Polda Sulteng tindaklanjuti video penyiksaan

  • 4 Maret 2013
Image caption Pasukan elit Densus 88 dalam operasi pengejaran terduga teroris di Poso.

Polda Sulteng dan tim Mabes Polri terus menyelidiki dugaan keterlibatan belasan anggota Polda Sulteng dalam kasus penyiksaan terhadap warga sipil, seperti yang terekam dalam video yang beredar di masyarakat.

"Kita sedang mengecek apakah betul itu terjadi (di Poso, Sulteng) ataukah di tempat lain," kata Kahumas Polda Sulteng, AKBP Sumarno, dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Senin(04/02) siang.

Menurutnya, selain mengecek video tersebut, pihaknya juga meminta keterangan para saksi serta akan mendatangi lokasi yang disebut-sebut sebagai tempat penyiksaan.

Diunggah di Youtube, Video berdurasi sekitar 5 menit itu memperlihatkan sejumlah anggota polisi bersenjata lengkap tengah menginterogasi beberapa orang warga sipil yang tertelungkup di rumput dalam posisi tangannya terikat ke belakang.

Dugaan tindak kekerasan oleh aparat polisi ini sebelumnya diprotes keras oleh sejumlah ormas Islam, yang ditandai kedatangan mereka ke Mabes Polri, Kamis (28/02) lalu.

Dipimpin oleh Dien Syamsudin, tim gabungan Ormas Islam mendatangi Mabes Polri dan meminta agar Kapolri menindaklanjuti dugaan kekerasan yang dilakukan anggota polisi terhadap warga sipil.

Belum tentu Densus 88

Walaupun tuduhan semula mengarah pada pasukan elit Densus 88, hasil penyelidikan tim Mabes Polri sejauh ini belum mengarah kepada Densus 88.

"Belum tentu dilakukan Densus 88," kata Kahumas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar, Senin (04/02) di Jakarta, seperti dilaporkan sejumlah media di Indonesia.

Namun demikian, Boy Rafli membenarkan bahwa peristiwa yang terekam di video itu terjadi pada 2007 lalu.

"Jadi (terjadi) tahun 2007, di Poso ada kegiatan penegakan hukum," katanya.

Sementara, Kahumas Polda Sulteng, AKBP Sumarno menyatakan: "Kalau itu terbukti (melibatkan anggota Polda Sulteng atau Polres Poso), itu oknum. Tidak setiap kegiatan pasti terjadi penyiksaan seperti itu".

"Itu 'kan kasuistis," tandas Sumarno.

Berita terkait