Profesor Soma, totalitas ahli burung kelas dunia

Terbaru  17 Desember 2011 - 14:02 WIB

Profesor Soekarja Somadikarta memilih mengembangkan ilmu perburungan secara total.

Selama hampir setengah abad Soekarja Somadikarta mencurahkan segenap pikiran dan perasaannya demi memajukan ilmu perburungan atau ornitologi.

Totalitasnya yang luar biasa ini, kelak membuahkan pengakuan, penghormatan dan penghargaan dunia internasional terhadap dirinya.

“Saya menyukai pekerjaan itu. Dan kalau menyukainya, (maka saya) harus perfect,” kata Profesor Soekarja Somadikarta, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu (30/11) November lalu.

“Kalau asal-asal saja, pekerjaan tidak beres kan,” tandas Profesor Soma, panggilan akrab lelaki kelahiran 21 April 1930 di Bandung, Jawa Barat, ini.

Lebih dari itu, puluhan tahun aktif mendidik, menulis dan meneliti seluk-beluk ilmu perburungan, membuatnya diakui pula sebagai peletak dasar ilmu perburungan di Indonesia.

Sebutan sebagai ahli ornitologi pun dilekatkan pada peraih gelar doktor di Freie Universitat Berlin (1959) ini.

Padahal, menurutnya, ornitologi bukanlah pilihan awalnya ketika menjadi staf pengajar di Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia di Bogor (yang kelak menjadi Institut Pertanian Bogor).

"Saya menyukai pekerjaan itu. Dan kalau menyukainya, (maka saya) harus perfect."

Soekarja Somadikarta

“Itu sebetulnya kecelakaan,” akunya seraya tertawa.

“Karena disertasi saya bukan mengenai burung, malah mengenai pacet,” tambahnya, mengenang.

Namun lantaran rekan-rekannya tak ada satu pun yang memilih ornitologi, Soma kemudian secara sukarela memilih bidang ilmu yang tidak diminati banyak orang itu.

“...Burung yang begitu banyak koleksinya, ndak ada yang milih. Nah, saya katakan: saya pilih itu...”

Perfeksionis

Rupanya dari kalimat itulah, Profesor Soma – yang baru saja meraih penghargaan Habibie Award 2011 atas dedikasinya pada bidang ilmu dasar, November lalu – kemudian mulai tertarik ilmu taksonomi perburungan.

Di ruang kerjanya, Profesor Soma mengaku mencintai profesinya sebagai peneliti ilmu perburungan.

Apalagi, awal 1960, menurutnya, tidak ada peneliti Indonesia yang menerbitkan penelitian tentang dunia perburungan di negaranya sendiri.

Kenyataan ini sempat dipertanyakan para ahli mancanegara, sekaligus membuat Soekarja makin termotivasi untuk menekuni ilmu tersebut.

“Dan saya langsung baca (buku tentang ornitologi) semuanya, terus saya kontak yang jago-jago ornitologi (dari mancanegara), yang pernah bekerja di Indonesia,” ungkap anak pertama dari lima bersaudara ini, mulai bercerita.

Dalam perjalanannya, Soma kemudian mencintai dunianya ini, sehingga segenap pikiran dan perasaan dia curahkan sepenuh hati.

"Saya selalu I have do it with pleasure."

Soekarja Somadikarta

Pada saatnya, sikap seperti ini membuatnya tidak goyah ketika godaan materi membuat sebagian rekan-rekannya memilih meninggalkan dunia akademis.

“Saya selalu beranggapan, seperti dikatakan Aristoles (filosof Yunani): Pleasure in the job puts perfection in the work,” katanya.

“Jadi saya menyukai pekerjaan itu, dan kalau menyukai (bidang pekerjaan itu), maka saya harus perfect,” jelas Soekarja, yang telah diakui oleh empat perhimpunan burung internasional sebagai salah-seorang ornitolog yang eminent di dunia.

“Kalau asal-asal saja, pekerjaan tidak beres,” katanya lagi.

“Jadi saya selalu I have do it with pleasure,” tandas Soma.

