Ratusan warga Syiah Madura masih mengungsi

kekerasan agama Hak atas foto Reuters
Image caption Kekerasan atas nama agama sering terjadi di Indonesia, seperti di Ambon

Sekitar 300 orang warga Syiah mengungsi di gedung olahraga Sampang, Madura setelah massa membakar pesantren mereka Kamis (29/12).

Iklil al Milal, salah seorang pengurus Pesantren Islam Syiah yang berada di dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben mengatakan ia dan warga lainnya tiba di pengungsian yang terletak di dekat Mapolres Sampang Kamis sore.

"Kami tidur di alas tikar atau karpet. Tadi pagi kami mendapat sarapan nasi bungkus tapi belum ada bantuan apa apa lagi," kata Iklil.

Ia mengatakan belum ada pembicaraan apa pun dengan pihak kepolisian atau pejabat pemda setempat mengenai kelangsungan nasib mereka.

"Kami cemas tapi kami sudah sepakat akan pulang dalam satu atau dua hari ini," kata Iklil.

Tangkap pelaku

Ia berharap polisi menangkap para pelaku yang membakar madrasah, mushola dan beberapa rumah warga.

"Bagi kami yang penting adalah penegakan hukum, agar kami bisa merasa tenang," kata Iklil.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto Jumat mengatakan pemerintah siap menjamin keamanan warga Syiah dan meminta tokoh agama setempat menengahi masalah ini.

"Pasti pemerintah dan kepolisian akan menjamin keselamatan warganya sudah barang tentu disesuaikan dengan situasi dan kondisi disana," kata Menteri Politik Hukum dan Keamanan,Djoko Suyanto.

"Adalah Peran pemuka agama untuk melakukan pencerahan dan penyadaran bahwa tindak kekerasan adalah bertentangan dengan agama manapun."

Lembaga pemantau HAM internasional, Human Right Watch meminta agar pemerintah tegas dalam melakukan penegakan hukum dalam kasus kekerasan berlatar perbedaan agama.

"Orang membakar, orang merusak, mengusir tanpa pandang bulu ya harus ditangkap dan diperiksa," kata Andreas Harsono dari Human Right Watch.

Pembakaran dan penyerangan ini dilakukan oleh sekitar seratusan orang bersenjata. Menurut Iklil, intimidasi dan kekerasan seperti ini sudah diterima para pengurus madrasah sejak tahun 2006 lalu.

Kepolisian Daerah Jawa Timur saat ini masih belum menerjunkan pasukan pengamanan tambahan dan masih mempercayakan pengamanan pada kepolisian setempat.

Berita terkait