Target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,8 persen

Terbaru  17 Agustus 2012 - 19:27 WIB

Menteri Bappenas Armida Alisyahbana menjelaskan alasan pemerintahkan menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen pada 2013 nanti.

Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,8 persen pada 2013 nanti, karena didasarkan pertimbangan aspek konsumsi masyarakat dan produksi, demikian Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida Alisyahbana.

"Kedua bagian ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2013," kata Armida Alisyahbana dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Perekonomian, Jumat (17/08).

Target sebesar itu, lanjutnya, juga merupakan batas bawah dari target pertumbuhan semula sebesar 6,8 hingga 7,2 persen.

Sebelumnya, dalam pidato penyampaian keterangan Pemerintah atas RUU Tentang RAPBN 2013 beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Kamis (16/08) malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2013 sebesar 6,8 persen.

Angka ini lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi di APBN Perubahan 2012 sebesar 6,5 persen.

Lebih lanjut Armida mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dilihat dari sisi konsumsi masyarakat akan naik 4,9 persen, konsumsi pemerintah sebesar 6,7 persen, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) naik 11,9 persen.

Konsumsi rumah tangga

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 nanti ditargetkan 6,8 persen.

Sementara, ekspor barang dan jasa diperkirakan naik 11,7 persen, dan impor barang dan jasa naik 13,3 persen.

Adapun dari sisi produksi, menurutnya, Indonesia cukup berbangga karena pertumbuhan ekonominya mencapai 6,4 persen pada kuartal kedua 2012.

"Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi. Namun, sektor pertanian menjadi kontributor tertinggi ke pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut, yaitu sebesar 3,7 persen," ungkap Armida.

Agar target pertumbuhan ekonomi tahun depan itu terealisasi, demikian Armida, pemerintah akan memprioritaskan pada surplus produksi padi agar dapat naik sebesar 4 persen.

"Kemarin sektor pertanian sudah bisa tumbuh 4 persen. Harapannya bisa dijaga minimal 3,7 persen. Ini dilakukan agar pertumbuhan ekonomi kita juga tinggi," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan, semua sektor itu akan dijaga pertumbuhannya. Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen di tahun depan akan dengan mudah tercapai.

"Meski pertumbuhan ekonomi dipatok cukup tinggi, kita akan terus jaga nilai inflasinya," tandas Hatta Radjasa.

Penyehatan fiskal

Dalam keterangan tertulis Kementerian Keuangan, Pemerintah Indonesia akan mendorong penyehatan fiskal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan.

"Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi. Namun, sektor pertanian menjadi kontributor tertinggi ke pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut, yaitu sebesar 3,7 persen."

Menteri Bappenas Armida Alisyahbana.

Kebijakan fiskal ini ditempuh untuk mendorong stimulus agar memacu pertumbuhan ekonomi dan menjaga APBN yang sehat, demikian keterangan pers Kemenkeu.

Disebutkan ada dua starategi yang akan ditempuh pemerintah, "yaitu mengendalikan defisit anggaran pada tingkat yang aman dan mendorong peran APBN sebagai stimulus pembangunan."

Adapun untuk menjaga kesehatan fiskal, Kemenkeu akan menurunkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto dalam batas yang manageable.

"Sasaran itu akan dicapai melalui upaya pengembangan secara optimal sumber pendapatan negara dengan tetap menjaga iklim dunia usaha."

Sedangkan untuk mendorong peran APBN sebagai stimulus pembangunan, kualitas belanja negara ditingkatkan dengan melakukan efisiensi berbagai jenis belanja tidak produktif, serta menghilangkan sumber kebocoran anggaran.

Upaya lainnya, lanjut Kemenkeu, yaitu memperlancar penyerapan anggaran, serta meningkatkan anggaran infrastruktur secara signifikan.

PNPB turun

Demi menyesuaikan harga minyak dan lifting minyak dunia, Menteri Keuangan Agus Matowardojo menyatakan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada RAPBN 2013 akan turun tipis.

"Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro, ada penyesuaian di sisi harga minyak dan lifiting gas."

Menteri Keuangan Agus Martowardojo

PNBP pada tahun depan, ungkapnya, akan turun 4,9 persen dari Rp 341,1 triliun menjadi Rp 324,3 triliun. .

"Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro, ada penyesuaian di sisi harga minyak dan lifiting gas," kata Agus dalam jumpa pers, Jumat (17/08).

Pada 2012, APBNP untuk harga minyak sebesar 105 dollar AS per barel, sedangkan RAPBN 2013 diasumsikan sebesar 100 dollar AS per barel.

Sementara harga lifting minyak cenderung diturunkan dari 930 ribu dollar AS per hari menjadi 900 ribu dollar AS per hari, katanya.

Di sisi lain, penerimaan pendapatan dalam negeri di tahun depan ditargetkan naik 10,7 persen dari Rp 1.357,4 triliun menjadi Rp 1.503,3 triliun. Penerimaan itu banyak dikontribusikan oleh penerimaan perpajakan sebesar 16 persen dari Rp 1.016,2 triliun menjadi Rp 1.178,9 triliun.

Dengan pendapatan dalam negeri tersebut, pendapatan negara di tahun depan ditargetkan naik 11 persen dari Rp 1.358,2 triliun menjadi Rp 1.507,7 triliun.

"Penerimaan perpajakan ini memberikan kontribusi sebesar 78,4 persen terhadap penerimaan dalam negeri," jelas Agus Martowardojo

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.