Indonesia pembeli dominan di Singapore Airshow

Terbaru  17 Februari 2012 - 15:10 WIB
lion air

Kesepakatan Lion Air dengan Boeing merupakan transaksi terbesar dalam sejarah industri penerbangan.

Indonesia menjadi pembeli dominan dalam pameran dirgantara Singapore Airshow tahun ini.

Peningkatan kalangan menengah, penguatan pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik dan kebutuhan untuk membangun jaringan antar pulau tampaknya menjadi alasan ledakan perjalanan di Indonesia.

Ledakan jumlah perjalanan menggunakan pesawat terbang ini juga bisa menelurkan lebih banyak lagi maskapai lokal.

Lion Air merebut pusat perhatian saat hari pertama pameran dengan membeli 230 pesawat Boeing senilai US$22,4 miliar.

Lion Air memesan 201 Boeing 737 MAX dan 29 generasi baru 737-900ER, dengan hak pembelian untuk tambahan 150 pesawat untuk operasional kawasan dan domestik.

Dinesh Keskar, wakil presiden penjualan Boeing untuk kawasan Asia Pasifik dan India menggambarkan kesepakatan ini sebagai ''pemesanan terbesar dalam sejarah penerbangan yang saya ketahui''.

Dengan sekitar 240 juta penduduk, Indonesia adalah negara populasi terbesar ke empat di dunia dan negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17.000 pulau tersebar di 33 provinsi dan memiliki tiga zona waktu antara Singapura dan Australia.

Kawasan timur

Ekonomi Indonesia tumbuh 6,5% tahun lalu, yang tercepat dalam 15 tahun, dengan proyeksi pertumbuhan tahun ini diantara 6,3% dan 6,7%.

"Indonesia mampu menjaga kekuatan pasar Asia Tenggara karena kelas menengah yang berkembang, populasi yang terus bertambah dan negara ini juga memiliki kepercayaan diri di bidang ekonomi dan politik,'' kata analis penerbangan Shukor Yusof dari lembaga riset Standard & Poor's.

"Indonesia menciptakan pasar yang bisa membuat lebih banyak orang untuk terbang. Secara geografis sangat sempurna untuk industri penerbangan,'' katanya.

"Indonesia menciptakan pasar yang bisa membuat lebih banyak orang untuk terbang"

Shukor Yusof

Banyak maskapai yang menargetkan kawasan Indonesia timur seperti Makassar dan Manado, semua kawasan yang menjanjikan di sisi sektor pariwisata, kata Shukor.

"Dan jangan lupa bahwa ini adalah area tempat dimana anda memiliki semua tambang dan industri berbasis sumber daya,'' seraya menambahkan ''orang punya uang untuk bepergian''.

Shukor juga memperkirakan akan bermunculan maskapai penerbangan kecil untuk meramaikan kompetisi di Indonesia.

Pasar sangat besar

Menurut Shukor pasar yang sangat besar ini masih memiliki ruangan untuk tumbuh bahkan dengan jumlah maskapai yang saat ini beroperasi.

"Ada cukup ruang untuk dibagi ke semua orang. Meski jika ada maskapai baru masuk, kita masih bisa mendapatkan keuntungan,'' kata seorang pejabat Garuda Indonesia, yang enggan disebutkan namanya.

Garuda adalah maskapai penerbangan nasional yang menguasai hampir semua rute di Indonesia dan kini mulai menghadapi tantangan dari sejumlah maskapai penerbangan swasta.

Di Singapore Airshow, Garuda juga membeli enam pesawat Bombardier CRJ1000 jet dengan opsi tambahan 18 lagi.

Lion Air juga tidak mau ketinggalan dengan membeli 27 pesawat kecil dari pabrikan Eropa ATR.

Pembelian ATR 72-600 turboprop senilai US$610 juta ini akan dipakai untuk unit keperluan Wings Air - unit lain Lion Air - yang melayani rute kawasan terpencil.

Selain di sisi komersial, Indonesia juga menjadi 'bintang' di dalam salah satu pameran dirgantara terbesar di Asia itu pada sisi militer.

Indonesia menyepakati kontrak senilai US$325 juta dengan Airbus Militer untuk pembelian pesawat C-295 yang akan digunakan Angkatan Udara untuk keperluan logistik dan bantuan kemanusiaan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.