Berbuat baik

Selama wawancara, Profesor Somadikarta berulangkali mengatakan tekadnya untuk selalu “berbuat baik” kepada siapapun.

Keinginannya untuk berbuat baik itu, menurut Soma, merupakan kuncinya selama mengarungi hidup.

“Saya beruntung punya orang tua yang baik. Mereka tekankan agar saya berbuat baik kepada semua orang,” katanya.

Somadikarta menjauhi stres dengan cara menerima takdir.

Inilah yang membuat dirinya “tidak pernah punya musuh”.

Barangkali filosofi hidup seperti ini yang membuatnya tetap sehat pada usianya yang menginjak 81 tahun.

Profesor yang sudah malang-melintang di dunia akademis itu, terlihat semangat, dan lancar setiap menjawab pertanyaan.

“Dan saya tidak mau stres,” katanya, melanjutkan strateginya menjalani hidup.

“Dan kalau saya sudah berusaha sekuat tenaga, dan saya tidak dapat, itu takdir saya,” katanya lagi.

“Saya menerima takdir,” kata Somadikarta yang sering dilibatkan dalam penelitian dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri ini.

“Jadi saya menghilangkan stres, hanya (dengan cara) itu”.

Dia juga mensyukuri pilihannya menekuni dunia akademis, dan tidak tergoda masuk dalam dunia birokrasi yang mungkin lebih menjanjikan secara materi.

Meneliti dan menulis jurnal

Sikap konsisten dalam menekuni dunia akademis itu, kemudian dia tindaklanjuti dengan rajin meneliti dan menuliskannya pada berbagai jurnal ilmiah di luar negeri.

Karya tulisannya itu, nantinya dibaca dan didiskusikan oleh para ahli ornitologi dari berbagi perguruan tinggi terkemuka di berbagai negara maju.

"Setiap penemuan saya yang baik, dan diakui dunia internasional, itu kesenangan yang luar biasa, meski saya tidak beruang."

Soekarja Somadikarta

Mengetahui ada warga Indonesia yang tekun mendalami ilmu yang tidak diminati itu, padahal Indonesia dikenal kaya akan jenis burung, membuat berbagai lembaga penelitian 'melirik' Somadikarta.

Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Taksonomi Fauna Indonesia (2004-sekarang) ini, lantas ditawari untuk melakukan penelitian terkait dunia perburungan.

“Karena mereka mengetahui saya dari publikasi-publikasi saya, terus saya ditawari grand-grand (dana penelitian),” ungkap anggota senior The International Ornithologists Union (2004-sekarang).

Somadikarta lantas berkisah, sebelum pensiun pada 2000 lalu, hampir tiap tahun dia bepergian ke luar negeri untuk melakukan penelitian – utamanya ke Inggris, Perancis dan Belanda.

Menurutnya, kepercayaan – untuk melakukan penelitian terkait ornitologi – yang diberikan berbagai perguruan tinggi di negara maju, merupakan penghargaan yang setimpal atas totalitasnya pada dunia keilmuan.

Berbagai tulisannya yang terbesar di berbagai jurnal ilmiah, membuat Profesor Soma ditawari melakukan penelitian tentang burung.

“Padahal, saya tidak pernah meminta (untuk melakukan penelitian). Mereka tahu dari publikasi tulisan saya di jurnal-jurnal ilmiah,” katanya, menegaskan.

Sekarang ratusan karya ilmiah dan tulisan miliknya banyak menghiasi perpustakaan berbagai perguruan tinggi. Sebagian karyanya bahkan terus menjadi rujukan oleh para peneliti, dosen serta mahasiswa di bidang ornitologi.

“Setiap penemuan saya yang baik, dan diakui dunia internasional, itu kesenangan yang luar biasa, meski saya tidak beruang,” ujarnya, dengan kalimat yang datar.

Selama bergelut di kancah penelitian itu, mantan Dekan FMIPA Universitas Indonesia (1978-1984) ini mengaku selalu mengedepankan kejujuran – selain kecintaan itu tadi, tentu saja.

“Kalau scientist tidak jujur, habis deh semuanya. Coba misalkan membuat pesawat terbang, kalau penghitungannya tidak jujur, bisa hancur kan,” ungkapnya.

