Pengelola kafe Nazi menutup usahanya

Image caption Kafe 'Soldatenkafee' akhirnya ditutup oleh pemiliknya.

Pemerintah Kota Bandung telah menginstruksikan agar pemilik Soldatenkaffee mencopot semua atribut yang terkait dengan Partai Nazi di dalam kafe tersebut.

Keputusan ini diambil dalam pertemuan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Herry M Djauhari dengan pemilik kafe, Henry Mulyana, Senin (22/07 kemarin, kata wartawan di Bandung, Julia Alazka.

"Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung, Herry M Djauhari, telah menginstruksikan agar pemilik kafe mencopotnya," kata Julia Alazka kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Selasa (23/07) sore.

Semenjak kafenya diberitakan dan mendapat sorotan masyarakat, Henry Mulyana dipanggil Pemkot Bandung untuk mengklarifikasi maksud dan tujuan pemasangan segala atribut terkait Partai Nazi di kafe miliknya.

"Henry Mulyana datang didamping kuasa hukumnya, tetapi pertemuannya cuma sebentar 15 menit. Intinya dia menjelaskan maksud dan tujuannya," kata Julia.

Menurut Herry M Djauhari, seperti ditirukan Julia Alazka, pihaknya menginstruksikan pencopotan simbol-simbol Nazi di kafe milik Henry, karena "simbol Nazi di kafe itu bisa menimbulkan polemik dunia internasional kepada Indonesia, meskipun Soldatenkaffee tidak melanggar aturan, karena di Indonesia belum ada aturan yang melarang simbol Nazi," jelas Julia.

Kafe tutup

Akibat pemberitaan yang mengaitkan Soldatenkaffe sebagai kafe Nazi, menurut Julia Alazka, Henry memutuskan menutup kafe yang baru berdiri selama dua tahun itu.

BBC Indonesia berulangkali mengontak pengelola kafe, Henry Mulyana, namun sejauh ini belum mendapatkan tanggapan.

Namun menurut Julia, sejak Sabtu (20/07) lalu, Henry telah mencopot semua atribut yang terpasang di kafenya, seperti bendera berlambang Nazi dan foto Adolf Hitler.

Dia juga menutup kafenya semenjak pemberitaan mencuat, serta meliburkan empat orang karyawannya.

"Saat saya datang ke kafenya pada Sabtu, sudah polos, kosong (tanpa atribut Nazi). Kafenya juga ditutup semenjak kafenya diberitakan. Tapi menurut kuasa hukumnya, penutupan ini dilakukan juga karena masa sewanya mau habis," jelas Julia.

"Mereka mau pindah ke tempat baru, tetapi seperti apa konsepnya, kuasa hukumnya mengaku belum tahu," imbuhnya.

Bukan ideologi

Dalam jumpa pers Sabtu lalu, Henry menyatakan, pemasangan simbol Nazi dan atribut lainnya yang erat dengan militer Jerman, itu terkait dengan tema yang diusungnya yaitu seni kontemporer yang mengangkat tema perang dunia kedua dari sisi Jerman.

"Perlu digarisbawahi ini adalah Seni. Bukan ideologi, apalagi ekstrimisme dan rasialisme," tandas Henry.

Henry juga kembali menegaskan tidak ada sedikitpun maksud dan tujuan dari pendirian kafenya yang berhubungan dengan ideologi ekstrim, rasialisme, apalagi sampai penghasutan kebencian.

Berdasarkan pengamatan Julia Alazka, sebelum dicopot, kafe itu antara lain memasang foto pemimpin Partai Nazi Adolf Hitler, serta logo atau atribut lainnya yang selama ini terkait dengan Partai Nazi.

Restoran atau kafe bertema Nazi sebenarnya bukan hal baru karena sudah ada di beberapa negara antara lain di India dan Korea Selatan, meski menuai protes keras dari sejumlah kalangan terutama warga negara asing yang tinggal di sana.

Di sebuah restoran di Jakarta, juga pernah ada kritikan terhadap pemasangan lukisan sosok Adol Hitler tengah menyantap mie, yang belakangan dicopot oleh pemilik restorannya.

Berita terkait