Kematian jerapah di KBS masih diperdebatkan

Hak atas foto AFP
Image caption Setahun sebelum mati, nafsu makan jerapah bernama 'Kliwon' itu jauh berkurang.

Latar belakang penyebab kematian seekor jerapah yang merupakan koleksi satu-satunya milik Kebun Binatang Surabaya (KBS), masih menjadi teka-teki.

Dugaan yang menyebut kematian jerapah akibat plastik yang menyumbat lambungnya, dipertanyakan beberapa kalangan.

Sebelumnya, pengelola KBS dalam keterangan resminya menyebutkan penyebab utama kematian jerapah karena keberadaan plastik seberat 20 kg di dalam lambungnya.

"Ada 20 kg plastik yang sudah berakumulasi di dalam lambungnya, yang membuat saluran pencernaannya buntu," kata Ketua Harian Tim Pengelola Sementara KBS, Toni Sumampau, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Sabtu (03/03) sore.

Akibat tersumbat plastik, menurut Toni, mengakibatkan jerapah bernama "Kliwon" itu nafsu makannya berkurang setahun belakangan.

"(Jadi) tidak bisa makan banyak," tandas Toni.

Tetapi keterangan ini diragukan oleh dokter hewan (drh) Liang Kaspe, mantan penanggungjawab kesehatan hewan liar KBS.

Menurutnya, sebagian besar hewan-hewan pemakan rumput di KBS sudah terbiasa menelan plastik.

"Karena pengunjung memberi makan, bungkus plastiknya dibuang atau terkena angin dan masuk ke sangkar," katanya kepada BBC Indonesia.

'Plastik jangan dikambinghitamkan'

Dan apabila plastik yang tertelan itu sedikit, lanjutnya, tidak akan membahayakan hewan tersebut.

"Jadi jangan plastiknya yang dikambinghitamkan. Memang plastik bahaya, tapi seberapa besar dulu plastiknya," tandas Liang, yang sejak Juli 2011 lalu tidak lagi bertugas menangani kesehatan hewan liar di KBS.

Liang menduga jerapah itu mati karena kurang makan dan ada cacing di saluran usus dan hatinya. "Saya kira cacing itu lebih bahaya daripada plastik di saluran pencernaan," tambahnya. .

Tentang informasi yang menyebut jerapah berusia 30 tahun itu kurang makan, Liang mendasarkan informasi yang menyebutkan, jerapah itu makan kulit pohon trembesi di kandangnya.

"Seminggu sebelum (jerapah itu) jatuh, saya tahu ada pohon trembesi yang kulit kayunya habis dikritiki (digigit) oleh jerapah. Berarti kalau tidak kelaparan, tidak mungkin makan kulit pohon," katanya, menganalisa.

Tetapi Ketua Harian Tim Pengelola Sementara KBS, Toni Sumampau, tidak sepakat jika dikatakan jerapah itu mati karena tidak diberi makan.

"Kalau (pemberian makanan) itu cukup," kata Toni.

Sarana minim

Namun Toni mengakui, sarana tempat peristirahatan jerapah tersebut sangat minim. Salah-satunya tidak ada ruangan tempatnya beristirahat saat malam hari.

"Sehingga siang dan malam dia di lapangan," ungkapnya.

Bagaimana kekurangan sarana ini bisa terjadi? "Mungkin manajemen yang lalu, tidak mengerti cara mengelola satwa liar dengan baik," kata Toni.

Toni menduga, kematian satwa secara beruntun di KBS tidak terlepas dari apa yang disebutnya sebagai faktor "manajemen yang tidak baik".

Seperti diketahui, sejak setahun lalu pengelolaan KBS diserahkan kepada tim pengelola sementara, menyusul konflik terkait pengelolaan KBS yang dianggap tidak berjalan baik.

Pihak pengelola yang lama sebaliknya menuduh kematian hewan-hewan itu akibat kelemahan kepemimpinan pengelola yang baru.

Dalam lima tahun terakhir jumlah satwa yang mati di kebun binatang Surabaya mencapai sekitar 2.000 ekor termasuk hampir 245 ekor pada tahun 2011.

Beberapa kalangan mengusulkan agar pengeloaan KBS diserahkan kepada investor untuk membantu meningkatkan fasilitas untuk kesejahteraan hewan.

Berita terkait