Dua anggota polisi di NTB ditahan terkait imigran gelap

Hak atas foto Reuters
Image caption Dari enam tersangka kasus penyelundupan imigran gelap di NTB, dua diantaranya adalah anggota polisi.

Dua anggota polisi di Nusa Tenggara Barat ditangkap karena diduga terlibat kasus penyelundupan imigran gelap asal Somalia dan Eritrea.

Dugaan keterlibatan mereka terungkap setelah kapal yang mengangkut 34 orang imigran gelap asal Somalia dan Eritrea terdampar di pantai Sepang, Desa Bontong, Kabupatan Sumbawa, NTB, 15 April lalu.

"Peran mereka seperti apa, itulah yang sedang kami dalami," kata Kepala bidang Humas Polda NTB, AKBP Sukarman Husein, menjawab pertanyaan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Sabtu (28/04) siang.

"Keduanya berpangkat Brigadir," ungkap Sukarman. "Mereka sengaja melibatkan diri dalam kasus ini."

Beberapa laporan mengungkapkan mereka adalah bertugas di Polres Lombok Timur. Keduanya kini ditahan di Polda NTB.

Selain menetapkan dua anggota polisi sebagai tersangka, kepolisian setempat juga telah menetapkan empat warga sipil lainnya sebagai tersangka kasus ini. Mereka ditangkap hampir bersamaan pada Kamis (19/04) lalu di tempat berbeda.

Sejumlah laporan menyebutkan, para imigran gelap itu -- terdiri 24 lelaki, 10 perempuan, serta satu anak-anak -- hendak bertolak ke Australia, dengan menggunakan kapal kayu.

Ketika hendak memasuki perairan Australia, kapal itu diterjang gelombang tinggi, sehingga terseret dan terdampar di perairan Kabupaten Sumbawa.

Nakhoda dan awak kapal dilaporkan kabur setelah kapal tersebut terdampar.

Terulang kembali

Dari informasi yang dihimpun kepolisian, para imigran gelap ini awalnya diberangkatkan dari Pantai Labuhan Haji menuju Pantai Sepang, Lunyuk, Sumbawa, sebelum diberangkatkan menuju Australia.

Terungkapnya kasus upaya penyelundupan imigran gelap ke Australia di NTB, semakin memperpanjang deretan kasus serupa di Indonesia.

Walaupun Indonesia dan Australia telah melakukan kerjasama untuk mencegah aksi penyelundupan manusia, kasus-kasus seperti terulang kembali.

Pada akhir Desember 2011 lalu sebuah kapal pencari suaka yang diperkirakan membawa 200-an orang tenggelam di perairan sekitar Trenggalek, Jawa Timur.

Dalam peristiwa itu petugas penyelamat hanya menemukan 59 orang yang selamat.

Para pencari suaka yang berasal dari Afghanistan, Pakistan dan Iran itu diduga hendak menuju Australia.

Dan pada Januari (08/01) lalu, Satgas Anti Penyelundupan Manusia Mabes Polri, berhasil menangkap 77 orang yang diduga berniat menjadi imigran gelap menuju Australia dengan menggunakan Surabaya sebagai lokasi transit.

Ribuan pencari suaka yang biasanya berasal dari Afghanistan dan Iran kerap melewati wilayah perairan Indonesia dengan tujuan akhir Australia.

Berita terkait