MMI laporkan seniman atas dasar penistaan agama

Terbaru  15 Februari 2012 - 19:49 WIB
Demo anti-FPI

Belakangan muncul gerakan terbuka menentang organisasi massa.

Majelis Mujahidin Indonesia, MMI, menyatakan akan melaporkan seniman Bramantyo Prijosusilo ke Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tuduhan menistakan agama Islam.

Langkah tersebut dilakukan setelah Bramantyo Prijosusilo hendak menggelar pertunjukan seni melawan kekerasan atas nama agama di depan kantor Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Kotagede, Yogyakarta, hari Rabu, 15 Februari.

Menurut Ketua MMI DIY, Irfan S. Awwas, selama 11 tahun berdiri di Yogyakarta pihaknya tidak pernah menerima keluhan masyarakat atas keberadaan MMI.

"Lalu kenapa stigma kekerasan itu dilabelkan kepada kami?" katanya seperti dikutip media di Indonesia.

Bramantyo sudah dikeroyok sekelompok orang yang diduga anggota MMI sebelum menampilkan aksinya sehingga langsung diamankan aparat kepolisian setempat.

Meski dikeroyok, dia mengaku tidak akan memperkarakan tindakan pengeroyokan dan menegaskan tujuan aksinya merupakan upaya pribadi.

"Tujuannya adalah melawan kekerasan atas nama agama, intimidasi atas nama agama dengan perlawanan seni atas nama pribadi supaya menjadi inspirasi buat masyarakat luas bahwa kelompok-kelompok yang dianggap seram itu bisa dilawan pribadi, tidak perlu ada organisasi besar melawannya, tidak perlu pengerasan massa besar-besaran," katanya kepada BBC Indonesia.

Kelompok kecil

"Kalau sampai masyarakat menganggap itu biasa, kan suatu bahaya besar bagi bangsa ini."

Bramantyo Prijosusilo

Rencana pertunjukan di depan markas MMI, lanjutnya, telah disadari akan menimbulkan provokasi tetapi yang dia inginkan adalah memprovokasi orang untuk berpikir, bukan provokasi kekerasan.

"Saya memberikan contoh bagaimana mengajukan gagasan yang berkonflik dengan gagasan yang lain dengan cara-cara seni. Dan setelah itu kan terus menjadi satu berita, satu pemikiran, wacana yang hidup di benak banyak orang," jelas Bramantyo yang juga dikenal sebagai penulis.

Namun dia mengakui radikalisme dan kekerasan atas nama agama hanya dilakukan oleh kelompok kecil masyarakat Indonesia, tetapi jumlahnya terus bertambah dan kurang adanya pengontrolan.

Dia memberikan contoh kasus penyerangan jamaah Ahmadiyah di Ceukesik, Banten tahun 2011 yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah.

"Dan seolah-olah itu menjadi sesuatu yang biasa. Nah sebetulnya ini kan sesuatu yang luar biasa. Kalau sampai masyarakat menganggap itu biasa, kan suatu bahaya besar bagi bangsa ini," tuturnya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.