FIFA hadiri Kongres PSSI di Palangkaraya

  • 10 Desember 2012
Image caption PSSI mengklaim KLB di Palangkaraya, Kalteng, didukung FIFA dan AFC.

PSSI tetap menggelar Kongres luar biasa, KLB, di sebuah hotel di Palangkaraya, Kalteng, Senin (10/12) siang, walaupun Polda Kalimantan Tengah mencabut izin pelaksanaannya.

Namun demikian, karena izin pelaksanaan KLB dicabut, PSSI memindahkan acara kongres ke lobi hotel tersebut.

"Kapolres tetap melarang kita mengadakan kongres, tetapi pihak FIFA tidak melarang," kata Deputi Sekjen PSSI Tondo Widodo kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Senin (10/12) siang.

Kongres yang semula akan berlangsung dua hari, akhirnya berakhir dalam waktu sekitar 30 menit.

Menurutnya, walaupun digelar di lobi, kongres itu sah karena dihadiri mayoritas anggota PSSI dan dihadiri perwakilan FIFA dan AFC.

"Kongres tidak dipengaruhi oleh tempat, yang penting dihadiri oleh peserta yang kuorum,"kata Tondo.

Dia mengklaim, kongres ini dihadiri 86 orang anggota dari 105 anggota PSSI. "Dan (perwakilan) FIFA dan AFC menyaksikan secara aktif sampai acara penutupan," jelasnya.

Sejumlah laporan menyebutkan, Polda Kalteng menabut izin pelaksanaan KLB menyusul keputusan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang menolak memberikan rekomendasi terhadap penyelenggaraan KLB PSSI tersebut.

Alasannya, menurut Pelaksana tugas Menteri Pemuda dan Olahraga, Agung Laksono, PSSI hingga hari Minggu (09/12) belum memberikan verifikasi peserta yang akan hadir dalam kongres tersebut.

Bubarkan komite bersama

Menurut Deputi Sekjen PSSI Tondo Widodo, salah-satu keputusan penting KLB di Palangkaraya adalah membatalkan kesepakatan dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia, KPSI, serta membubarkan komite bersama (Joint Committee).

Image caption Dualisme kepengurusan organisasi PSSI diyakini berdampak pada penurunan kualitas timnas Indonesia.

Kesepakatan PSSI-KPSI yang dibatalkan itu berisi kesepakatan untuk penyelesaian tiga persoalan utama: perubahan statuta, pengembalian empat anggota komite eksekutif PSSI yang dipecat dengan syarat meminta maaf dan diberi waktu satu bulan, serta upaya penyatuan liga.

KPSI adalah organisasi tandingan yang menolak keberadaan PSSI.

Sebelumnya ada upaya untuk 'mendamaikan' PSSI dan KPSI, yang antara lain ditandai kelahiran komite bersama.

Namun belakangan, menurut PSSI, komite bersama ini gagal melaksanakan mandat yang diberikan kepada mereka.

Seorang pejabat PSSI menyebutkan, salah-satu kegagalan komite bersama itu adalah tidak mampu mencegah KPSI melakukan pelanggaran, seperti membentuk tim nasional sendiri dan menghalangi para pemain membela timnas 'yang dibentuk' PSSI.

Akibat keputusan ini, menurut Tondo Widodo, maka berdampak pula pada rencana penyatuan kompetisi sepak bola liga yang digelar PSSI dan KPSI.

Penyatuan Liga ditunda

Menurutnya, hasil keputusan KLB PSSi di Palangkaraya akhirnya memutuskan kompetisi sepak bola liga (saat ini) tetap bermain sendiri-sendiri. "Baru pada tahun 2014, menjadi satu liga dibawah payung PSSI," kata Tondo.

Image caption Kongres luar biasa PSSI dihadiri perwakilan FIFA dan AFC.

Tondo menolak kekhawatiran bahwa keputusan KLB ini akan makin mempertajam dualisme kepengurusan sepak bola di Indonesia. "Seharusnya dengan KLB digelar, masalah sudah selesai," katanya.

Dia beralasan, KLB di Palangkaraya digelar oleh PSSI yang merupakan organisasi yang sah. "Kita organisasi yang disahkan, dikenal dan dilegitimasi oleh FIFA dan AFC," tandas Tondo.

"Kalau itu tidak dinyatakan sah, pastilah ketiga anggota FIFA dan AFC tidak akan mengikuti kongres PSSI yang digelar di lobi hotel," tambahnya.

Lebih lanjut Tondo mengatakan, perwakilan FIFA dan AFC yang hadir sebagai peninjau, telah merekam acara KLB dan akan membawa hasilnya ke sidang Komite Eksekutif FIFA di Tokyo, Jepang pada 14 Desember nanti.

"Mereka merekam dan melihat sendiri bagaimana situasi dan kondisi KLB," ungkapnya.

PSSI sebelumnya diwajibkan FIFA untuk menggelar kongres pada tanggal 10 Desember untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia.

Federasi sepakbola dunia itu mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia jika penyelenggaraan kongres itu gagal digelar oleh PSSI.

Berita terkait