Protes tambang, dua warga tewas di NTB

Terbaru  24 Desember 2011 - 15:05 WIB
Ilustrasi Polisi

Walhi sebutkan polisi berupaya membubarkan warga sejak pagi tadi (foto:ilustrasi)

Sedikitnya dua orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam bentrokan yang terjadi di Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Sebelumnya, warga Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu melakukan aksi protes terhadap ijin usaha tambang oleh Bupati Bima, dengan menduduki Pelabuhan Sape.

Menurut keterangan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Saud usmar Nasution kepada BBC Indonesia, upaya pembubaran aksi warga dilakukan, karena menganggu arus lalu lintas penyebrangan di Pelabuhan Sape.

"Aksi pemblokiran yang sudah dilakukan selama empat hari menyebabkan penumpang feri terlantar dan distribusi bahan pokok terganggu, karena pelabuhan itu biasa digunakan untuk lalu lintas penyebrangan dari NTB ke NTT dan sebaliknya," kata Saud, " Para penumpang yang akan menyebrang untuk merayakan natal juga terganggu."

Menurut Saud, dua orang tewas, yaitu Arief Rachman, 18 tahun dan Syaiful 17 tahun, masih diotopsi untuk diketahui penyebab kematiannya.

Kepolisian juga menangkap tiga orang yang diduga sebagai provokator dan memeriksa sedikitnya 36 orang untuk dimintai keterangan.

Mabes Polri menyebutkan sejumlah barang bukti antara lain parang, tombak, bom molotov, serta botol berisi bensin.

Usai bentrokan, Saud mengatakan warga melakukan pembakaran Kantor Polsek Lambu dan melempari sejumlah kantor pemerintah.

Kerusakan lingkungan

Saiful Wathoni Divisi Penguatan Organisasi Walhi NTB mengatakan pagi tadi polisi mulai membubarkan aksi pemblokiran jalan yang dilakukan oleh warga.

“Warga melakukan pemblokiran sebagai bentuk protes terhadap Bupati yang mengijinkan kegiatan tambang di wilayah itu,” kata Saiful.

Dia mengatakan perusahaan tambang mendapatkan ijin operasi dari Bupati Bima.

"Jarak lokasi tambang dan pemukiman juga akan berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar pemukiman dan warga yang berprofesi sebagai petani," tambah Saiful.

Sejak enam hari yang lalu, pemblokiran dilakukan karena warga menolak kegiatan eksplorasi oleh perusahaan tambang yang berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman.

Wahli menyebutkan penduduk sekitar tambang merasa khawatir lokasi tambang itu membahayakan pemukiman mereka karena merupakan daerah rawan longsor dan berdampak mata pencaharian mereka.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.