Ketegaran rakyat Jepang layak diteladani

Terbaru  11 Maret 2012 - 13:29 WIB
tsunami Jepang

Foto keluarga yang tersisa di reruntuhan rumah warga pasca tsunami

Ketegaran dan kesigapan Jepang menghadapi musibah gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan negara itu tepat satu tahun lalu menggugah dunia.

Kesan itu ditangkap oleh Ali Khumaeni, seorang mahasiswa Indonesia yang sudah lima tahun menetap di negeri matahari terbit itu.

"Banyak makna yang bisa kita peroleh dari bencana itu, kita melihat Jepang yang kita anggap sebagai negara donor besar ketika menghadapi kondisi ini (tsunami), mereka tidak panik dan tidak berharap terlalu besar dari orang lain," kata Ali pada Pinta Karana dari BBC.

"Mereka cepat berusaha dan optimal melakukan usaha sendiri."

Ali adalah mahasiswa program doktor di Universitas Fukui di sebelah barat Jepang. Ia tinggal di kota Fukui bersama dengan istri dan anak balita mereka.

Lebih dari 5.000 orang meninggal dunia dalam bencana tersebut dan ribuan orang lainnya kehilangan rumah serta harta benda mereka.

"Bencana itu sungguh mengagetkan kita karena berlangsung tiba-tiba dan alhamdulillah kita khusushya masyakarat Indonesia yang berada di Jepang berusaha membangkitkan motivasi dan semangat masyarakat," kata Ali.

Ali Khumaeni

"Rakyat Jepang tidak panik dan tidak berharap terlalu besar dari orang lain," kata Ali Khumaeni, mahasiswa Indonesia. (Foto: Ali Khumaeni)

Layak diteladani

Ali melihat bencana itu justru membangkitkan motivasi dan semangat rakyat Jepang.

"Dan secara sosial mempererat hubungan sesama manusia," kata dia.

"Kita melihat pasca tsunami itu, masyarakat dan pemerintah Jepang khususnya bisa mengorientasikan seluruh aktivitas dari sisi elemen, departemen dan pemerintahan fokus melakukan recovery dari tsunami dan pemerintah cukup tanggap dalam memperbaiki prasarana di sana sehingga bisa memperbaiki aktivitas."

Hal yang sama juga disampaikan oleh juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

"Pemulihan infrastruktur dilakukan secara cepat. Jalan tol di Tohoku Expressway selesai hanya 11 hari seteleh tsunami. Infrastruktur ini tidak hanya berkontribusi pada transportasi dalam pengiriman barang dan logistik saat darurat, tetapi juga memulihkan ekonomi Jepang,"kata Sutopo.

Ia juga memuji media Jepang yang menghormati para korban dengan mempublikasikan hal-hal yang memotivasi.

"Saat bencana, mass media tidak ada yang menyiarkan hal-hal yang menyedihkan. Mayat dan hal-hal yang membuat masyarakat panik, misal terkait PLTN mass media tidak boleh menyiarkan secara saintifik sehingga masyarakat menjadi panik. Justru berita-berita tentang semangat, kebersamaan, disiplin dan ketangguhan masyarakat yang ditonjolkan mass media. Ini ada kode etik jurnalistik yang selalu dipegang oleh mass media Jepang.

"Kita layak untuk belajar dari Jepang hal itu. Terlebih lagi Indonesia adalah negara nomor satu di dunia yang memiliki ranking penduduk berisiko tinggi dari tsunami. Lebih dari 5 juta jiwa hidup dalam ancaman tsunami."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.