Dunia usaha klaim rugi triliunan akibat banjir

Korban banjir
Image caption Tempat usaha kecil-menengah sampai hari ketiga banjir di Jakarta banyak yang memilih tutup.

Pengusaha mengklaim menderita kerugian hingga triliunan rupiah akibat banjir besar terakhir di Jakarta dan sekitarnya dalam empat hari terakhir sejak Kamis (17/1) lalu.

Kerugian antara lain disebut berasal dari rantai distribusi barang yang terhambat, stok produk yang musnah atau rusak akibat terendam air, gerai usaha yang tutup, produksi berhenti akibat tidak adanya pasokan listrik, pembayaran gaji tambahan untuk pekerja yang terpaksa libur saat banjir, hingga kerusakan gedung dan kendaraan.

"Memang akan ada asuransi, tetapi tidak semuanya. Kerugian tetap sangat besar dan saya perkirakan lebih besar karena kali ini justru terjadi di tengah kota pusat perkantoran, perdagangan dan transaksi bisnis," kata Ketua Asosisasi Pengusaha Indonesia, Apindo, Sofyan Wanandi.

Menurut Sofyan, asosiasi yang dipimpinnya menaksir angka kerugian akibat banjir kali ini mencapai lebih dari Rp1 triliun.

"Paling utama pusat perdagangan, 60% di Indonesia ada di Jakarta. Lalu kerugian akibat kerusakan material akibat tergenang air, produksi tidak jalan karena listrik padam, kemudian harus bayar karyawan padahal mereka libur terus untuk kejar target produksi nanti harus kasih biaya lembur," kata Sofyan.

Hitungan lain kerugian datang dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI) yang mengklaim pengusaha rugi sampai Rp300 miliar per hari untuk industri makanan dan minuman.

Menurut Ketua GAPPMI Franky Sibarani, kerugian sebesar itu berasal dari hitungan kerugian skala kecil hingga besar.

"Pedagang makanan-minuman itu di Jakarta sekitar 15% dari keseluruhan pedagang pasar jumlah sekitar 100 ribu orang. Anggap saja sehari 60% dari mereka kena dampak banjir dan harus kehilangan Rp1 juta akibat bencana ini. Itu saja sudah Rp150 miliar kan, belum dari sektor lain," kata Franky.

Di tambah dengan komponen pengusaha retail nontradisional dan produsen makanan-minuman, Franky menilai kerugian justru bisa lebih banyak.

Klaim naik pesat

Kerugian akibat banjir bukan hal baru bagi pengusaha, namun menurut Franky Sibarani, pukulan sangat terasa untuk pengusaha makanan-minuman.

"Industri makanan-minuman itu rigid sekali, barang harus dikirim ke depo kemudian distribusi lanjut dengan mobil atau motor. Kalau sampai terjadi kemacetan satu-dua jam, itu dampaknya bisa panjang sekali. Apalagi kalau sampai ada kabar menyebut situasi banjir lebih parah tanggal 26 (Januari)," keluhnya.

Taksiran yang lebih moderat diberikan oleh Tutum Ruhanta dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) yang menyebut kerugian akibat banjir mencapai puluhan miliar saja.

Anggota Aprindo dari kelas mini sampai hyper market di kawasan Jakarta, menurut Tutum, umumnya mengalami dua jenis kerugian: akibat barang rusak terendam banjir serta toko (baik milik sendiri maupun di pusat belanja) yang harus tutup.

"Kami masih coba himpun datanya, tapi sepintas kami dapat informasi itu tidak banyak. Tapi yang justru jadi korban itu kan konsumen saja, sudah kebanjiran cari barang susah pula, itu lebih penting," kata Tutum.

Namun sulit untuk mengecek kebenaran berbagai klaim ini karena tak ada data pembanding tersedia. Pejabat pemerintah sejauh ini menyebut mereka juga masih menghitung data kerugian banjir kali ini.

Hitungan kerugian paling nyata akibat banjir barangkali akan paling mudah dilihat dari klaim asuransi yang diajukan konsumen.

Pada peristiwa banjir besar di Jakarta tahun 2002 klaim banjir total untuk rumah, kendaraan, perkantoran sampai pabrik, menurut Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, mencapai Rp 1,5 triliun.

Lima tahun kemudian banjir besar kembali menggempur Jakarta dan klaim naik menjadi Rp 2,1 triliun.

"Kami juga belum tahu tahun ini seperti apa, tapi rasanya akan lebih banyak mengingat pusatnya justru di wilayah perkotaan," kata Iwan Pranoto dari Asuransi Astra.

Astra yang menyediakan asuransi kendaraan bermotor dalam empat hari terakhir sampai siang tadi sudah menerima hampir 150 klaim permintaan bantuan darurat akibat mogok, terendam maupun masalah lain.

"Ini kira-kira 10 kali lipat klaim kondisi normal," tambah Iwan.

Berita terkait