Polisi masih selidiki pemilik ribuan detonator

  • 10 Juni 2013
densus88
Image caption Densus 88 diminta terlibat menyelidiki kasus pemilikan 4.000 detonator di Parepare.

Polres Parepare, Sumatera Selatan, mengkaji keterkaitan pemilik 4.000 detonator untuk menangkap ikan dengan kelompok teroris.

Kapolres Parepare, AKBP Himawan Sugeha, mengatakan kepada BBC Indonesia hari Senin (10/06) bahwa tersangka yang berinisial J mengaku akan mengirim detonator itu ke salah seorang bos pengepul ikan di Makassar.

Ia mengatakan bahwa detonator sering digunakan para nelayan untuk menangkap ikan secara ilegal. Namun dengan jumlah sebanyak itu tidak menutup kemungkinan adanya indikasi keterlibatan tersangka dengan kelompok terorisme.

"Memang kita perlu mencurigai adanya indikasi lain karena jumlah yang demikian besar itu sepertinya terlalu banyak kalau untuk menangkap ikan," kata Himawan kepada Wartawan BBC Indonesia, Arti Ekasari.

Untuk menyelidiki kemungkinan ini, Polres Parepare bekerja sama dengan satuan tugas antiteror, Densus 88, dan Brimob Polda Sumatera Selatan.

"Mungkin densus dengan teknologi mereka dapat melacak adanya komunikasi-komunikasi tertentu antara para pelaku dengan jaringan teror," jelasnya.

Laporan warga

Pria itu ditangkap pada Jumat (07/06) lalu berdasarkan informasi dari masyarakat yang melaporkan adanya pengiriman bahan peledak ilegal yang diduga berasal dari daerah perbatasan Kalimantan Timur dan Malaysia.

Detonator itu ditemukan di dalam dua buah dus yang berisi 40 dus kecil dan masing-basing berisi 100 buah detonator.

Untuk sementara tersangka dikenakan undang-undang kepemilikan bahan peledak ilegal dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.

Hingga saat ini baru satu orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara pihak lain yang terlibat dalam kasus ini masih dimintai keterangan.

Berdasarkan penyelidikan polisi, tersangka tidak memiliki catatan yang berkaitan dengan kelompok teroris manapun. Meski demikian, polisi masih terus mengkaji kemungkinan ini.

Berita terkait