Pengungsi Rohingya terdampar di YLBHI

Image caption Di hari pertama Ramadhan, seorang pengungsi Rohingya menjalankan ibadah Shalat Dhohor di Kantor YLBHI.

Bermimpi untuk hidup lebih baik di Australia, delapan belas orang pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar, hidup terlunta-lunta di Jakarta, sebelum akhirnya ditampung di kantor YLBHI Jakarta, sejak Sabtu (06/07) lalu.

Sejak sekitar enam bulan lalu, para pengungsi yang sebagian besar terdiri anak-anak dan perempuan dewasa ini, terlunta-lunta di Medan, Bogor dan Jakarta.

Mereka juga mengaku ditipu sekitar seratus juta Rupiah oleh seseorang yang menjanjikan akan membawa mereka ke Australia.

Pimpinan Yayasan Lembaga Bantuan hukum Indonesia, YLBHI, berjanji untuk menjadi semacam mediator dengan Badan PBB yang menangani permasalahan pengungsi, UNHCR, dan Imigrasi Indonesia untuk memperjelas nasib mereka.

"Setelah identifikasi (terhadap para pengungsi) dilakukan, kami akan mencoba menindaklanjuti dengan menghubungi PBB. Kita akan meminta penjelasan pasti tentang tindakan yang bisa dilakukan PBB untuk melindungi mereka agar memperoleh perlakuan yang lebih layak," kata Wakil Ketua YLBHI, Gatot Rianto, Rabu (10/07) siang, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

YLBHI juga berjanji akan menghubungi Kementerian Hukum dan HAM, yaitu Dirjen Keimigrasian. "Saya kira mereka tidak bisa lepas tangan tentang permasalahan seperti ini," kata Gatot, saat menemui para pengungsi.

Ditanya sampai kapan YLBI akan menampung para pengungsi etnis Rohingya-Myanmar, Gatot mengatakan "tidak ada batas waktu."

Memperbaiki nasib

"Kami mau ke Australia. Itu yang penting buat kami. Tujuannya, kami mau pilih masa depan anak-anak kami," kata Mohammad Hanif, salah-seorang pengungsi yang sering menjadi juru bicara, tentang tujuan mereka meninggalkan Myanmar.

Image caption Diantara delapan belas pengungsi Rohingya, ada tiga balita yang ikut dalam perjalanan ilegal yang berbahaya ini.

Hanif, yang berusia 38 tahun, mampu berbahasa Indonesia karena mengaku telah lama tinggal di Malaysia.

Hanif dan 17 orang sanak saudaranya - yang terdiri tiga pria dewasa, tujuh anak kecil dan enam perempuan dewasa - menempuh jalan ilegal untuk menuju Australia.

Demi impian itu, mereka melakukan perjalanan darat melalui 'jalur tikus' ke Malaysia, sebelum naik kapal ke Sumatera Utara dan menuju Medan.

Di Medan, Hanif mengaku bertemu seseorang yang berjanji dapat membawa mereka berangkat ke Australia. "Kami setuju dengan caranya. Dia minta uang 5 ribu RM (Ringgit Malaysia) untuk setiap orang," ungkap Hanif.

Hanya mampu membayar secara keseluruhan 42 ribu RM, Hanif dan sanak-saudaranya memulai perjalanan berikutnya ke Jakarta.

"Lalu kami dibawa ke bogor, dan tinggal dua bulan di sana. Tapi kami kemudian diserahkan kepada orang lain. Mereka lepas tangan," kata Hanif, sambil terisak.

Dalam keadaan terhimpit secara ekonomi, Hanif kemudian ditolong seseorang. Dia kemudian menghubungi Badan PBB yang mengurusi persoalan pengungsi, UNHCR, di Jakarta.

"Pihak UNCHR mengatakan masih mengklarifikasi status penggungsi kami, apakah betul kami ini adalah pengungsi Rohingya," kata Hanif, seraya menunjukkan dokumen status pengungsi dari kantor UNHCR di Malaysia.

Dia berharap, UNHCR dapat membantu mempercepat keberangkatan mereka ke Australia.

Ditanya apabila ada opsi mereka akan dikembalikan ke Myanmar, wajah Hanif berubah menjadi muram.

"Kalau balik ke Myanmar, kami lebih baik mati. Sebab, kami sudah 30 tahun lebih, tidak ada kebaikan untuk orang Islam di Myanmar. Jadi mustahil kami kembali ke Myanmar!"

Berita terkait