Pengamat: Waspadai regenerasi teroris di Indonesia

Hak atas foto AFP
Image caption Densus 88 menangkap lima tersangka teroris di Medan

Penangkapan lima orang tersangka teroris oleh Densus 88 Mabes Polri di Medan, Sumatra Utara, Kamis (21/06) merupakan pertanda bahwa kelompok-kelompok teroris kecil atau sempalan dari kelompok besar seperti Jemaah Islamiyah masih tetap ada di Indonesia, meski tokoh-tokoh utama sudah ditangkap atau terbunuh dalam operasi anti teror.

Pernyataan itu disampaikan oleh peneliti terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie.

"Belum ada situasi yang menunjukkan kelompok-kelompok teroris mengalami kelemahan dan vakum tetapi mereka hanya sebatas mengalami hibernasi, dan itu pun hanya terjadi pada kelompok-kelompok besar seperti JI tapi kalau kelompok-kelompok sempalan lain, mereka terus tumbuh sepanjang waktu," kata Taufik pada BBC Indonesia.

Ia juga menekankan bahwa jaringan teroris di Indonesia tidak pernah sepenuhnya 'mati'.

"Teroris di Sumatra kemarin bukan berarti ada kebangkitan kembali, mereka tetap ada meski tidak melakukan serangan dan keberadaannya mudah dideteksi, penangkapan kemarin kebetulan bersamaan dengan vonis Umar Patek," kata dia lagi.

Perakit bom yang digunakan dalam serangan bom Bali 2002, Umar Patek kemarin divonis 20 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Regenerasi

Hak atas foto AFP
Image caption Salah satu pelaku bom Bali I Umar Patek divonis 20 tahun

Selain menangkap tersangka teroris, operasi di Sumatra Utara juga berhasil menyita aset sekitar Rp8 miliar milik jaringan terorisme.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbai, mengatakan aset diduga dikumpulkan melalui sistem berjenjang alias multi level marketing (MLM).

"MLM 'kan sistemnya orang jadi member (anggota). Kemudian mereka cari orang lain untuk member (berikutnya). Jika dapat yang baru, mereka dapat credit point. Nah, itulah yang dihack oleh mereka," kata Ansyaad Mbai yang diwawancarai BBC Indonesia, Kamis (21/06).

Seiring waktu, modus yang digunakan oleh jaringan teroris baik dalam menggalang dana atau mencari anggota baru semakin modern. Menurut Taufik, hal ini dikarenakan para anggotanya kebanyakan berusia muda. Mereka direkrut oleh anggota senior dan dilatih dengan tujuan regenerasi.

"Regenerasi selalu terjadi, ini yang luput dari jangkauan pemerintah dan aparat negara. Seringkali yang namanya prestasi adalah penangkapan DPO atau tokoh-tokoh penting dan pengungkapan kasus sehingga seringkali lupa bahwa dalam insiden terorisme, selalu ada satu atau dua orang yang tidak berhasil ditangkap," kata Taufik.

Regenerasi berlangsung terus menerus karena orang yang menyukai ideologi jihad dan ingin terlibat dalam kelompok ini sangat besar.

"Bagi kalangan muda yang mempelajari jihad, motivasinya get involved, ingin mengamalkan apa yang dipelajari," kata dia.

Taufik menyarankan aparat salah satu jalan untuk menumpas terorisme hingga tuntas adalah dengan mereduksi potensi adanya kaitan petunjuk yang hilang.

"Ada sumber informasi yang terputus atau missing link karena tokoh penting yang bisa beri informasi tewas ditembak," kata Taufik.

Berita terkait