WN Selandia Baru dipasung ibu kandungnya

simon donaldson Hak atas foto david donaldson
Image caption Simon Donaldson, 26, dirantai di tempat tidur oleh ibu kandungnya

Seorang pria warga negara Selandia Baru berjuang untuk mendapatkan kembali hak asuh atas anak lelakinya yang menderita kelumpuhan dan keterbelakangan mental namun justru dipasung oleh ibu kandungnya di Surabaya, Jawa Timur.

David Donaldson yang telah menetap di Indonesia sejak 1976 mengatakan ia dan mantan istrinya Yuhani Latin tidak sependapat mengenai metode perawatan terbaik untuk anak mereka.

David yakin bahwa Simon, 26, yang didiagnosa dengan epilepsi kompleks dan leucodystrophy, penyakit yang menyerang sel putih otak, akan mendapat perawatan yang lebih baik di Selandia Baru namun sang ibu, Yuhanie, berpendapat ia harus dirawat di Indonesia.

Menurut David, mantan istrinya bersikeras Simon adalah korban ilmu hitam.

"Selama enam tahun Simon tidak mendapat perawatan dokter karena ibunya membawanya ke 'orang pintar' dan ia dirantai di tempat tidur," kata David pada BBC Indonesia.

David dan istrinya bercerai pada 1992 dan ia mendapat hak asuh atas kelima anaknya.

Namun enam tahun silam, Yuhani meminta izin membawa Simon untuk mendapat pengobatan.

"Saya tidak tahu bahwa pengobatan itu non medis dan ibunya yakin Simon terkena ilmu hitam. Dulu waktu masih tinggal bersama saya, Simon bisa berjalan dan bermain basket tapi sekarang ia tidak bisa melakukan apa-apa," kata David.

Selama bertahun-tahun David berusaha meluluhkan hati mantan istrinya dengan jalan memenuhi semua permintaannya.

"Dia minta rumah, saya belikan rumah tapi kemudian rumah itu ia sewakan. Ia minta mobil, saya belikan mobil tetapi belakangan mobil itu dijual," kata dia.

Pengacara David, Isnania Singgih mengatakan Marisa terakhir meminta uang tebusan Rp 45 miliar.

"Dia minta uang sebanyak itu atau tunjangan Rp500 juta sebulan sampai ia menikah lagi," kata Isnania. "David bukan orang kaya, ia cuma pegawai biasa, dari mana ia memperoleh uang sebesar itu?"

Upaya terakhir adalah meminta bantuan Imigrasi dan Kedutaan Besar Selandia Baru.

Ia berharap Imigrasi Indonesia akan mendeportasi Simon atas dasar izin tinggalnya sudah kadaluarsa dan paspornya sudah habis masa berlakunya empat tahun silam.

"Jika dideportasi Simon akan mendapat pengobatan yang baik di Selandia Baru karena kakaknya yang menderita penyakit serupa kini telah pulih dan bisa mandiri tetapi Imigrasi justru memberikan waktu tambahan lima bulan bagi ibunya untuk merawat Simon," kata David.

Kepala kantor Imigrasi Surabaya Dahlan Pasaribu menolak berkomentar ketika BBC menghubungi telepon selulernya.

Sementara itu Wakil Duta Besar Selandia Baru Ian Brownlie mengatakan pihaknya tetap berupaya mencari jalan terbaik untuk kebaikan semua pihak.

"Kami terus melakukan kerja sama dengan pemerintah Indonesia dan hal ini bisa memakan waktu lama karena melibatkan banyak institusi," kata Brownlie.

Berita terkait