Klasifikasi burung

Selama wawancara, Profesor Soma terlihat sangat bersemangat ketika saya mulai menanyakan apa-apa yang terkait dengan ilmu perburungan.

"Jadi, saya meluruskan klasifikasi burung yang (sudah berusia)150 tahun. Dan, mereka menyetujui hasil kesimpulan saya. Aduh, saya senangnya bukan main."

Soekarja Somadikarta

Mengenakan kaos polo, Profesor Soma sempat pula mengajak BBC Indonesia ke perpustakaan pribadinya, yang berisi ribuan koleksi buku-bukunya. (“Almarhum istri saya yang mendisain perpustakaan ini,” ungkapnya, mengenang istrinya yang berlatarbelakang sarjana perpustakaan).

Antusiasme yang meluap-luap juga dia tunjukkan ketika hasil penelitiannya terkait klasifikasi burung dihargai secara intelektual oleh dunia internasional.

Dengan ingatan yang masih terjaga, Somadikarta kemudian mencontohkan ketika hasil penelitiannya tentang klasifikasi burung, belakangan dibenarkan secara ilmiah.

Hasil penelitiannya yang meluruskan keyakinan yang sudah berumur 150 tahun dibenarkan oleh hasil penelitian terakhir.

Di tahun 60-an itu, kesimpulan penelitiannya itu menjungkirbalikkan kesimpulan yang sudah dianut sekitar 150 tahun tentang klasifikasi burung oleh kalangan akademisi.

“Jadi, saya meluruskan klasifikasi burung yang (sudah berusia)150 tahun,” ungkapnya.

Penelitian yang masih menggunakan pendekatan konvensional (“melalui kasat mata,” Soma mengingatkan) tersebut, kemudian diuji ulang – dengan teknologi yang lebih maju – oleh para ahli di bidangnya di antara tahun1990-2000.

Dan hasilnya, kata Soma, “Mereka menyetujui (hasil kesimpulannya), apalagi diyakini bahwa pendapat saya benar.”

“Aduh, saya senangnya bukan main,” kata Profesor Somadikarta berbunga-bunga, mengomentari hasil penelitian terbaru yang membenarkan kesimpulan yang dia buat di tahun 60-an.

Apresiasi pemerintah menyedihkan

Menarik napas panjang, itulah yang terlihat pada mimik begawan ilmu perburungan di Indonesia ini, ketika saya tanya tentang peran pemerintah dalam mengembangkan ilmu seperti bidang ornitologi.

Matanya terlihat berkaca-kaca, dan menerawang jauh.

Senyumnya yang semula mengembang, tiba-tiba berubah draktis.

“Sangat menyedihkan, sangat menyedihkan,” katanya berulang-ulang.

"Ilmu dasar itu memang tidak menghasilkan (kegunaan) secara segera... Ilmu dasar itu seperti investment (tabungan)... Itu seperti orang mendidik. Ini juga tabungan untuk perkembangan ilmu-ilmu lainnya."

Soekarja Somadikarta

Peraih penghargaan dari US National Academy of Sciences – National Research Council (1966) ini, kemudian melanjutkan, “karena saat ini, mereka (pemerintah) hanya membiayai penelitian yang ada kegunaannya”.

Padahal, ilmu dasar (basic science), seperti ornitologi yang ditekuninya, barangkali awalnya tidak diketahui kegunaannya. “Tapi di kemudian hari mungkin akan diketahui (kegunaannya),” katanya agak masygul.

Kenyataan seperti inilah yang membuatnya sedih, meski tidak sampai membuatnya patah arang.

“Ilmu dasar itu memang tidak menghasilkan (kegunaan) secara segera... Ilmu dasar itu seperti investment (tabungan)... Itu seperti orang mendidik. Ini juga tabungan untuk perkembangan ilmu-ilmu lainnya,” jelasnya, panjang-lebar.

Menularkan semangat

Lantas, bagaimana apresiasi masyarakat?

Mendengar pertanyaan ini, nada bicara anggota kehormatan The British Ornithologists's Union (1992, yang hanya terdiri 20 orang saat pengangkatan dirinya) naik perlahan. Tatapannya tidak lagi terlihat kosong.

