Perokok anak gugat industri rokok dan pemerintah

Hak atas foto PA
Image caption Lingkungan mempengaruhi kebiasaan merokok pada anak, kata Arist M. Sirait

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan keluarga dari tujuh anak perokok akan mengajukan gugatan bersama atau class action terhadap perusahaan rokok dan pemerintah.

Sejak 2009, Komnas Anak telah membantu 20 orang anak di bawah usia 10 tahun menghilangkan kebiasaan merokok mereka.

"Kami sedang membantu keluarga dari tujuh orang anak tersebut untuk mempersiapkan gugatan class action ke perusahaan-perusahaan rokok yang produknya dikonsumsi oleh anak-anak ini dan juga terhadap pemerintah," kata Arist pada BBC Indonesia.

Pemerintah turut menjadi tergugat karena dianggap lalai melindungi anak-anak.

"Pemerintah harusnya memberikan regulasi tembakau termasuk regulasi mengenai iklan promosi dan sponsor rokok, tetapi tidak dilakukan.. Kini dampaknya yaitu rusaknya kesehatan anak-anak," kata Arist.

Penggugat tidak menuntut ganti rugi materi tetapi jaminan kesehatan dan udara bersih bagi anak-anak, kata Arist.

Rehabilitasi

Sementara itu, seorang bocah lelaki berusia delapan tahun bernama Ilham berhasil meninggalkan kebiasaan merokok setelah mendapat perawatan khusus di sebuah rumah singgah di Jakarta.

Ilham mulai merokok sejak usia empat tahun.

"Setelah satu bulan mengikuti program penyembuhan, Ilham berhasil sembuh dan kami sangat berharap dukungan dari keluarga dan lingkungannya," kata Arist.

Sebagai bagian dari upaya rehabilitasi permanen, warga di sekitar tempat tinggal Ilham dan keluarganya di Sukabumi, Jawa Barat, setuju untuk mencanangkan gerakan 'Kampung Sehat.

"Kampung sehat berarti tidak ada lagi orang dewasa yang merokok apalagi merokok di depan anak-anak. Para sesepuh kampung sangat mendukung dan di lingkungan sekitar sudah ada spanduk-spanduk berisi ajakan hidup sehat dan meninggalkan rokok," kata Arist.

Ia menambahkan kecenderungan anak untuk merokok sedikit banyak dipengaruhi oleh lingkungan.

"Dari 20 anak yang kami bantu penyembuhannya, satu diantaranya mulai merokok sejak usia 11 bulan dan dibiarkan oleh keluarganya," kata Arist.

Bocah tersebut bernama Ardi Rizal. Ia mencuri perhatian masyarakat setelah video dirinya sedang merokok diunggah ke Youtube pada 2010.

Saat itu Ardi baru berusia dua tahun.

Keluarganya mengatakan Ardi dapat merokok hingga 40 batang sehari dan akan mengamuk jika tidak diberi rokok.

Indonesia memiliki jumlah perokok usia muda terbesar di dunia menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penelitian WHO pada 2006 menemukan bahwa lebih dari 37% pelajar SMA dan universitas merokok.

Pemerintah dinilai belum banyak melakukan usaha dalam bidang regulasi kecuali menaikkan harga pita cukai.

Belum lama ini pemerintah mengumumkan rencana untuk mewajibkan perusahaan-perusahaan memuat gambar-gambar risiko kesehatan merokok pada bungkus kemasan.

Jumlah perokok secara umum meningkat enam kali lipat di Indonesia dalam 40 tahun terakhir, yaitu 89 juta dari 240 juta jiwa.

Berita terkait