Upaya mengurangi hukuman mati TKI di Singapura

Terbaru  15 Desember 2011 - 16:08 WIB
Penjara

Vitria telah mendekam dua tahun di penjara karena pembunuhan terhadap majikan.

Pihak Kedutaan Indonesia di Singapura mengupayakan agar pengadilan Singapura mengurangi ancaman hukuman terhadap seorang TKI Indonesia dari hukuman mati menjadi seumur hidup.

Emil Harry Dewantara, Sekretaris Ketiga fungsi Perlindungan TKI KBRI Singapura mengatakan Vitria Depsi Wahyuni yang berasal dari Jember, Jawa Timur telah dua tahun mendekam di penjara.

Vitria dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap majikan perempuannya pada November 2009.

"KBRI mengupayakan agar Vitria mendapat keringanan hukuman dari hukuman gantung, menjadi hukuman seumur hidup dengan pertimbangan usianya yang masih belia," kata Emil kepada BBC Indonesia.

Anis Hidayah dari LSM Migrant Care yang banyak mengurus soal tenaga kerja Indonesia di luar negeri menyatakan pihaknya pernah melakukan upaya serupa sebelumnya.

"Tahun 2005, TKI Siti Aminah juga dari Jember bebas dari hukuman mati. Usianya juga masih 16 tahun. Migrant Care bersama KBRI Singapura membantu mengklarifikasi bahwa ia korban pemalsuan dokumen," kata Anis.

Siti Aminah waktu itu divonis enam tahun dan kini telah bebas.

Bukti akte kelahiran

"Kami mendeteksi hal yang sama bisa diwujudkan dalam kasus Vitria, seperti yang terjadi dalam kasus Siti Aminah," kata Anis.

Meski sudah dua tahun di penjara, Vitria belum diadili karena proses pemeriksaan kesehatan kejiwaannya masih belum selesai.

Vitria masuk ke Singapura dengan memalsukan umurnya. Usia minimal untuk pekerja migrant di Singapura adalah 23 tahun.

"Saat kasus itu terjadi, Vitria baru berumur 16 tahun," kata Emil.

KBRI membentuk tim pengacara untuk Vitria. Tim tersebut mendampingi kepolisian Singapura mendatangi rumah keluarga di Jember untuk mendapat bukti otentik mengenai usia Vitria dan mengetahui alasan remaja tersebut bekerja di luar negeri.

"Mereka mendapat gambaran tentang situasi yang bersangkutan, mengapa ia pergi bekerja dan diketahui bahwa ayahnya sakit paru-paru sehingga ia perlu membantu perekonomian keluarga karena ibunya tak bekerja," tutur Emil.

Kasus Vitria baru terangkat ke publik, setelah diumumkan oleh juru bicara Satgas perlindungan TKI di luar negeri, Humprey Djemat pekan lalu.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.