“Kita harus masih menggiatkan, harus banyak menulis di koran, apa kegunaannya (ilmu dasar ornitologi) kelak,” katanya, mulai bersemangat.

Somadikarta bersemangat menularkan ilmu perburungan kepada anak-anak muda.

“Mungkin hari ini (kegunaannya) tidak diketahui. Tapi harus masih digalakkan oleh kaum muda,” ungkapnya, seraya menyebut aktivitas sekelompok mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta – yang disebutnya mulai berupaya mengapresiasi dan mengenalkan ornitologi kepada masyarakat awam.

Namun secara terus-terang, sosok low profile ini mengaku tidak pernah terjun langsung ke masyarakat untuk mengenalkan ilmu yang dimilikinya.

“Tapi kalau saya memberi ceramah, saya (selalu) sisipkan kegunaannya,” ungkapnya, terus-terang.

Melalui organisasi semacam perhimpunan penyayang burung di Yogyakarta itulah, Somadikarta berharap banyak.

“Merekalah yang harus menyebarkan. Saya tidak bisa menyebar sendiri,” katanya lagi.

"Saya bilang jangan dibayar. Aku datang sendiri, aku senang kalian sudah menyenangi bidang yang tidak menghasilkan uang."

Soekarja Somadikarta

“Sayang saya sudah tua. Tidak bisa terjun langsung,” tandasnya, seraya tertawa ringan.

Kepada anak-anak muda itulah, Soma mengandalkan. “Saya memicu orang-orang itu suka burung, dan suka ornitologi. Dan kalau sayang (kedua dunia itu), mereka bisa ngomong ke orang lain,” paparnya.

“Saya membuka kunci dan mereka yang menyebarkan,” katanya.

Dan lebih itu, menurutnya, kalangan penyayang burung dan ahli burung harus berjalan seiring.

“Saya sangat senang ada perhimpunan penyayang burung. Berarti mereka akan melindungi, paling tidak habitatnya,” tandasnya.

Demi semua itu, Somadikarta rela datang ke Yogyakarta, walau dia tidak dibayar untuk membagi ilmunya.

“Saya bilang jangan dibayar. Aku datang sendiri, aku senang kalian sudah menyenangi bidang yang tidak menghasilkan uang,” katanya, menirukan percakapannya dengan para mahasiswa itu.

Identifikasi melalui lukisan kuno

Wawancara sore itu makin terasa akrab, ketika menginjak kekayaan jenis burung di wilayah Indonesia.

“Kira-kira saya memperhitungkan ada 1500 jenis,” ungkap Profesor Somadikarta, sambil menambahkan jumlah itu belum termasuk variannya.

Dari angka itu, menurutnya, ada sekitar 550 jenis yang hanya ada di wilayah Indonesia.

Salah-satu burung 'asli' Indonesia yang berhasil diidentifikasi oleh Somadikarta adalah sejenis burung Nuri (Trichoglous Ornatus).

Keahliannya mengenali jenis-jenis burung, membuatnya mampu mengenali lukisan burung Nuri pada lukisan kain yang dibuat di masa Dinasti Song (1101-1025) di daratan Cina.

Somadikarta telah mendatangi semua musium di AS dan Eropa untuk mengklasifikasikan jenis-jenis burung.

Lukisan bersejarah itu kini tersimpan di Museum of Fine Art, Boston, Amerika Serikat. (Soma mengaku sudah mendatangi hampir semua musium di Amerika Serikat dan Eropa yang menyimpan koleksi berbagai jenis burung di seluruh dunia).

Di musium Boston, Soma menemukan lukisan burung Nuri tersebut.

Dan kemudian dia menganalisa: “Ada orang Tionghoa yang menggambar burung di selendang sutra. Itu burung semacam kakaktua, dan itu betul-betul endemik (atau hanya ada) di Sulawesi,” katanya, bercerita.

Menurutnya, pelaut atau pedagang Cina membawa burung itu dari Sulawesi, ketika mereka mendarat di pulau tersebut, ratusan tahun silam.

