Bus terbakar di Sumbar, 13 penumpang tewas

Hak atas foto dantri
Image caption Korban kecelakaan bus dirawat di sebuah rumah sakit.

Polda Sumatera Barat dan otoritas terkait masih menyelidiki asal api penyebab terbakarnya bus jurusan Dumai-Solok, Sumatera Barat, yang mengakibatkan setidaknya 13 orang penumpangnya tewas.

Pihak terkait juga terus mengembangkan penyelidikan terhadap kondisi bus naas itu yang disebut-sebut tidak layak jalan.

"Kita akan tinjau ke lapangan untuk mengetahui penyebabnya," kata Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Suroyo Ali Musso, menjawab pertanyaan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Selasa (01/05) sore.

Bus yang membawa 45 penumpang ini terbakar di kawasan Kelok Sembilan, Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar pukul 04.00 WIB

Sejumlah laporan menyebutkan, Kepolisian Sumatra Barat mengatakan belum bisa memastikan asal api, namun diperkirakan berasal dari arus pendek.

Api diduga pertama muncul dari arah depan bus yang kemudian menyebar cepat ke belakang, demikian laporan tersebut.

Saksi korban yang selamat mengatakan, para penumpang kemudian panik dan berusaha menyelamatkan diri melalui pintu belakang.

Namun demikian, menurut laporan sementara yang diterima Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Ali Musso, pintu belakang bus tersebut tidak berfungsi. "Informasi awal saya terima seperti itu," kata Suroyo.

Seperti dikutip media lokal, keterangan korban yang selamat menyebutkan, pintu belakang bus sulit dibuka akibat banyak barang yang menumpuk di depannya.

Korban yang selamat akhirnya dapat keluar dari bus setelah memecahkan kaca jendela.

Harus diperiksa

Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Ali Musso mengatakan, sesuai ketentuan, bus berpenumpang seharusnya diperiksa kelayakannya oleh petugas dinas perhubungan di terminal keberangkatan, sebelum meninggalkan terminal.

"Baru kalau sudah dikontrol kelaikannya, cara memuatnya, atau muatannya, (bus) itu baru diijinkan keluar terminal menuju tujuannya," kata Suroyo kepada BBC Indonesia.

Sejauh ini Suroyo belum menerima informasi apakah bus naas itu sudah diperiksa atau belum oleh petugas yang bersangkutan.

"Kita (akan) cek kembali, apakah bus itu berangkat dari agen atau terminal," tandasnya.

Suroyo kemudian menyoroti perusahaan pemilk bus serta pengemudinya yang seharusnya secara rutin memeriksa kondisi bus, sesuai aturan yang sudah ada.

"Minimal setiap 6 bulan harus diperiksa," katanya.

Salah-satu kelayakan bus, menurutnya, harus ada pintu darurat bagi para penumpang untuk menyelamatkan diri.

Temuan sementara atas kecelakaan bus yang menewaskan 13 orang ini menunjukkan, sebagian korban yang meninggal dunia ditemukan di dekat pintu belakang bus.

Diduga mereka hendak menyelamatkan diri dari pintu belakang, namun tidak berhasil karena terhalang barang-barang milik penumpang.

"Dalam aturan yang ada, barang-barang itu seharusnya diletakkan di bagasi atau di atap bus," kata Suroyo.

Bagaimanapun ini adalah kecelakaan bus yang kesekian kalinya sejak awal 2012.

Selama bulan Februari lalu, tiga kecelakaan bus terjadi di Jawa Barat yang merenggut sedikitnya 36 nyawa para penumpangnya.

Berita terkait