agung.

Berita terkait