Di masa kolonialisme Belanda, identifikasi burung-burung asli Indonesia juga pernah dilakukan para ahli burung saat itu. Mereka menurut Soma, antara lain mengidentifikasi melalui relief-relief candi.

Agar tidak punah

Salah-satu metode yang dilakukan Profesor Somadikarta dalam mengidentifikasi serta mengklasifikasi jenis-jenis burung adalah dengan mendatangi musium-musium di AS dan Eropa – yang mengkoleksi jasad jenis-jenis burung di seluruh dunia.

“Saya melihat, yang misalnya terancam punah, itu biasanya koleksinya jarang sekali, cuma satu atau dua,” katanya.

Setelah mengantongi data bahwa jenis burung itu terancam punah, menurut Soma, peneliti harus segera ke lapangan untuk memastikan apakah jenis burung itu masih ada atau punah.

“Kalau tidak ada, ya berarti sudah punah. Dan kalau masih ada, kita usahakan jangan sampai punah,” jelasnya.

"Kita melindungi supaya jangan punah, tapi kalau perut keroncongan, susah juga ya."

Soekarja Somadikarta

“Jadi basically, saya mengetahui kepunahan itu,” tandas Soma, menekankan.

Sebagai peneliti yang banyak menghabiskan waktunya di musium, Somadikarta kemudian melakukan kerjasama dengan peneliti lain yang banyak 'berkecimpung' di lapangan.

“Merekalah yang kemudian mengecek di lapangan,” katanya.

Sayangnya, lanjut Somadikarta, upaya akademis yang bertujuan untuk mencegah kepunahan jenis burung tertentu itu, terbentur oleh kenyataan sosial-ekonomi masyarakat.

“Kita melindungi supaya jangan punah, tapi kalau perut keroncongan, susah juga ya,” katanya, mengomentari kondisi ekonomi masyarakat Indonesia kebanyakan.

Di sinilah menurutnya pemerintah harus berperan untuk mensejahterahkan masyarakatnya.

“Kalau tidak, kepunahan tidak bisa direm,” katanya, berterus-terang.

Ilmu burung berkembang luas

Di tengah keprihatian seperti itu, peraih penghargaan Honorary President dari International Ornithological Congress yang ke-XXV oleh The International Ornithologist's Union (2006-2010) ini, mengatakan, kini jenis penelitian tentang burung makin meluas dan terus berkembang pesat.

Salah-satu pendekatan terbaru adalah mempelajari kebiasaan burung.

“Burung tidak cuma dipelajari taksonomi saja, tapi juga mempelajari tingkah lakunya... misalnya, dengan mendengarkan suara-suara burung, apakah berbeda satu dengan yang lain... Kalau stres bagaimana suaranya...” paparnya.

Profesor Soma berharap pendekatan taksonomi dan perilaku burung bisa saling mengisi untuk memajukan ilmu perburungan.

Walaupun begitu, Somadikarta menganggap penelitian taksonomi (pengklasifikasian) burung harus tetap didalami lebih lanjut.

“Misalnya, perlu mengeksplorasi kembali tempat-tempat yang di jaman kolonial Belanda, belum ada ekspedisi ke sana. Apakah ada jenis burung baru,” tegasnya.

Pencipta moto Universitas Indonesia: Veritas, Probitas, Iustitia (Benar, Jujur, Adil) ini kemudian bercita-cita menggabungkan pendekatan taksonomi dengan behaviour (kebiasaan).

“Biar lebih lengkap,” tandasnya, singkat.

Ditanya apakah ada spesies burung di Indonesia yang belum diberi nama, Somadikarta membenarkan.

“Lebih dari 10 persen,” ungkapnya.

Pernah jadi anggota militer

Sebelum terjun total di dunia akademis, ternyata Soma semasa muda pernah berkecimpung di dunia militer.

Kepada saya di ruang tamunya yang tertata rapi, Soekarja mengisahkan pengalamannya memanggul senjata melawan penjajah Belanda, yang sebetulnya dia lakoni setengah hati.

“Waktu tahun 1945, di umur 15 tahun, saya diangkat menjadi kopral dari Tentara Keamanan Rakyat,” katanya, membuka kisah.

