Parpol lakukan 'segala cara' untuk cari kader

Iklan Gerindra
Image caption Parpol menjanjikan imbalan kedudukan hingga modal uang demi mendapat kader.

Beberapa hari setelah dinyatakan resmi lolos proses verifikasi partai politik versi KPU, sejumlah partai politik makin menggiatkan aktivitas menjaring dukungan mencari suara.

Harian Kompas, Tempo, serta situs berita Detik.com antara lain menjadi sasaran Partai Gerindra yang memasang iklan besar untuk mendapat dukungan pemilih 2014 di tingkat nasional. Gerindra menjual slogan 'Gerindra menang Prabowo presiden' untuk menarik suara.

Satu-satunya partai baru dalam pemilu 2014, Nasional Demokrat, lebih agresif dengan lebih dulu secara terbuka menawarkan 'modal' antara Rp5-10 miliar rupiah untuk caleg yang akan maju dalam pemilu.

"Pasti partai berlomba-lomba bergerak cepat karena waktunya mepet sementara stok (kader) sangat terbatas," kata Umar Bakry dari Lembaga Survey Nasional.

Sikap Gerindra maupun Nasdem menurut Umar menunjukkan bahwa pola rekrutmen partai politik belum berubah sejak era reformasi dimulai dimana yang dicari sekedar vote getter bukan caleg berkualitas.

"Maunya dua-duanya, tetapi kan vote getter tidak selalu kader berkualitas, begitu pula sebaliknya. Karena pertimbangan utama adalah jangka pendek yang pemilu tahun depan, ya sudah segala cara dilakukan untuk cari calon penarik suara itu," tambahnya.

Pengamat politik yang juga Direktur Lembaga Survey Indonesia Dodi Ambardhi, sependapat.

"Mereka kurang kader internal dan ini berarti kegagalan kaderisasi," kata Dodi.

'Caleg terbuka'

Upaya merekrut kader makin intensif karena pada Januari ini, partai politik sudah harus menyerahkan Daftar Caleg Sementara (DCS) kepada KPU.

Image caption Angelina Sondakh juga maju dari jalur artis lewat Partai Demokrat namun tersandung kasus korupsi.

Karena itu pengamat memperkirakan upaya menjaring dukungan lewat media terbuka dalam pekan-pekan mendatang akan makin gencar digelar partai politik.

"Karena rekrutmen terbuka itu dipandang sebagai upaya memperluas basis, dengan memanfaatkan wilayah luar organisasi,"kata Dodi.

Soal berhasil atau tidak, bisa jadi hal lain. Dengan beriklan di media yang dianggap terpelajar (seperti pembaca Kompas dan Tempo), menurut Dodi partai bisa setidaknya melakukan seleksi tak langsung.

"Tapi tetap saja, kesamaan ide dan cara pandang kader dan partai belum tentu sama."

Rekrutmen dengan sasaran caleg figur publik juga masih gencar dilakukan partai.

Sejumlah pengurus Partai Amanat Nasional seperti dimuat media mengakui menempatkan nama Marissa Haque, Ikang Fauzi, serta Desi Ratnasari dalam DCS mereka untuk pemilu 2014. PAN, sempat disindir sebagai 'Partai Artis Nasional', rupanya hendak meneruskan tradisi pemilu lima tahun lalu meloloskan sejumlah pesohor hiburan ke Senayan.

Begitu pula PDIP yang memasukkan nama Suti Karno, Yessy Gusman, penyanyi asal Papua Edo Kondologit, pembawa acara televisi Nico Siahaan dan Sonny Tulung dalam DCS mereka.

Bahkan penyanyi kontroversial Syahrini serta mantan bintang film Ayu Azhari dikabarkan banyak diminati parpol.

"Ini karena persaingannya makin ketat, kalau kader tak berkualitas, terus vote getter juga tidak ada, ya parpol pasti kalah," kata Umar Bakry yang juga ketua Asosiasi Riset Opini Publik.

Untuk memaksa partai memenuhi keinginan publik menganai caleg berkualitas, menurut Umar tak ada cara lain selain terus memberi tekanan.

"Terus saja tekan parpol lewat berbagai cara kalau era caleg tak berkualitas harus sudah lewat."

Berita terkait