Pertunjukan lumba-lumba diprotes

Lumba-lumba Hak atas foto bbc
Image caption Pendidikan untuk mengenal lumba-lumba sebaiknya dilakukan di habitat aslinya.

Sebuah petisi yang diinisiasi oleh aktivis lingkungan asal AS Barbara Napoles mendesak untuk memboikot Garuda dan meminta pemerintah Indonesia untuk menghentikan pertunjukan keliling yang menggunakan lumba-lumba.

Petisi yang disebarkan melalui situs internet change.org itu, telah ditandatangi lebih dari 20 ribu orang, dari berbagai negara, seperti disampaikan oleh aktivis Jakarta Animal Aid Network, Femke Den Haas.

Langkah ini dilakukan menyusul adanya pengangkutan lumba-lumba oleh Maskapai Garuda Indonesia ke Jakarta menuju Bali pada akhir pekan lalu.

Femke menyebutkan lumba-lumba itu diangkut dengan menggunakan pesawat dan dieksploitasi dalam sebuah pertunjukan keliling yang digelar di Kuta, Bali.

"Pengangkutan dengan pesawat akan mengancam lumba-lumba tersebut karena mamalia ini sangat sensitif terhadap suara dan kebisingan pesawat yang dapat merusak sonar, dan lumba-lumba itu disimpan di box besi," jelas Femke.

Dalam proses penangkapan hingga pengangkutan untuk dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi pertunjukan lain, menurut Femke, sangat mengancam lumba-lumba.

Zat klorin yang digunakan dalam kolam plastik juga berbahaya bagi hewan tersebut.

"Kami keberatan Garuda melakukan rekolasi lumba-lumba untuk tujuan eksploitasi dan komersial," jelas Femke.

Eksploitasi lumba-lumba

Femke menyebutkan Indonesia merupakan satu-satunya negara yang masih melakukan pertunjukan keliling yang menampilkan lumba-lumba. Di negara-negara lain telah memberlakukan larangan penggunaan lumba-lumba dalam sirkus keliling, karena mengancam nyawa hewan mamalia tersebut.

Negara-negara lain bahkan melarang total pertunjukan lumba-lumba, antara lain Inggris dan Korea Selatan.

Menurut dia, Kementerian Kehutanan memberikan ijin terhadap lima perusahaan untuk melakukan pertunjukan lumba-lumba, dua perusahaan diantaranya berupa sirkus keliling.

Ijin diberikan dengan tujuan memberikan pendidikan terhadap penonton.

Tetapi, Femke menjelaskan dalam pantauannya pertunjukan keliling di Indonesia hanya menampilkan unsur hiburan.

"Tidak ada unsur pendidikan sama sekali, hanya untuk bersenang-senang saja, lumba-lumba itu disuruh joget dangdut" kata dia.

Jika memang ada keinginan untuk memberikan pengetahuan bagi anak-anak sebaiknya dilakukan di alam bebas seperti di Lovina.

Femke menjelaskan pertunjukan keliling ini telah menyebabkan banyak lumba-lumba mati.

Lumba-lumba termasuk hewan yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia, seperti diatur dalam UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.

Berita terkait