"Tentara (ternyata) bukan pekerjaan saya. Itu bukan dunia saya."

Soekarja Somadikarta

Ketika itu dia duduk di bangku sekolah setingkat SMP. Pangkatnya naik menjadi sersan ketika lulus SMP dan masuk sekolah setingkat SMA.

“Saya pegang senjata yang lebih tinggi dari badan saya, dan ini semi otomomatis. Bukan main bagusnya,” katanya, mengenang.

“Dan...,” Soma tiba-tiba menarik napas panjang, kemudian melanjutkan, “saya... saya.. trauma. Sakit saya melihat bedil... Saya takut kena orang...”

Pengalaman bertempur itu, membuatnya berpikir ulang tentang pilihannya memanggul senapan.

Sebuah keputusan penting kemudian dia buat, yang kelak akan berpengaruh pada perjalanan hidupnya.

“Tentara (ternyata) bukan pekerjaan saya. Itu bukan dunia saya,” katanya berulang-ulang.

“Karena saya ingin berbuat baik pada orang lain,” katanya lagi.

Dari keputusan inilah, Soma kemudian mengembalikan senjatanya. Kelak, dia juga tidak pernah meminta fasilitas sebagai veteran.

Istri sosok paling berpengaruh

“Istri saya, itu orang yang paling terdekat,” jawab Profesor Somadikarta, ketika saya tanya sosok siapa yang paling mempengaruhi hidupnya.

Dan tatkala istrinya meninggal dunia, baru-baru ini, Somadikarta merasa kehilangan. Dia mengaku 'sakit' kalau teringat sosok sang mendiang.

“Tapi itu takdir,” imbuhnya cepat-cepat, dengan nada bergetar.

“Saya bersujud kepada Tuhan... Itu takdir, ndak bisa diapa-apakan”.

Profesor Soma mengaku almarhumah istrinya berperan besar atas perjalanan hidupnya.

Selama 54 tahun mengarungi hidup bersama (dan dikaruniai dua orang anak), membuat Soma dan pasangan hidupnya itu saling mengenal.

Berulangkali ditinggal untuk kepentingan akademis (yang bisa menghabiskan 3 atau 4 bulan), menurut sang profesor, istrinya bisa menerima kenyataan seperti itu.

“Istri saya begitu menghargai....Itu yang tidak bisa saya melupakan,” katanya, lirih.

Selain sang istri, Somadikarta kemudian menyebut dua sosok ilmuwan Jerman: Profesor Dr Erwin Stresemann (1889-1972) dan Profesor Dr Ernt Mayr (1904-2005). Keduanya adalah ahli ornitologi yang kesohor.

"Saya kedatangan tamu dari Jawa, yang juga kau kenal... Aduh saya senang... bahasa Jermannya juga baik, dan antusias sekali meneliti burung.."

Soekarja Somadikarta

Dalam menerangkan peran dua orang gurunya ini, Somadikarta sempat mengajak BBC ke ruang perpustakaan, yang menampung ribuan koleksi buku miliknya.

Di dalam ruangan agak temaram itu, dia menunjukkan sebuah buku tebal. Kemudian, dengan cekatan dan daya ingat luar biasa, dia membuka halaman tertentu.

Rupanya buku berbahasa Jerman itu berisi surat-menyurat dua ahli burung tersebut, yang antara lain menyinggung sosok dirinya sendiri.

“... Saya kedatangan tamu dari Jawa, yang juga kau kenal... Aduh saya senang... bahasa Jermannya juga baik, dan antusias sekali meneliti burung...” Soma membacakan ulang kalimat dalam surat-menyurat yang disalin ulang dalam buku itu.

Antara lain melalui isi surat-menyurat itulah, ahli burung kelas dunia ini kemudian termotivasi untuk mendalami ilmu tersebut.

“Jadi saya terpacu. Saya tidak mau mengecewakan Erwin Stresemann, karena menulis seperti itu,” ungkap Somadikarta, seraya mengembalikan buku itu dengan begitu seksama pada tempatnya semula.

“Dua tokoh itulah yang mempengaruhi saya...”

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.