Polisi periksa puluhan saksi kasus penyerangan LP Cebongan

  • 24 Maret 2013
Polisi
Image caption Polisi mengatakan Yogyakarta berada dalam kondisi aman pasca persitiwa penyerangan.

Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta telah memeriksa lebih dari 40 saksi mata untuk mengungkap kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan di Sleman yang menewaskan empat orang tahanan.

Polisi mengatakan masih belum bisa menemukan titik terang terkait kelompok pelaku penyerangan yang menggunakan senjata api pada hari Sabtu (23/03) dinihari lalu.

"Kami telah memeriksa sekitar 45 saksi yang terdiri dari sipir serta napi yang saat penyerangan LP tersebut," kata Kepala Bidang Humas Polda DIY, AKBP Ani Pujiastuti kepada Wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho hari Minggu (24/03).

"Kita belum berani menyimpulkan kelompok mana yang terlibat semuanya masih didalami dengan kerja penyelidikan yang profesional."

Polisi mengakui hilangnya hasil rekaman CCTV yang ada di gedung lembaga pemasyarakatan itu membuat polisi kesulitan dalam menemukan pelaku.

"Agak menyulitkan tapi polisi tidak patah semangat karena ada keterangan dari saksi."

Ani mengatakan selain telah melakukan proses pemeriksaan terhadap para saksi, proses otopsi terhadap empat orang yang tewas dalam aksi serangan itu juga telah selesai dilakukan dan hasilnya akan diketahui pada pekan depan.

Penjagaan polisi

Penjagaan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Cebongan dan Asrama Mahasiswa NTT di Yogyakarta yang biasa dijadikan lokasi berkumpulnya beberapa korban penyerangan juga masih dilakukan oleh petugas kepolisian.

Sebelumnya belasan orang bersenjata melakukan penyerangan ke LP Cebongan dan menewaskan empat tahanan masing-masing bernama Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan Mambait, dan Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu.

Keempat orang yang tewas itu merupakan tahanan polisi dalam kasus penganiayaan dan pembunuhan terhadap anggota Kopassus, Sersan Satu Santoso.

Sesaat setalah peristiwa penyerangan LP Cebongan, Panglima Kodam IV Diponegoro, Mayor Jenderal Hardiono Sarojo membantah pelaku penyerangan tersebut adalah anggota Kopassus.

"Penyerangan dilakukan oleh orang tidak dikenal," katanya kepada sejumlah wartawan untuk menanggapi kecurigaan keterlibatan anggotanya dalam peristiwa itu.

Sementara di Jakarta, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto telah memerintahkan kepada Panglima TNI dan Kepolisian Indonesia untuk mengusut kejadian tersebut dan menindak tegas pelakunya.

Berita terkait