Tujuh tahun pembunuhan pegiat HAM Munir

Terbaru  7 September 2011 - 14:10 WIB
Unjuk ras di depan istana

Unjuk rasa menuntut pengusutan kasus pembunuhan pegiat HAM Munir terus disuarakan.

Tujuh tahun setelah pegiat HAM Munir dibunuh, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan aparat hukumnya dianggap tidak pernah serius mengungkap dan menangkap siapa otak di balik kasus pembunuhan tersebut.

Ketidakseriusan pemerintah itu, menurut istri mendiang Munir, Suciwati, antara lain terlihat dari sikap Presiden SBY yang tidak aktif menanyakan perkembangan kasus Munir kepada aparat hukumnya.

"Kalau SBY serius, dia bisa bertanya kepada Jaksa Agung kenapa novum, atau bukti-bukti baru tidak ada, dan kenapa rekaman telepon yang sudah ditemukan polisi, dan seharusnya menjadi bukti, tidak ada di pengadilan," kata Suciwati kepada wartawan BBC Indonesia.

Padahal menurut Suciwati, SBY punya legitimasi untuk menanyakan hal itu kepada aparat hukum.

"Itu yang harus ditujukan, bukan (pernyataan) soal diserahkan kepada hukum," kata Suci dengan nada bergetar dalam wawancara per telepon dengan BBC Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, ketika menyinggung soal penanganan kasus hukum, Presiden Yudhoyono acap berkata "kita serahkan kepada aparat hukum".

Suciwati mempertanyakan kalimat presiden tersebut, yang disebutnya sebagai "...bersembunyi di balik atas nama hukum."

Ketidakseriusan pemerintah lainnya, tambah Suci, terlihat dari sikap pemerintah yang mengurangi masa hukuman Pollycarpus Budiharipriyanto -mantan pilot Garuda yang merupakan salah seorang terdakwa pelaku pembunuh Munir.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan pembunuhan Munir kembali menitikberatkan kepada tuntutan agar pemerintah serius mengungkap dalang pembunuh Munir.

Orasi di depan istana

"Kalau SBY serius, dia bisa bertanya kepada Jaksa Agung kenapa novum tidak ada... dan kenapa rekaman telepon yang sudah ditemukan polisi, dan seharusnya menjadi bukti, tidak ada di pengadilan?"

Suciwati, istri mendiang Munir

Hari Rabu (7/9), para pegiat penegakan HAM serta orang-orang yang bersimpati kepada mendiang Munir menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka untuk menuntut kepedulian Presiden SBY dalam menuntaskan kasus ini.

Pegiat HAM dan koordinator aksi ini, Choirul Anam, menyatakan, dalam kasus Munir, tidak ada kemajuan proses hukum yang telah dilakukan pemerintahan SBY.

"Bahkan, saya mencatat ada pelemahan," kata Anam di depan Istana Merdeka.

Meskipun demikian, tambahnya, aksi menagih janji kepada pemerintah untuk serius mengungkap kasus Munir, akan terus berlangsung.

"Sampai tua akan tetap saya lakukan," kata Choirul, bersemangat. "Usia saya sekarang 30-an tahun, jadi sampai 20 tahun lagi, saya masih kuat melakukannya."

Dalam unjuk rasa itu, para pengunjuk rasa yang berjumlah sekitar 20 orang bergantian berorasi. Mereka juga membawa poster dan spanduk yang berisi tuntutan pengungkapan kasus pembunuhan Munir.

Tidak pernah mati

Munir meninggal akibat diracun dalam penerbangan Garuda Indonesia ke Amsterdam, Belanda.

Sementara Suciwati mengatakan gugatan terhadap penanganan kasus pembunuhan suaminya akan terus berlangsung selama belum ada keadilan.

"Itu tidak akan mati, akan terus hidup... tidak harus lewat saya atau aktivis HAM, tapi akan (ditandai berupa) lahirnya orang-orang baru yang akan terus menanyakan kebenaran itu," tandasnya.

Munir meninggal saat dalam penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda, 7 September 2004 lalu.

Rencananya, lelaki asal Kota Batu, Jawa Timur ini melanjutkan studi di negara itu.

Otopsi yang dilakukan pihak berwenang di Belanda atas jenazah Munir memperlihatkan adanya kandungan arsenik yang tinggi.

Muchdi PR, mantan pejabat Badan Intelijen Negara, sempat didakwa terkait perkara pembunuhan Munir, namun kemudian dibebaskan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, tahun 2008 lalu.

Upaya kasasi jaksa penuntut ditolak Mahkamah Agung, yang tetap mengukuhkan pembebasan Muchdi PR.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.