Peristiwa Sampang: Pemerintah belum pastikan nasib warga

Terbaru  27 Agustus 2012 - 13:26 WIB
sby

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan intelijen lokal belum maksimal

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rapat kabinet terbatas, Selasa (27/08), mengatakan peristiwa penyerangan terhadap pengikut Syiah di Sampang, Madura, semestinya sudah bisa dideteksi jika intelijen bekerja optimal.

Pemerintah juga sejauh ini belum dapat memberikan kepastian apakah warga Syiah yang menjadi korban penyerangan bisa kembali dan membangun kembali tempat tinggal mereka yang habis terbakar.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan pemerintah masih harus mengkaji sejumlah kemungkinan termasuk kembali menempatkan korban penyerangan.

"Saya akan dalami ini dulu mana yang lebih ideal apakah tetap tinggal di situ atau relokasi nanti malam kita bahas di Surabaya," kata Gamawan seusai menghairi rapat terbatas dengan Presiden Yudhoyono.

Akibat penyerangan tersebut Kepolisian Indonesia menyebut ada dua warga yang tewas sementara 16 orang lainnya luka-luka termasuk satu perwira polisi setempat.

Koordinator Advokasi Kasus Penyerangan di Sampang, Hertasning Ichlas meminta pemerintah bertindak tegas terhadap para pelaku penyerangan dan melindungi hak warga korban untuk bisa kembali ke tempat tinggal mereka.

"Selama ini kalau ada penyerangan, yang direlokasi adalah korban padahal siapa pelakunya sudah sangat jelas," kata Ichlas.

Sejauh ini Kepolisian Indonesia mengatakan sudah menangkap tujuh orang pelaku penyerangan termasuk satu penggeraknya berinisial R.

Intelijen lemah

Presiden Yudhoyono mengatakan berulangnya kasus ini karena tidak optimalnya kerja intelijen di daerah itu.

"Intelijen lokal dalam hal ini, baik intelijen kepolisian maupun intelijen komando teritorial TNI. Mestinya kalau intelijen itu bekerja dengan benar dan baik, akan lebih bisa diantisipasi, dideteksi keganjilan yang ada diwilayah itu," kata Yudhoyono.

"Sewajibnya jajaran pemda juga melakukan antisipasi yang ril. Sehingga tidak terdadak dan terlambat melakukan respon. Demikian juga kita soroti kesiagaan dan respon polri, yang tentunya dibantu oleh TNI. Ini juga menjadi catatan."

Ini bukan penyerangan pertama yang menimpa pengikut Syiah di Sampang. Pada Desember 2011, pesantren dan rumah warga dibakar oleh kelompok massa. Pemimpin komunitas Syiah Sampang, Tajul Muluk kini mendekam di penjara karena terbukti melakukan penodaan agama.

"Saya akan dalami ini dulu mana yang lebih ideal apakah tetap tinggal di situ atau relokasi nanti malam kita bahas di Surabaya"

Gamawan Fauzi

Terkait hal ini, Yudhoyono menilai penyelesaian peristiwa Desember tidak dilakukan secara tuntas.

Dia juga mengatakan kasus Sampang merupakan permasalahan kompleks dan tidak bisa disederhanakan sebagai konflik keyakinan, karena juga merupakan konflik internal keluarga.

"Yang akhirnya saling bertautan dan karena masing masing punya pengikut, terjadilah insiden atau aksi kekerasan yang sangat kita sesalkan itu," jelas Yudhoyono.

Namun sejumlah pegiat HAM di Jakarta menilai berulangnya kasus penyerangan ini karena tidak adanya ketegasan dari pemerintah terhadap pelaku penyerangan terhadap kelompok minoritas seperti penganut Syiah.

"Tuduhan berbagai pihak bahwa kondisi Indonesia intoleran itu terbukti saat ini," kata Wakil Direktur Human Rights Working Group (HRWG), Choiril Anam.

"Sering kita ingatkan kepada pemerintah Indonesia supaya menjaga toleransi dengan melakukan tindakan hukum ketika terjadi penyerangan dan pemulihan korban juga mengevaluasi aparatur negara tapi itu tidak pernah dilakukan oleh Presiden SBY."

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.