Harga gas Tangguh diputuskan akhir Juni

lng
Image caption Gas alam Tangguh dijual ke Fujian, Cina, dengan harga jual jauh di bawah rata-rata.

Pemerintah menargetkan sudah bisa menentukan harga jual baru untuk gas alam Tangguh di Papua Barat ke Provinsi Fujian, Cina, pada akhir Juni tahun ini.

"Harga barunya diperkirakan sudah diputuskan akhir Juni nanti karena akhir bulan ini tim dari kami baru akan berangkat ke Cina terkait proses renegosiasi ini," kata kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (13/05).

Dengan adanya negosiasi ulang ini, harga jual yang ditawarkan oleh Indonesia akan berada pada kisaran US$7-11 per per juta british thermal unit (mmbtu), jauh lebih tinggi dari harga jual sekarang yaitu US$3,34 per mmbtu.

Menurutnya, dalam renegosiasi itu pemerintah akan mengusulkan untuk menghapus harga batas atas (capping) yang membuat harga jual gas ke Cina jauh lebih rendah dibandingkan harga jual di dalam negeri.

Gas alam Tangguh dijual ke Fujian seharga US$3,34 per mmbtu dengan harga batas atas minyak sebesar US$38 per barel yang telah ditentukan pada kesepakatan sebelumnya.

Sementara itu, harga minyak saat ini sudah jauh lebih tinggi dari harga yang ditentukan pada saat itu.

"Harga batas atas inilah yang sedang dinegosiasi untuk dihilangkan," kata Rudi.

Menurutnya, dengan tidak adanya harga batas atas tersebut, maka harga jual minyak bisa meningkat. "Misalnya harga minyak hari ini US$100 (per barel) maka harganya bisa jadi US$7 per mmbtu. Jadi nomor satu wajib cappingnya dibuang."

'Mungkin tapi sulit'

Sementara itu, pengamat energi dari Kiroyan Partners, Anang Rizkani Noor mengatakan bahwa renegosiasi ini mungkin saja dilakukan.

Akan tetapi dengan kondisi seperti sekarang ini dimana jumlah penjual lebih banyak dari pembeli, hal ini menurut Anang akan sulit dilakukan.

"Kalau sekarang pembeli yang menentukan harga karena supply-nya banyak. Berat kalau kita mintanya sekarang," kata Anang.

Menurutnya, saat ini terdapat banyak produsen gas alam seperti Qatar dan Rusia. Ditambah lagi, Amerika Serikat sudah mulai memproduksi gas alam sendiri sehingga akan banyak gas yang tidak terserap ke sana.

Meski demikian Anang menilai tidak menutup kemungkinan kesepakatan negosiasi ulang mengenai harga gas alam Tangguh bisa tercapai.

LNG Tangguh adalah mega-proyek kilang LNG untuk menampung gas alam yang berasal dari beberapa Blok di sekitar Teluk Bintuni, Papua Barat seperti Blok Berau, Blok Wiriagar dan Blok Muturi. Sementara itu, pembeli di Fujian adalah China National Offshore Oil Corporation (CNOOC).

Kontrak gas Tangguh ke Provinsi Fujian ditandatangani pada tahun 2002 pada masa kepemimpinan Presiden Megawati. Saat itu Indonesia berkomitmen memasok gas mulai 2009 sebesar 2,6 juta ton per tahun, selama 20 tahun.

Harga jual gas yang disepakati saat itu sangat rendah, yaitu 2,4 dollar AS per ton. Di tahun 2008, Wakil Presiden Jusuf Kalla menemui Presiden Cina Hu Jintau dan Wapres China Xi Jinping untuk mengevaluasi proyek tersebut.

Berita terkait